Bicara tentang sepak bola di Indonesia adalah bicara tentang malapetaka. Tidak pernah ada fair play. Semuanya berantakan, mulai dari ruang ganti hingga ke tengah lapangan, mulai dari organisasi pelingkup sampai dengan penontonnya. Semuanya menjadi pemain dan menjadi penonton sekaligus. Menjadi pelatih dan pada saat yang sama menjadi ketua organisasi pelingkup. Menjadi artis, bintang iklan, politisi, dan seterusnya.
Politik kadang diikutsertakan, agama pun turut andil menggelinding ke tengah lapangan seperti bola. Kalah dan menang adalah urutan yang kesekian, merebut hati dan menjadi terkenal adalah yang pertama dan utama. Bola yang seharusnya disepak, yang berada di area di bawah lutut, kaki, justru berputar-putar di kepala. Bola berpikir, membuat pusing sampai-sampai tujuan utamanya tidak pernah terjadi.
Di sepak bola kita, permainan digelar adalah karena pertengkaran-pertengkaran. Yang satu menuding yang lain sebagai pecundang, sementara yang lainnya membalas menuding sebagai pengkhianat. Tidak ada yang netral. Kalau pun disebut netral, belum tentu tentu sempurna. Karena netral adalah kata lain untuk menjilat dan dijilat.
Jika Albert Camus masih hidup, dia akan menggeleng-geleng kepala, jika tidak tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan sepak bola kita. Mengapa tidak? Seharusnya tujuan sepak bola adalah gol. Tetapi yang terjadi adalah perseteruan merebut hati, menjadi terkenal, adu domba dan kerusuhan. Akhirnya gol tidak tercipta, karena sepak bola kita masih bermain-main di luar lapangan. Masih berkutat melawan malapetaka.
Pendeknya, sepak bola seharusnya menjadi rumit sekaligus asyik. Tetapi di negeri kita, sepak bola adalah sesuatu yang rumit dan melulu rumit. Sebab sepak bola adalah juga merupakan inisiatif, kompetisi dan konflik. Tetapi di negeri kita, sepak bola adalah kompetisi konflik dan atau berinisiatif konflik.
Jika mau jujur, sepak bola kita sebenarnya telah kehilangan roh. Sebagai sebuah permainan, sepak bola hendaknya menghadirkan kebahagiaan. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, kita dipermainkan oleh permainan itu sendiri. Bukan bola yang kita tending-sepak, tetapi bola yang menendang dan menyepak kita. Inilah malapetaka. Andaikata, sepak bola tidak dipermainkan maka tidak mungkin akan lahir malapetaka ini.
Merefleksikan tentang sepak bola kita, adalah menarik jika kita mencermati kata-kata filsuf dan rohaniwan, Nikolaus Driyarkara berikut ini: “Bermainlah dalam permainan tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi. Mainlah dengan eros, tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Mainlah dengan agon tetapi jangan mau dipermainkan agon. Barang siapa mempermainkan permainan, akan menjadi permainan permainan. Bermainlah untuk bahagia tetapi janganlah mempermainkan bahagia”
Pertandingan Sepak Bola Para Filsuf
Pertandingan Sepak Bola Para Filsuf (Inggris: The Philosophers’ Football Match) adalah sebuah sketsa komedi Monty Python’s Fliegender Zirkus dan kemudian bagian dari Monty Python Live at the Hollywood Bowl.
Sketsa lawakan ini menggambarkan pertandingan sepak bola antara para filsuf yang mewakili Yunani dan Jerman, termasuk Plato, Sokrates, dan Aristoteles pada tim nasional Yunani dan Heidegger, Marx, dan Nietzsche pada tim nasional Jerman. Namun bukannya bermain sepak bola, para filsuf malahan berdebat dengan berpikir sembari jalan-jalan berputar-putar pada lapangan sepak bola. Hal ini menyebabkan Franz Beckenbauer, satu-satunya pemain sepak bola sungguhan yang duduk di bangku menjadi bingung (dan seorang “peserta kejutan” dalam tim Jerman, menurut komentar). Kong Hu Cu adalah wasitnya. Sementara itu Thomas Aquinas dan Santo Augustinus adalah penjaga garis.
“Socrates menciptakan satu-satunya gol dalam pertandingan tersebut pada menit ke-89, sebuah sundulan menyelam (diving header) hasil umpan Archimedes (yang mendapatkan ide untuk menggunakan sepak bola setelah berseru “Eureka!”). Tim Jerman mempersoalkan seruan itu. “Hegel berdebat dan mengatakan bahwa realitas hanyalah sebuah a priori yang berhubungan dengan etika non-alamiah, Kant, melalui kewajiban yang tegas (categorical imperative) berpendapat bahwa secara ontologis hal itu hanya ada di dalam imajinasi, dan Marx mengklaim bahwa gol itu offside. (Secara teknis, Marx benar.) Catatan: Sócrates juga merupakan nama salah seorang pemain sepak bola terkenal Brasil pada tahun 1980-an.












































1 tanggapan kepada “Daripada Bicara PSSI Lebih Baik Bicara Sepak Bola Para Filsuf”
peduli pendidikan
Februari 5th, 2011 pada 11:17
wahaahaha…memang itu yang terjadi di persepak bolaan kita…thanks atas artikelnya…