Baru saja tuntas diskusi tentang kiprah gerakan perhimpunan pemuda dan mahasiswa yang kian condong ke arah politik. Seorang sahabat mengeluhkan kiprah politis gerakan mahasiswa dan pemuda yang serupa itu. Mengapa tidak? Katanya, berdalih membangun negeri, menuntaskan amoralitas elite politik, menggonggong ketidakadilan sampai menuding lantang sikap koruptif para politisi, para pemuda dan mahasiswa sampai lupa diri. Bahwa tugas utama mereka adalah belajar dan mengembangkan kapasitas diri baik di lingkungan kampus, maupun organisasi. “Politik itu penting, tetapi bukan prioritas” katanya.

Saya sepakat. Sebetulnya, tidak dilarang dan tidak ada orang yang melarang bahwa pemuda dan mahasiswa harus lantang menggarisbawahi ketidakbecusan kebijakan politik negeri. Pun tidak dilarang dan tidak ada yang melarang pemuda dan mahasiswa harus pasang aksi, mengangkat spanduk dan berteriak revolusi.

Namun, di tengah situasi bangsa yang dilanda kerapuhan identitas, karakter dan moral karena ketimpangan politik, belum lagi dihujam bertubi oleh bencana alam, rupa-rupanya tindakan dan kegiatan politik praktis pemuda mahasiswa harus dievaluasi. Artinya, lebih bijak memilih yang terbaik dari antara sekian pilihan yang baik: membangun kapasitas diri dalam dan melalui kuliah dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa ataukah harus terjun ke gelanggang politik selanjutnya unjuk gigi teriak revolusi?

Hemat saya, memilih pasang aksi, berteriak-teriak revolusi, mengumpat dan memaki pejabat negeri, menuding-tuduh berbagai kebusukan elite politik sebagai biang dan dalang dari segala kesemrawutan, serta menambah resah situasi politik karena berbagai belitan polemik yang tidak bertepi adalah baik jika memilih untuk tenangkan diri. Jika kita sepakat untuk menggalang revolusi, adalah bijak jika kita berkiprah dalam dan melalui perubahan cara berpikir. Jika kita hendak berteriak revolusi dan menajamkan pedang untuk memenggal satu generasi (generasi tua yang koruptif dan tidak becus), adalah bijak jika kita memilih untuk membenahi diri, mematangkan pribadi, memperkaya ruang pikir, dan mengasah berulang ruang rasa melalui dan dalam kapasitas kita masing-masing.

Untuk sementara ini, dalam situasi bangsa yang serupa ‘hilang arwah kebangsaan’ pilihan untuk mengibarkan revolusi senyap adalah yang paling berarti. Sebagai pemuda dan mahasiswa, adalah baik jika kita kita galang revolusi senyap dengan dan melalui perubahan pola pikir, mematangkan pribadi, membentuk karakter pribadi, memperkaya ruang pikir dengan studi dan belajar, serta mengasah minat dan bakat dalam dan dengan kemampauan masing-masing.

Revolusi senyap adalah revolusi diri. Sebagai mana halnya revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan tubuh sosial, menjebol ketidakbecusan, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru. Revolusi senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun. Maka dari itu adalah tepat jika revolusi dalam perspektif ini dimulai dari diri sendiri.