Apakah sesungguhnya kehidupan dan hidup itu sendiri. Malam-malam kita terpulas di atas dipan. Kita rebahkan penat, menumpahkan semua kebisingan siang. Kita tidak memimpi-mimpikan apa-apa sekalipun memimpikan tentang keindahan, kemegahan dan kekuasaan. Sebab sesungguhnya mimpi adalah mimpi. Mimpi tidak pernah akan berperistiwa.
Di atas dipan, dalam tidur yang pulas, kita tidak lebih sebagai rongsokan yang bernyawa. Tidak kepada siapa kita berontak, tidak kepada apa kita bersandar. Malam itu sungguh sangat sunyi. Sunyinya luka. Darah. Lantaran itu kita meminta sudah dan sudah, agar malam berhenti menyepi. Pada malam-malam serupa itu, kita adalah mayat-mayat yang belum meninggal dunia.
Hingga malam itu menepi, menjelang pagi, fajar meninyingsing, kita terjaga dengan sigap. Seperti yang sudah selalu kita buat. Kita bentangkan rencana-rencana. Menyusun strategi. Menganyam dasar pijak. Mentari meninggi, kita kernyitkan dahi. Pada siang hari, manusia, kita adalah makhluk paling cemas dengan kekalahan, paling takut dengan kematian.
Pada siang hari kita adalah ksatria, habituasi peristiwa telah menciptakan kita sebagai mesin-mesin petarung yang tidak harus mengeluh mundur. Lantaran itu, kita harus lebih kuat dari panas matahari. Kita harus lebih tangguh dari keputusasaan debu-debu kota dan ladang. Kita harus lebih semangat dari kabut mendung. Kita harus lebih cepat dari detak detik waktu.
Pada gelanggang waktu, siang hari akan tampak lebih singkat daripada malam. Dan malam akan selalu lebih panjang. Padahal baik siang maupun malam, terbentang jarak yang sama berdurasi dua belas jam. Itulah hidup dan kehidupan, jika kita cukup mengukur dari waktu. Usia kita tidak lebih dari dua puluh empat jam. Lebih daripada itu adalah kehidupan yang lain, yaitu kubur bagi kematian yang sesungguhnya.
Kata-kata ini adalah untuk para petarung kehidupan, baik yang terlunta-terlempar dikalahkan waktu, maupun yang kuat dan tangguh menggempur-patahkan waktu. Kata-kata ini adalah awas, bukan penjeggalan asa. Pun buka pendustaan apalagi pembunuhan. Kata-kata ini adalah awas agar kita sungguh memaknai dua puluh empat jam yang ada. Sebuah durasi yang sudah diukur dengan cermat dan saksama oleh dan dalam kehidupan.
Kita tidak dapat mengelak-tampik. Selain kita harus masuk dan luluh di dalamnya. Di antara dua puluh empat jam yang terentang, kualitas kehidupan diukur. Apakah kita terlempar-terkapar ataukah keluar sebagai pemenang. Sudah seperti disebut, kehidupan adalah adalah medan pertempuran. Lantaran itu, awas itu perlu, agar kita tidak merengek meminta Tuhan menjemput-cepat nyawa dari tubuh. Padahal, Tuhan sudah memberi kita waktu. ‘Mahabaik Kau Tuhan’










































