Sebagian besar remaja kini mungkin tidak mengenal benar siapa Hamsad Rangkuti. Cerpenis kelahiran Titikuning, Medan, Sumatera Utara, 7 Mei 1943 ini memang tidak sepopuler cerpenis yang lain semisal Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono, atau cerpenis perempuan semisal Saadah Alim, Suwarsih Djojopuspito, NH Dini, Helvy Tiana Rosa, Marianne Katoppo, Leila S. Chodori, Oka Rusmini dan masih banyak lagi. Atau, mungkin juga sederetan nama ini pun sudah terdengar asing  bahkan tidak kenal sama sekali.

Sebagai misal, ketika saya mengatakan kepada salah seorang pelajar di Aceh Barat bahwa sekuplet lagu dari Samantha Band yang selalu dinyanyikannya itu “Kan kuhapus bibirnya dari bibirmu, Dengan bibirku, dengan bibirku. Kan kuhapus bibirnya dari bibirmu Dengan bibirku dengan bibirku” sebelumnya sudah dipopulerkan oleh cerpenis yang bernama Hamsad Rangkuti. Dengan dahi mengerut sang pelajar justru bertanya ‘Apakah dia penyanyi juga?”.

Dada saya terasa sesak mendengar pertanyaan itu. Bayangan saya lantas berkelebat menjumpai guru bahasa  Indonesianya yang bernama entah untuk menagih pengetahuan apa yang sudah diberikannya kepada sang pelajar. Namun sebagai sebuah bayangan, tentu saja mentah tanpa bekas. Memberi jawaban langsung pun bukan cara yang baik, saya lantas mengajaknya untuk menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan tersebut  pada halaman-halaman ‘Bibir dalam Pispot-nya’ Rangkuti (2003) “Mungkin dia penyanyi, tetapi mungkin juga bukan, jadi agar pasti baca buku ini” sambil kusodorkan buku itu kepadanya. Pelajar itu bingung. Saya pun bingung.

Di tengah kebingungan, saya mencoba mereka-reka, menduga, mengapa para pelajar kini kian asing dengan sastrawan dan juga karya-karya sastra, termasuk Rangkuti dan karyanya. Dan tentang ini, bisa jadi karena dua hal. Pertama, munculnya para novelis semisal Djenar Mahesa Ayu, Ayu Utami, Andrea Hirata dan Habiburrahman El Shirazy yang lebih populer dengan buah karya mereka baik dalam bentuk novelnya maupun dalam kemasan film layar lebar yang dipromosikan secara gencar. Tentu saja hal ini membuat ingatan remaja  pelajar kian dalam dan melekat.

Kedua adalah karena semakin dianaktirikannya sastra dari sekolah dan tidak pernah diperbindangkan secara tuntas dalam ruang kelas. Sehingga para remaja yang mayoritas pelajar tidak mengenal siapa sesungguhnya punggawa-punggawa sastra pada masa-masa sebelumnya. Tentang topic ini sebelumnya sudah saya bahas

Tapi, sudahlah, itulah fakta. Mengupas-debat tentang ini tidak akan pernah sudah, karena mungkin saja tidak hanya karena dua hal di atas, tetapi juga karena hal lain. Salah satunya adalah seperti yang dikemukakan Katrin Bandel. Menurut pengamat sastra Indonesia asal Jerman yang kini bermukin di Yogyakarta, dunia sastra Indonesia saat ini tidak bebas dari pergulatan kekuasaan. “Dunia sastra Indonesia penuh dengan permainan politik sastra” ujarnya  ketika hadir sebagai pembicara dalam Temu Sastrawan Indonesia III 2010 di Tanjung Pinang Kepulauan Riau akhir tahun lalu (Kompas, Jumat 21 Januari 2011).

Kita kembali ke soal Hamsad Rangkuti. Kendatipun (mungkin) karena alasan-alasan di atas Hamsad Rangkuti tidak menjadi familiar di telinga remaja pelajar kini, namun yang pasti bahwa sebaris kalimat yang pernah diucapkannya dan kemudian dicerpenkannya sudah kembali diperdengarkan lagi. Adalah keempat gadis cantik: Milsha (vokal), Moniq (gitar), Windy (drum), serta Keke (bas) yang tergabung dalam sebuah group music pendatang baru, Samantha Band yang kembali memekarkan ‘bibir’ Rangkuti dalam lagu mereka yang berjudul ‘Bibir’.

“Kami mungkin akan mengangkat lirik-lirik yang bernuansa sastra agar lirik lagu kami tidak hanya enak didengar musiknya tetapi juga indah liriknya” jelas Milsha ketika ditanyai alasan mengapa mengutip kalimat Rangkuti. Bagi saya pribadi, bentuk kreativitas seperti ini sungguh menginspirasi. Lantaran, tidak hanya putik dan elok didengar, tetapi juga mampu memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada generasi muda tentang sastra, walau dalam bentuk penyampaian yang berbeda. Agar sastra dan bahsa yang kian lupa dan terpinggirkan dari ruang kelas kembali diperdengarkan.

Namun sayang, ‘Bibir’-nya Samantha Band telah dianggap ‘najis’ oleh sebagian warga Negara ini. Di awal perkenalannya di pentas music tanah air, sebagian kalangan menganggap ‘bibir’  terlalu vulgar dan tidak sopan. Saya pribadi pribadi prihatin, pasalnya  lagu Bibir itu diprotes oleh Komisi Penyiaran Indonesia daerah Sulawesi Selatan. Protes KPI Sulsel itu dilayangkan ke stasiun televisi SCTV yang menayangkan lagu Bibir yang ditayangkan pada Kamis, 21 Oktober 2010 pukul 01.10 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Menurut KPI Sulsel, lirik ‘Bibir’ dianggap bertentangan dengan Peraturan KPI No.03/P/KPI/12/2009 tentang standar program siaran, khususnya pasal 9 antara lain berbunyi : ”Program siaran wajib memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan…..”

Tetapi semuanya sudah. Kontroversi itu pun mereda. Samantha Band pun kembali berkibar. Dalam suara mereka memiliki dasar yang solid dengan ditabuh drum kuat dan dinamis, bassline yang diatur dalam cara yang sangat dinamis dan groovy dan didukung oleh gitar ritme yang kuat, dibumbui dengan berat piano-driven  Bibir Rangkuti mekar kembali

“Kan ku hapus bibirnya dari bibirmu, Dengan bibirku, dengan bibirku. Kan ku hapus bibirnya dari bibirmu, Dengan bibirku dengan bibirku”.

Dari bibir mereka. Dengan bibirku. Dari bibirmu. Dari bibirmu. Dari bibirmu………………….

About these ads