http://shine-girls-photos.blogspot.com/2009/03/gisele-bundchen-ipanema-g2b-sandals-ads.html

Pada 2007, ketika Gisele Caroline Nonnenmacher Bündchen mempromosikan sandal terbarunya dengan merek namanya, dunia bagai terperanjat. Dalam dunianya, dunia fashion dan mode, tampilan perempuan  kelahiran Horizontina, Rio Grande do Sul, Brasil, 20 Juli 1980 merupakan sebuah gebrakan baru dan memiliki cita rasa seni tinggi. Pada ketika itu Bundchen mengenakan busana transparan yang dikemas sebening air sehingga lekukan tubuhnya ‘nyaris’ terlihat, sehingga mampu membersitkan imaji.

Siapa pun dari kita, se-awam apa pun pandangan kita tentang dunia seni dan mode. Bundchen dalam gaya busana transparannya menampilkan kepada kita tentang sesuatu yang indah, unik dan khas. Kekhasan dan keunikannya bukan hanya terletak pada tubuhnya yang indah sehingga melahirkan imajinasi akan hasrat yang lebih, tetapi juga pada bagaimana Bundchen menghiasi tubuhnya dengan sesuatu yang berbeda dan bahkan tidak lumrah, yakni dalam busana serupa cipratan air.

Terlepas dari sekedar sensasi dan gaya-gayaan, sesungguhnya Bundchen menyadari sungguh apa artinya tubuh bagi dirinya sendiri. Bahwa tubuhnya tidak hanya memiliki kelebihan karena bisa melahirkan imaji-imaji, tetapi juga mampu mewakili kesempurnaan keabadian. Buasana yang serupa air yang menempel pada tubuhnya tampak bukan bagian yang berdiri sendiri sekedar sebagai pelengkap, tetapi juga merupakan tubuhnya sendiri. Dan tentang ini sungguh sangat mengagumkan.

Sayangnya di negeri kita tercinta, Indonesia, seorang seniman yang berkspresi nyaris telanjang disebut sebagai pecundang. Padahal jika didalami dalam konteksnya akan melahirkan imajinasi tentang keabadian.

Catatan kecil ini tidak sedang memuji tubuh perempuan termasuk tubuh Bundchen sebagai dewi sebagaimana yang pernah dipuja Mazhab Cyrenaik. Seperti dicatat dalam perjalanan filsafat, pada mazhab tersebut, dengan tokoh utama adalah Artistipus (435-336 SM), kaum cyrenaik mengedepankan hedonisme dan kesenangan tubuh, daripada kesenangan jiwa. Bagi mereka, jiwa itu baik, tetapi tubuh jauh lebih baik lagi.

Catatan kecil ini hanya mau melihat tubuh sebagai imaji yang daripadanya melahirkan tentang keabadian. Tentu saja perspektifnya adalah keindahan. Bagiku, sebagaimana tubuh dan busana seperti yang ditampilkan Bündchen merupakan gambaran tentang arti seperti yang dimaksud. Jauh dari intepreatsi yang sekedar biologis dan atau pornografi serta apalagi eksploitasi seksual, tubuh perempuan melejitkan keterkejutan tentang lain, sesuatu yang sempurna, yang abadi. Inilah yang bagiku disebut sebagai hasrat yang lebih.

Hasrat yang lebih itu adalah tentang sesuatu yang tidak terlukiskan dengan kata, selain sebuah keterkejutan yang mengagumkan. Jika pun pada ketika Bundchen mempromosikan produknya tertulis di berbagai media bahwa dia telah tampil tanpa busana dan atau telanjang, bagiku padangan itu bukan hanya luncas, tetapi juga mencederai tubuh perempuan itu sendiri. Bundchen melakukan itu pada tempat yang tepat, kesempatan yang pas, bukan di jalan raya sambil berlari-larian.

Di sinilah kita pantas belajar bukan hanya tentang bagaimana berbusana yang benar, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai tubuh kita sendiri. Agar tubuh tidak dicederai sebagai yang jalang, hendaklah kita menampilkan diri secara tepat dan benar, tentu saja pada dan dalam situasi dan konteks yang benar. Agar cara pandang pun bisa disesuaikan dengan benar pula. Sayangnya di negeri kita tercinta Indonesia, seorang seniman yang berkspresi nyaris telanjang disebut sebagai pecundang. Padahal jika didalami dalam konteksnya akan melahirkan imajinasi tentang keabadian. Dalam arti tertentu, ekspresi seni dan keindahan di negeri ini belum sepenuhnya ikhlas diterima. Alasannya Cuma satu, miskin intepretasi tentang sesuatu yang lebih, sempurna dan abadi. Sehingga semuanya terjebak dalam ragam undang-undang yang tidak pernah rampung untuk dibahas.