Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu, atau benar-benar tidak tahu karena kura-kura tidak ada dalam perahu. Ini perbandingan yang keliru, lebih tepat disebut sebagai bukan perbandingan. Namun di negeri ini para elite politik selalu terjebak di arena itu: berpura-pura tidak tahu, walau sesungguhnya mereka tahu banyak tentang banyak hal, apalagi tentang hal-hal yang selanjutnya melahirkan kejutan. Tentang hal-hal yang buruk.

Semisal kasus Gayus. Rakyat sendiri pun tahu kalau Gayus sudah sedang berada di pusaran para ‘setan’ mafia pajak, mafia hukum dan makelar kasus. Rakyat sekalipun marah besar dengan sosok bernama lengkap Gayus Halomoan Tambunan, tetapi sesungguhnya mata mereka lekat menyaksikan jengkal demi jengkal perjalanan kasusnya. Namun, rakyat di negeri ini adalah rakyat yang tidak berdaya. Hanya dapat melihat dan berteriak, selebihnya suara pecah di awan. Tatapannya menjadi kosong, jeritannya mejadi tidak berarti.

Rakyat di negeri ini tahu apa yang bakal terjadi dengan kasus Gayus. Putusan hakim pengadilan Negeri Jakarta selatan atas dosa dan kesahalan Gayus dengan vonis tujuh tahun penjara dan denda tiga ratus juta rupiah merupakan sebuah keyakinan yang wajar. Permintaan banding Gayus atas vonis tersebut pun sudah rakyat ketahui. Alih-alih mencari keadilan, justru yang ada dibalik semuanya itu adalah mau mengatakan bahwa ‘aku benar mengapa aku dihukum’. Tidak pelak lagi, Gayus pun buka-bukaan, merembes hingga ke lingkaran istana.

Tentang semuanya ini, rakyat sesungguhnya sudah tahu. Seperti sinetron yang tidak berujung, kasus korupsi selalu akan melahirkan episode-episode baru. Terkejut dan penuh kejutan? Tidak. Rakyat tahu benar ke mana arah jalan ceritanya. Pasti happy ending. Tokoh antagonis dan juga protagonist diciptakan untuk menjalankan scenario yang sudah sedang disiapkan script writer yang jenius. Di bawah arahan sutradara yang punya cita rasa tinggi pada dunia seni peran, sinetron korupsi negeri ini siap dimainkan. Lagi-lagi tentang itu rakyat tahu persis, bahwa rakyat tidak hanya sedang menonton sebuah permainan, tetapi juga sudah sedang dipermainkan.

Di tengah pusaran budaya baru yang serba semrawut rakyat dituntut untuk pandai memilih mana yang baik dan terbaik. Karena di negeri ini yang benar dan yang tidak benar, yang baik dan yang tidak baik mirip, walau sesungguhnya tidak sama.

Jadi, jika misalnya, Ketua DPP Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, seperti dilansir  Vivanews.com (Kamis, 20/01/2011) mengaku kaget dengan pengakuan Gayus Tambunan. “Saya terperanjat dengan pengakuan Gayus soal adanya rekayasa dan intimidasi itu,” katanya di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu, 19 Januari 2011. “Saya baru tahu, bahwa ternyata semua penuh rekayasa dan tekanan.” Priyo bahkan menyoroti lingkaran inti Presiden. “Mereka ternyata punya haluan-haluan politik dan kepentingan tertentu. Ini tidak fair dan kami catat dengan seksama. Ini tidak fair bagi penegakan hukum yang adil,”

Tentang keterkejutan Priyo dan juga elite politik bangsa ini yang lain pantas untuk diragukan kebenaran. Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu, atau benar-benar tidak tahu karena kura-kura tidak ada dalam perahu. Maaf..lagi-lagi, ini adalah perbandingan yang keliru, lebih tepat disebut sebagai bukan perbandingan. Tentang kejutan dan apa pun yang membuat kita terkejut di negeri ini bukanlah sebuah barang baru. Jika bukan menjadi biasa maka sepertinya sudah sedang menjadi budaya.

Budaya tidak peduli pada penderitaan, budaya tidak punya budaya malu, budaya kura-kura dalam perahu, budaya pura-pura terkejut, budaya kambing hitam, budaya saling lempar tanggung jawab, budaya jilat menjilat, budaya salah menyalahkan. Di tengah pusaran budaya baru yang serba semrawut rakyat dituntut untuk pandai memilih mana yang baik dan terbaik. Karena di negeri ini yang benar dan yang tidak benar, yang baik dan yang tidak baik mirip, walau sesungguhnya tidak sama.