Sangat mudah kita memperbandingkan antara seorang dengan orang yang lain. Mudah pula kita menyandingkan antara pribadi yang satu dengan yang lain. Menyamakan keduanya, mengukur kelemahan-kelemahan dan menimbang kelebihan-kelebihan mereka.  Tidak hanya itu, ada pula kebiasaan yang justru sudah menjadi budaya adalah mempersalahkan orang yang satu dan lain serta mengatakan tentang mereka sebagai yang buruk.

Kecenderungan serupa itu tidak hanya melulu tentang pandangan pada keburukan-keburukan orang lain, tetapi juga pada kebaikan dan atau sesuatu yang berbeda pada orang lain. Peniruan, yang dalam terjemaan kasar disebut sebagai ‘ikut-ikutan’ adalah fenomena teranyar dan tidak pernah sudah.

Ada desakan rasa dan kehendak dalam diri untuk menjadi yang terbaik. Dan tentang itu adalah baik. Namun, mestinya menjadi terbaik dengan bertitik tolak pada kelemahan-kelamahan dan kelebihan-kelebihan yang ada pada diri sendiri. Menjadi yang terbaik dengan meminjamkan keunikan dan kekhasan orang, selanjutnya dilepas-tempelkan pada diri sendiri bukan hanya tidak baik, tetapi juga sama sekali bukan kebaikan.

Menjadi diri sendiri adalah pekerjaan terberat seorang manusia, siapa pun, termasuk aku sendiri. Kecenderungan pada kebiasaan dan pembiasaan yang instantis membuat kita kalah untuk mengembangkan diri dan apalagi menunjukkan diri yang terbaik. Lantas, agar tidak terjebak dalam keterlambatan gerakan waktu dan apalagi disebut sebagai ketinggalan zaman, maka dengan mudah kita melakukan peniruan-peniruan.

Menghargai kelemahan-kelamahan kemudian belajar daripadanya, selanjutnya menemukan kelebihan-kelebihan dan kemudian mengembangkannya

Namun sayang, tidak semua peniruan mesti harus ditiru. Tidak semua keberhasilan dan kesuksesan, keunikan dan kekhasan, pepopuleran dan ketenaran yang melekat pada orang lain dapat ditarik-gunakan untuk diri kita sendiri. Pada masing-masing pribadi dan diri sudah diletakkan oleh sang Pencipta tentang kelebihan-kelebihan dan juga kekurangan-kekuarangan. Masing-masing kita adalah khas dan unik.

Ketidaksanggupan kita untuk mengeksplorasi kekhasan dan keunikan itulah yang membuat kita kalah bukan hanya dari orang lain, tetapi lebih-lebih dalam perjuangan diri sendiri untuk menjadi yang terbaik. Kita kalah dalam menghargai kelemahan-kelemahan diri, dan bahkan menyebutnya sebagai yang ‘sial’ atau ‘mengapa aku seperti ini’ atau ‘pasrah saja’ dan seterusnya. Kita kalah dalam memanfaatkan potensi-potensi diri, dan bahkan menyebutnya sebagai ‘aku tidak bisa’ atau ‘aku takut’ atau ‘aku malu’ dan seterusnya.

Menjadi diri sendiri memang merupakan pekerjaan yang sulit. Karena menjadi diri sendiri adalah pekerjaan orang-orang hidup, yang dilakukan dan dikerjakan sepanjang hidup dan ditujukan untuk kehidupan itu sendiri. Demi kehidupan yang lebih baik, baik bagi diri sendiri, orang lain, lingkungan maupun untuk segala isi kehidupan yang lain. Untuk menjadi diri sendiri, tidak banyak kita mengorbankan energi dan materi , sebab rahasianya adalah ini: menghargai kelemahan-kelamahan kemudian belajar daripadanya, selanjutnya menemukan kelebihan-kelebihan dan kemudian mengembangkannya. Jadilah yang terbaik, sebab menjadi baik dan terbaik bukan tidak baik tetapi sangat baik.