“Bagaimana menulis di blog secara baik dan benar?” demikian pertanyaan beberapa kawan pelajar kepada saya. Sudah barang tentu saya terperanjat, lantaran saya sendiri pun tidak punya standar yang pasti bagaimana menulis di blog secara baik dan benar. Saya menulis tentang apa saja sebagaimana saya berjumpa dengan apa saja dalam perjalanan kehidupan saya. Saya menulis tentang apa saja yang saya ketahui dan bahkan juga tentang yang tidak saya ketahui. Dalam dan melalui blog saya menumpahkan semuanya. Dia bagai tempat sampah terbaik yang pernah dan akan selalu saya miliki.

Setelah menjadi juara harapan tiga sayembara Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2010 yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional Indonesia,  pertanyaan yang sama datang kembali. Dan pada ketika itu baru saya memberi jawaban dengan agak memuaskan. Jika hendak ditelisik kembali ke 2008, dimana blog ini pertama kali dibuat, sampai pada 2010 ketika menjadi salah satu pemenang dengan hadiah yang lumayan bagi seorang ‘pejalan kaki’ seperti saya, akhirnya saya menemukan beberapa poin penting perihal bagaimana menulis di media blog secara baik dan benar.

Pertama, ‘Apa pun makanannya, minumannya adalah teh botol sosro’. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, saya memungut apa saja, menulis tentang apa saja, tentang peristiwa, orang, benda-benda, keanehan-kenehan dan bahkan yang tabu sekalipun. Namun satu yang pasti bahwa semuanya dikemas dalam bahasa berciri puitik sastrawi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (walaupun sudah sedang belajar untuk itu). Konsistensi pada kemasan yang satu dan sama membuat apa pun peristiwa dan kisah menjadi elok untuk dilumat, sekalipun, sekali lagi, peristiwa itu adalah peristiwa tabu.

Kedua, ‘Mulutmu adalah harimaumu’. Bagi saya,  berbicara: sebagus apa pun isi pembicaraan, secerdas apa pun isi omong-omong, suatu saat akan hilang dibawa angin. Bagi saya ‘mulut’ itu sama sekali tidak member kontribusi lebih kepada bangsa dan Negara ini, jika kita benar-benar konsisten untuk mendukung pencerdasan anak-anak bangsa. Berbicara untuk bangsa ini sudah menjadi ‘buruk’ lantaran tidak semua pembiacaraan memberikan hasil yang signifikan. Berbicara telah membunuh semangat perjuangan, nasionalisme dan bahkan kemauan untuk belajar secara lebih tekun dan giat. Lantaran itu, menulis adalah pilihan terbaik untuk menuangkan segala bentuk gagasan dan ide, termasuk omong-omongan warung kopi yang mungkin dianggap remeh-temeh. Dengan menulis kita tidak hanya dimintai tanggung jawab untuk menulis secara baik dan benar, dikemas secara santun, tetapi juga secara tidak langsung mengajari generasi penerus untuk membaca.

“Menulislah tentang apa saja, apa yang kita ketahui dan tidak kita ketahui, termasuk menulis tentang kita tidak tahu menulis”

Ketiga, ‘Not for sale’ Saya adalah satu dari (mungkin) sekian banyak orang yang tidak terobsesi untuk menulis supaya mendatangkan manfaat secara material. Menulis bukan untuk dijual, tetapi sebaliknya menulis sebagai bagian dari eksplorasi minat dan bakat, pengembangan kemampuan serta penguatan kapasitas pribadi secara akademik. Jika pun ada perlombaan atau sayembara yang berkaitan dengan menulis, secara pribadi saya harus hati-hati memilih agar ‘kata’ tidak tercederai dan minat serta bakat saya tidak diobral.

Keempat, ‘Selalu baru setiap pagi’ Ini adalah soal teknis. Bahwa kita harus menampilkan tulisan-tulisan baru secara rutin, agar blog kita tidak hilang dari peredaran ingatan dan jumpa pembaca. Namun keterbatasan kita adalah kekurangan bahan tulisan dan atau kesibukan masing-masing, sehingga blog jarang diperbaharui. Namun untuk itu saya punya solusi. Menjadikan setiap perjumpaan dengan siapa dan atau apa saja sebagai peristiwa yang khas dan unik. Kekuatannya ada pada bagaimana menangkap peristiwa perjumpaan itu dengan kaca mata yang berbeda sehingga memungkinkan penafsiran yang berbeda pula. Ini teori yang sulit. Kedua adalah ‘menulis dalam kepala’.

Kesibukan bukan menjadi alasan kita tidak dapat menulis tentang sesuatu. Di tengah kesibukan kita, pasti kita akan berjumpa dengan apa dan siapa. Kekhasan dan keunikan yang ada pada siapa dan apa tersebut mulailah disimpan di dalam kepala, dicerna, ditanya-tanya, ditemukan jawaban-jabawan, diperbandingkan dan atau ditafsirkan. Temukan kata-kata kunci, bentuklah menjadi kalimat dan bahkan paragraph mentah, lalu simpanlah. Di waktu jedah di tengah kesibukan mencobalah untuk menuangkannya dalam halaman computer anda.

Jadi………..pasti bisa