Kemarin, tepat pukul tujuh belas lewat lima puluh dua menit, jiwaku mengumpatku. Dengan nada yang sinis dia mengataiku “Ragaku yang bengal selalu tidak bersahabat” kalimat itu bagai menghujatku. Dengan marah aku membalasnya “Jiwaku, sinismu tidak membuatku peduli, sekalipun kau menegurku berulang kali. Kita adalah musuh abadi”
Aku dan jiwaku adalah musuh abadi, dan mungkin tidak akan pernah bersahabat. Sudah sejak aku dilahirkan kami diciptakan terpisah. Dia menjadi seorang penyendiri, sementara aku menjadi petualang. Dia mencintai sepi, sementara aku mencintai keramaian. Sepanjang kami dijadikan, sepanjang itu pula kami tidak pernah menjumpai kesepakatan, tentang siapa sesungguhnya kami.
Hingga tiba kemarin petang kami kembali bertemu dalam sebuah perjumpaan yang gundah. Dia kembali mengelak sambil mencoba membenarkan diri “Kau membiarkan aku sendiri di sunyi, sedang kau berkeliaran menjejak bumi….bengalmu tidak kuberi hati” Dalam nada yang sama aku pun mengelak “Sekalipun kau merengek minta pergi, tak sejengkalpun kuajakmu bawa lari…tempatmu adalah sunyi…”
Sekejap raut wajahnya berubah, tampak lebih lembut “Suatu saat nanti bengalmu akan berhenti, dan kau pasti akan kembali” Aku terperanjat. Ada sinis di bola matanya. Namun aku mencoba untuk menanyakan maksudnya “Kata-katamu doa atau kutukan? Umpatan atau harapan? Aku tetap tidak peduli….aku akan tetap pergi melintasi rimba langit” Dengan nada yang datar, kembali dia berkilah “Pongahmu, sombongmu, bengalmu, liarmu akan runtuh….jika bukan karena alam yang menghantammu, maka Tuhan di langit sana yang akan menjemputmu”
“Jika suatu saat nanti kembali aku berjumpa dengannya, dengan tanpa ragu aku akan mengatakan ‘Kita ini yang terhebat’ sekalipun dia akan sulit menerimanya, karena aku lebih sering bersikap pura-pura”
“Hahahahahahahaha……” Aku tertawa terpingkal. Di balik suaranya yang rendah ternyata mengandung sinis yang pekat. “…hanya Tuhan dan alam yang tahu….tentangmu, tetap ku tidak peduli”. Dia tidak beranjak dari sinisnya. Dalam nada yang sama, dia masih memberi peringatan “Kebahagiaanmu akan berujung…semuanya akan tuntas”. Mendengar sumpahnya, dengan berani aku menagihnya “Jika kau bisa membuktikannya…mengapa tidak sekarang kehendak itu terjadi?”
Jiwaku menghilang ke balik sepi dan selanjutnya aku pun pergi berselancar di rimba kata. Menyaksikan kepergiannya yang lusuh sebenarnya tidak sudi. Tapi, mau apa dikata, sudah seharusnya dia berada di tempat yang sepi. Keberadaannya, kendatipun selalu tidak bersahabat, sejatinya memberi inspirasi bagiku untuk terus berkelana menemukan makna dalam kehidupan.
Sampai kadang-kadang aku yakin bahwa sesungguhnya dalam ketidak pedulian kami, kami adalah yang terhebat. Kamilah sesungguhnya sahabat sejati, sahabat terbaik, sahabat yang tak tergantikan. Jika suatu saat nanti kembali aku berjumpa dengannya, dengan tanpa ragu aku akan mengatakan ‘Kita ini yang terhebat’ sekalipun dia akan sulit menerimanya, karena aku lebih sering bersikap pura-pura.











































