Jejak-jejakku lelah, sudah sampai pada tepi. Energiku sudah terkuras habis, hingga tersisa hanya pedih dan perih. Entah apa yang dapat aku lakukan seusai ini, aku tidak tahu. Namun yang pasti aku mencoba untuk tetap setia pada prinsip, bahwa aku adalah petualang kata. Semoga dalam perjalanan mengarungi rimba kata, aku menemukan diriku yang berubah, berbeda.
Bagiku ini adalah sebuah resolusi yang melelahkan di awal tahun yang cemas. Aku tidak dapat memulai apa-apa untuk dan tentang sesuatu baru. Sebuah gerbang perubahan serupa tertutup. Gulita menyelimuti asaku. Hendak aku memulai menuliskan sesuatu, selalu aku terbentur pada angan-angan yang kosong.
Hingga aku teringat pada kisah Nabi Ayub. Aku teringat pada konsistensinya. Dia telah kehilangan segala, semua hanya demi menjaga relasi personal dengan Tuhan yang diimaninya. Tentang konsistensi itu aku berlajar. Andai saja Nabi Ayub tidak pernah hadir dalam sejarah perjalananku, sudah barang tentu aku akan pergi meninggalkan kesejatianku untuk menemukan diriku yang lain. Entah
Di halaman ini aku tumpahkan rasa ini, bukan untuk mengutuk kemandekan diri. Tetapi untuk menumpahkan sedikit emosi, menemukan sedikit solusi yang mungkin bisa berarti. Berarti bagi diriku sendiri, bukan untuk perubahan-perubahan yang besar, tetapi untuk mengawali sebuah perubahan yang kecil. Sekecil apa pun itu.
Di halaman ini dan pada balutan kata aku menuturkan semua, aku melepaskan segala. Tentang ketidakpuasan-ketidakpuasan yang membelenggu diri. Tentang mimpi-mimpi yang terbang tinggi. Tentang doa-doa yang melayang-layang. Tentang hasrat-hasrat yang terkatung-katung dalam rasa. Tidak kepada siapa aku harapkan tanggapan, pun tidak kepada siapa aku mengharapkan perhatian.
Hanya kepada dan dalam kata aku mengharapkan terbit perubahan. Bagiku kata adalah segalanya. Selalu kata terbantai setiap saat, selalu pula ia bangkit memberi makna. Selalu ia dimatikan setiap saat, selalu pula ia bangkit memberi kehidupan. Kata sejatinya adalah penyelamat yang sesungguhnya. Dia tidak memberikan apa-apa selain kesahajaanya untuk dicerna dan dimaknai secara lebih mendalam. Dalam proses pendalaman dan pembatinan itu aku menemukan diriku diselamatkan olehnya. Dalam kata aku menemukan Tuhan-ku. Bukan kepada siapa dan atau apa yang lain.









































