Terhadap semua keinginan aku tidak pernah kalah. Aku menjadi seorang petarung yang gagah dan hebat. Dalam setiap sempat dan pada setiap saat, keinginan, apa pun itu dengan begitu mudah  aku raih. Semuanya adalah karena tubuhku dan juga hasratku. Karena tubuhku dan juga karena hasratku itu, aku rela untuk mempertaruhkan diriku demi keinginan-keinginan yang aku kira berjangka panjang, tetapi ternyata berumur hanya sepersekian waktu.

Pada setiap datang hari baru, bulan dan tahun baru, aku selalu menemukan diriku yang berbeda. Aku semakin menjadi bidadari. Umurku yang baru belasan tahun yang kian hari kian dewasa membersit kemilau indah. Para sahabat dalam satu rumah di antara semak itu selalu mengatakan bahwa aku adalah perempuan terindah di antara mereka. Lantaran itu, tidaklah berlebihan jika pada setai datang hari baru, bulan dan tahun baru aku kian menjadi ratu.

Tentang keinginan aku tidak pernah lapar. Tentang hasrat aku tidak pernah haus. Aku selalu terpuaskan pada setiap sempat dan pada setiap saat. Keindahan kehidupan yang serupa kebahagiaan itu aku dapatkan dari segala jenis laki-laki, segala jenis pemberian mereka, segala jenis bau tubuh mereka, segala jenis desah napas mereka, segala jenis kepuasan mereka.

Hingga tiba suatu hari dari rumah di antara semak itu, aku menemukan diriku tidak lebih hanya satu ilalang yang kering. Aku adalah perempuan yang tidak berguna. Sudah sejak itu aku bergulat untuk mendamaikan antara keinginan akan pemuasan hasrat dan kebutuhan akan kebahagiaan sejati. Namun lagi-lagi aku linglung. Untuk keinginan-keinginan aku tidak pernah kalah hingga aku menikmati indah buahnya. Tetapi untuk kebutuhan-kebutuhan aku selalu bertaruh hingga lelah, namun sekalipun aku tidak mengenyam nikmatnya.

‘Di hadapan keinginan, kecantikan dan tubuhmu akan memenangi semua pertarungan. Tetapi tidak bagi sebuah kebutuhan, sekecil apa pun itu. Kau adalah makhluk yang paling tidak berguna’

Dia, lelaki asing yang pada malam itu hendak datang mendekapku berubah jadi penyelamat. Sepatah kaliamat yang lebih dasyat dari hentakan sanggama datang tiba-tiba menikamku ‘Di hadapan keinginan, kecantikan dan tubuhmu akan memenangi semua pertarungan. Tetapi tidak bagi sebuah kebutuhan, sekecil apa pun itu. Kau adalah makhluk yang paling tidak berguna’. Aku menitihkan air mata. Aku meronta. Hingga muncul satu Tanya ‘Apakah aku pelacur yang berbahagia?’

Sudah sejak itu aku pergikan diri dari rumah pada semak-semak itu. Remang lampunya yang indah, sudah berubah rupa jadi lilin pekuburan. Para lelaki yang datang melepaskan hasratnya tampak seperti hantu yang mengejutkan. Dan segala gelak tawa yang pecah pada gelas-gelas kaca bagiku sudah serupa kertak gigi di neraka. Wangi tubuhku pun yang sudah kubasuh berulang masih membekas, sebagai kenangan yang menyakitkan, entah sampai kapan.

Sudah sejak aku pergi dari dari rumah pada semak itu, hingga kini, dalam usiaku yang menginjak dua puluh tahun, perlahan aku kembali. Kembali kepada ada-ku sebagai manusia yang harus memaknai hidup untuk menjadi perempuan yang bermartabat. Di hadapan waktu aku bergulat dengan kebutuhan-kebutuhan, bukan hanya untuk hidup, tetapi juga untuk menjadi diriku sendiri. Semakin aku bergulat sungguh menjadi diriku sendiri, semakin kualami pengalaman-pengalaman kalah.

Benar sepatah kalimat lelaki asing ketika itu ‘…tetapi tidak bagi sebuah kebutuhan, sekecil apa pun itu. Kau adalah makhluk yang paling tidak berguna’. Aku menjadi serupa debu terinjak pada jejak kehidupan. Aku menjadi bukan siapa-siapa, selain diriku sendiri yang kalah. Namun, untuk kebutuhan-kebutuhan akan kehidupan yang bermartabat, aku tidak akan pernah menyerah menggapainya. Selama aku masih diberi kehidupan oleh Yang Maha Kuasa, selama itu pula aku bergulat dengan tanpa lelah.

Bagiku tidak ada hari baru, tidak ada bulan baru, tidak ada tahun baru, sebab segalanya adalah baru. Bagiku hakikat perubahan adalah memaknai waktu bukan merayakan pemagaran atas waktu. Sebab semakin aku suluk dalam waktu, aku menemukan diriku perlahan menang, menjadi diriku sendiri dan berbahagia. Itulah aku. Aku pelacur di pusaran waktu. Aku pelacur waktu dalam ruang yang bernama kehidupan.

About these ads