Seorang pelajar mengeluhkan tentang tugas sekolah (baca: belajar) yang kian padat. Setiap hari, pada pagi hingga siang hari, mereka dijejali dengan berbagai ilmu pengetahuan yang ‘dituangkan’ seperti mengisi air ke dalam gentong kosong. Sore hari, mereka dipadatkan lagi dengan pelajaran sore, dengan alasan pendalaman materi dan pengembangan diri. Selanjutnya pada malam hari, mereka harus berkutat dengan pekerjaan rumah yang diberikan guru, dan keesokan harinya harus segera dikumpulkan.
Hari minggu, seharusnya hari libur, satu-satunya hari ‘keselamatan’ bagi mereka. Tetapi ketika kaki hendak melangkah sekedar mencari angin segar, orang tua melarangnya, “Mendingan kamu belajar, biar cepat pintar. Tidak ada gunanya jalan-jalan, hanya buang-buang waktu saja’. Pelajar tersebut terdiam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak membantah. Perlahan ia melepas napas panjang. Antara tidak tahu, kesal dan kesetiaan pada kebiasaan.
“Kak, apakah memang seperti itu pendidikan?”. Pertanyaannya serius. Hal itu tampak dari kerut dahinya. Aku tersintak. Aku mencoba untuk mengembalikan dengan tanya “Terus menurut kamu sendiri?”. “Ternyata berat sekali kak, seperti gimana ya…kerjanya hanya belajar itu menjenuhkan. Kami bagai dipenjara. Dilema juga kak…di satu sisi pendidikan itu katanya membebaskan, tetapi di sisi lain kami merasakan seperti ditekan” jawabnya jelas dan padat.
Atas pertanyaan itu, aku tidak segera menjawab. Sebab sesungguhnya sang pelajar tidak sedang membutuhkan jawaban, tetapi sebaliknya alasan rasional dari apa yang sedang dipikirkannya. Lantaran itu, aku kembali mengejarnya dengan tanya ‘pendidikan itu katanya membebaskan’ apa artinya itu?
Sang pelajar menjawabnya dengan panjang lebar. Dari apa yang dijelaskannya aku dapat menyimpulkan empat hal penting. Pertama, sang pelajar tersebut mengatakan ‘sepertinya tidak ada waktu kosong’. Rupa-rupanya sang pelajar membutuhkan kesempatan atau saat untuk berpikir sendiri. Berpikir sendiri yang saya maksudkan adalah momen refleksi. Pengendapan.
Selanjutnya, Kedua, ‘terlalu banyak teori’. Berbagai ilmu pengetahuan yang memenuhi ruang kepalanya telah menyiksanya. Sang pelajar rupanya sadar benar bahwa, sebagai pelajar, ia tidak hanya terdiri atas ‘kepala’ tetapi juga punya kaki dan tangan. Sang pelajar rupa-rupanya butuh pelepasan dalam praktik-pratik lapangan.
Ketiga, ‘saya sampai merasa agak ganjil, apa sih yang dimaksud dengan pintar?’. Pertanyaan ini sesungguhnya merupakan sebuah pernyataan bahwa seseorang disebut pintar atau pandai tidak hanya karena pengetahuan secara intelektual, tetapi juga berkaitan pengelolaan atas rasa. Sang pelajar rupanya sadar benar bahwa ada yang keliru dalam memahami ‘pintar’ dan atau ‘cerdas’. Dan saya menduga sang pelajar tersebut punya konsep tersendiri tentang itu. Dan itu baik.
Dan yang terakhir, Keempat, ‘susah sih untuk memilih’. Ini merupakan kesimpulan yang tidak terbantahkan dari pelajar mana pun. Hampir semua pelajar mengalami pilihan ini. Bahwa mereka telah terjebak dalam sebuah system dan kultur belajar yang ‘tidak memberi ruang refleksi dan eksplorasi’ (hal pertama), ‘banyak bicara’ (hal kedua), dan ‘agak ganjil (hal ketiga). Atas hal-hal tersebut mereka, termasuk sang pelajar tersebut dengan ‘terpaksa’ memilih untuk tetap berenang dalam ‘penjara’.
Menutup sekaligus menjawab semua keluhan, penjelasan dan alasan tentang problema belajar yang dialaminya, aku hanya memberikan satu kalimat singkat tentang apa sejatinya pendidikan sejauh yang saya tahu dan pahami, bahwa pendidikan adalah ‘sebuah proses untuk menemukan dan menjadi diri sendiri’. Itu saja.
Rupanya, sang pelajar tidak mengerti maksud perkataan itu. Jawabanku rupa-rupanya membuatnya bingung. Tetapi jika dia hendak memahami sungguh, sejatinya ‘kebingungan’ adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Namun untuk menyudahi kebingungannya, aku menyodorkan ‘Pendidikan Kaum Tertindas’-nya Paulo Freire. Aku yakin, daripada aku yang meberikan jawaban, adalah baik jika sang pelajar menemukan jawabannya sendiri. Bukankah demikian adanya dia sebagai sebagai seoarang yang sedang ‘belajar’?
Haha…aku mungkin kakak yang pongah baginya. Itu terbaca dari senyum sinisnya. Tetapi dalam hati kecil, aku bisa menebak kalau dia akan menemukan jawaban itu setelah ‘berdiskusi’ dengan Freire. Jika ya, maka jangan pernah salahkan pelajar jika mereka menjadi kian kritis, membongkar kemapanan kekakuan kurikulum, menampar guru-guru mereka dengan tanya-tanya yang cerdas, mengurai system dan kultur belajar yang menyiksa, serta membiarkan pekerjaan rumah mereka terbengkalai demi sebuah ruang refleksi yang sulit mereka dapat.










































2 tanggapan kepada “Pendidikan Seharusnya Membebaskan”
rNest Dewa
November 1st, 2010 pada 07:49
Setuju……………
Univ.Pancasila
November 3rd, 2010 pada 11:15
seharusnya… dan mari direalisasikan bersama…
silahkan juga dibaca-baca info disini.. :
http://berita.univpancasila.ac.id
http://repository.univpancasila.ac.id