Korupsi di tanah air kita tercinta ini, tidak lagi hanya menjadi buah bibir: diskusi warung kopi, cerita ibu-ibu, canda anak-anak, dan atau gerutu kakek-kakek, tetapi sudah sedang menjadi budaya. Budaya artinya cara pandang, buah karya dan akal. Dan jika sudah sedang menjadi budaya, menjadi habituasi, sudah barang tentu akan melekat erat jadi jati diri atau karakter.
Jika itu yang akan terjadi, bangsa kita tidak lagi hanya dicederai sakit yang akut, tetapi juga kematian. Kematian kepribadian, kematian keadaban, kematian moralitas. Memalukan bukan? Sebuah bangsa yang menjunjung tinggi ke-Tuhan-an dan berperikemanusiaan tetapi dalam praksis nya menuhankan hantu dan tidak berperikemanusiaan adalah bangsa yang tidak punya jati diri.
Lalu kita menyalahkan siapa? Sudah terlalu selalu kita menyalahkan koruptor, Karena merekalah yang biang dari segala sebab musabab. Sudah selalu pula kita menyalahkan pemerintah, para pembuat kebijakan, penegak hukum, ketidakpastian hukum dan bahkan sistem politik yang tidak kondusif. Karena ketidakbecusan mereka dalam mengurus Negara, maka segalanya jadi berantakan.
Lantaran selalu dan terus selalu mencari ‘biang kerok’ kesalahan maka sakit itu tidak lekas menjadi sembuh. Lantaran, selalu pula mencari kambing hitam, maka kematian keadaban itu kian mendekat. Semakin kita berusaha untuk menemukan siapa biangnya, semakin kita tidak menemukan jantung soalnya.
Sudah si A ditangkap, muncul si B dan si C. Sementara si B dan si C terperiksa, muncul lagi si D, dan si F. Ternyata Si F dan si C terjerat kasus yang sama. Keduanya menyeret si G. Si G tidak tidak tinggal diam, dia pun bernyanyi berteriak do re mi fa so la si do, terberberlah semuanya dari A-Z. Menyedihkan? Hanya karena sibuk mengejar si A, si B atau si Z, kita lupa bertanya ‘apa’ dan ‘bagaimana’ seharusnya berbenah.
Catatan ini bukan menawarkan solusi, tetapi mencoba menawarkan resep alternatif. Satu-satunya resep itu adalah generasi muda. Kaum muda atau generasi muda bangsa ini harus kembali kepada peran fundamentalnya, entah sebagai siswa, pelajar atau mahasiswa. Artinya, kita semua kembali ke ruang kelas dan kuliah untuk belajar. Kembali yang dimaksudkan di sini adalah sadar peran. Kita adalah pelajar dan mahasiswa, jadi tugas kita adalah belajar dan kuliah.
Pertama, belajarlah untuk menjadi orang baik dan tidak hanya menjadi pintar. Kedua, belajarlah untuk tidak mencontohi hal-hal yang buruk, tetapi meneledani yang baik dan benar. Ketiga, belajar untuk disiplin dan setia pada hal-hal yang kecil. Keempat, belajarlah untuk diam dan konsentrasi, bukan untuk demonstrasi dan tawuran. Kelima, belajarlah untuk tidak meng-kritik orang lain, tetapi kritiklah diri sendiri.
Kelima, belajarlah untuk tidak bolos sekolah, bolos kuliah apalagi menyontek dan plagiat, tetapi tertib, taat dan tunduk pada aturan serta jujur. Keenam, belajarlah berorganisasi di dalam sekolah dan atau kampus, dengan mempraktikan kebenaran-kebenaran demokrasi. Ketujuh, belajarlah untuk berempati kepada yang berkekurangan dan tidak mementingkan diri sendiri. Kedelapan, belajarlah dan kembangkan minat dan bakat sebab itu adalah anugerah. Kesembilan, belajarlah untuk mencintai guru dan buku. Dan terakhir kesepuluh, belajarlah untuk selalu menyadari diri kecil di hadapan Tuhan.
Segala sesuatu ada waktunya. Korupsi cepat atau lambat akan pergi dengan sendirinya, jika dan hanya jika pemuda dan pemudi, generasi muda bangsa ini menyadari dirinya, menyadari peran dan tanggung jawabnya, entah sebagai pelajar atau mahasiswa. Hanya dengan menyadari peran dan tanggung jawab itu, belajar dengan sungguh dan berupaya untuk mengembangkan diri secara positip bangsa ini terselamatkan.
Siapa yang dapat menyelematkan bangsa ini jika bukan pemuda dan pemudi? Kapan kita memulai menyelamatkan bangsa ini jika bukan sekarang dan di sini? Dari mana kita harus menyelematkan bangsa ini jika bukan dari diri sendiri dan dari ruang kelas kita masing-masing? Jangan tunda-tunda lagi, hayoooooooo pemuda-pemudi bangsa. Stop korupsi sekarang juga.











































2 tanggapan kepada “Jika Korupsi Jadi Jati Diri”
Tanagekeo
Oktober 28th, 2010 pada 18:34
Tidak ada jalan pintas untuk hidup tanpa korupsi. Yang ada hanya sebuah jalan panjang penuh liku. Itu adalah keluarga. Sekarang orang sudah bisa berkomunikasi dengan bayi sejak masih dalam rahim. Para istri juga para ibu menjadi nurani sang jabang bayi, dan mulai dari sana kita melakukan pendidikan anti korupsi.
Mengajar jujur kepada anak hanya bisa berjalan kalau kita berlaku jujur. Berlaku jujur saja mulai dari diri sendiri. Berpikir dan bertindak benar mulai dengan diri sendiri……Yakin korupsi tak akan bisa diberantas tuntas, tetapi paling sedikit dapat diminimalisir.
hudaesce
Oktober 28th, 2010 pada 19:02
Korupsi tu emang merusak tatanan kehidupan bangsa dan negara
. Mungkin udah saatnya diberlakukan Hukuman mati tuk para Korupsi kali ya.