Logo 'Gerakan Indonesia Membaca', http://www.klubguru.com

 

 Secara umum kita mengenal ada dua  teknik membaca  yakni membaca PANTAS dan membaca KRITIS [1]. Namun sebelum dijelaskan lebih lanjut perihal dua teknik membaca ini, terlebih dahulu perlu dipahami dahulu bahwa teknik-teknik tersebut bukan lahir tanpa latar. Lantaran kegiatan membaca adalah kegiatan penting, merupakan bagian dari kegiatan intelektual dan memampukan untuk tujuan yang mencerdaskan maka lahirlah teknik-teknik membaca. Jika tidak mengapa harus diperlukan teknik membaca?

Pertama, anggapan dan kebiasaan bahwa membaca adalah kegiatan mengisi waktu luang, sekedar hiburan dan hanya untuk menghilangkan stress rupa-rupanya harus perlahan-perlahan ditinggalkan. saya, dalam dan melalui catatan kecil ini tidak sedang menggurui, tetapi lebih sebagai ajakan moral, agar secara bersama-sama menyadari ini sungguh. Membaca sama pentingnya dengan menulis. Keduanya – membaca dan menulis – sama pentingnya dengan seperti kita belajar fisika, matematika, ekonomi, dan atau bahasa Asing. Bahkan sama pentingnya seperti kita mengelola bisnis, membuat film atau memasak makanan bergizi.

Kedua, lahir dan adanya kecenderungan dan atau pun anggapan bahwa ilmu-ilmu eksata lebih menunjukkan bahwa seseorang cerdas dan disebut pandai, justru membuat kegiatan dan tindakan yang sesungguhnya vital dalam pendidikan dan proses belajar seperti halnya – membaca dan menulis – menjadi terabaikan. Pendidikan yang berorientasi ekonomik, untung rugi, membentuk pola pikir sedemikian rupa, sehingga menjadikan kegiatan membaca secara khusus hanya sekedar pelengkap penyerta, yang tidak lebih hanya sebagai faktor penunjang agar (sebagai misal) segera setelah lulus kuliah kemudian dapat kerja. Selanjutnya ketika bekerja, pekerjaan membaca ditinggalkan.

Ketiga, padahal sejatinya kegiatan membaca adalah proses belajar tanpa henti. Membaca adalah kegiatan yang tidak sekedar menghantar kita mengenal sebuah teks dan mengetahui hanya sekedar teks itu sendiri. Membaca adalah moment terciptanya dialog antara kita dengan penulis teks, antara yang tidak diketahui dengan yang diungkapkan dalam dan melalui teks, antara refleksi teks dan refleksi kita atas konteks. Lantaran itulah dan dalam tataran ini kegiatan membaca menjadi vital dan tidak terbantahkan merupakan sebuah proses intelektual. Sebab hanya dengan membanca kita dimungkinkan untuk menyibakkan sesuatu yang tidak tersingkap, mengendapkan yang diketahui atau yang disari, selanjutnya menarik garis-garis simpul pemaknaannya berdasarkan refleksi dan tafsiran atas konteks.

Berangkat dari latar di atas teknik-teknik dan metode-metode membaca ditemukan, diperbincangkan secara berulang dan juga ditulis agar dibacakan dengan sungguh. Sehingga, sekali lagi jika tidak, mengapa kegiatan membaca harus diperlukan teknik? Tiga jawaban di atas saya kira cukup untuk menjadi alasan. Sekarang, saatnya kita dihantar untuk mengenal secara garis besar tentang teknik dan metode membaca. Seperti yang sudah disebutkan diawal catatan kecil ini, secara umum kita mengenal ada dua  teknik membaca  yakni membaca PANTAS dan membaca KRITIS.

Pertama, membaca pantas biasanya menggunakan metode skimming dan scanning. Membaca melalui metode skimming, kita dituntut hanya memusatkan perhatian pada rangkuman gagasan-gagasan, lebih tepat disebut kutipan-kutipan penting dari teks yang menjadi kesimpulannya. Misalnya pada prakata, rangkuman bab, dan atau kesimpulan teks secara umum[2]. Selanjutnya metode scanning adalah membaca secara cepat. Membaca dengan metode ini tidak dimaksudkan untuk mendapat gambaran secara umum, tetapi lebih kepada bagian-bagian yang dianggap penting dari teks.

Kedua adalah membaca kritis. Membaca kritis adalah sebuah tindakan atau kegiatan membaca secara sistematik.  Kita tidak hanya dituntut untuk menangkap gagasan-gagasan penting yang terkandung dalam teks (yang dilakukan dalam teknik skimming dan scanning), tetapi juga mencoba untuk berdialog dengan teks itu sendiri. Membaca kritis biasanya terdiri atas dua macam. Yang pertama adalah teknik  membaca kritis dengan menggunakan metode membaca KWLH dan yang kedua adalah metode membaca SQ3R.

Teknik atau metode membaca kritis KWLH mengandaikan bahwa sebelum melakukan tindakan atau kegiatan membaca terlebih dahulu kita telah MENGETAHUI tentang apa yang akan dibaca (Know), dan hal itu didorong karena ke-INGIN-an/ke-HENDAK untuk mengetahuinya lebih lanjut (Want). Selanjutnya, setelah membaca kita harus menemukan saripatinya, tentang apa yang sudah DIKETAHUI/DIPELAJARI (Learned) agar seterusnya BAGAIMANA teks tersebut dapat menjadi pengetahuan dan referensi tambahan (How).

Saya mencoba untuk memberikan contoh:

Know (K)
Saya sudah mengetahui tentang apa itu membaca, namun belum terlalu jelas.
Want (W) 

Saya ingin mengetahui definisi membaca yang sejelas-jelasnya.

Learned (L) 

Oh….ternyata membaca tidak hanya kegiatan mengisi waktu luang, tetapi merupakan kegiatan belajar.

How (H) 

Apakah ada teknik-teknik membancanya? Atau bagaimana membaca yang baik dan benar dan seteruanya.

       

Teknik atau metode membaca kritis selanjutnya adalah teknik membaca SQ3R.  Teknik ini meliputi Question (soal atau tanya), Read (baca) Recite (imbas kembali) dan review (baca ulang).

Question (soal atau tanya) ialah langkah pertama dimana kita dituntut untuk menemukan inti soal atau masalah yang tidak hanya berkaitan dengan teks tetapi juga dengan hal yang hendak kita ketahui, yang diharapkan dalam teks bacaan kita menemukan jawaban yang sesuai.

Read (baca) ialah kegiatan membaca dimana kita membangun dialog dengan teks. Mencoba menemukan jawaban-jawaban yang ada dalam teks berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan.

Recite (imbas kembali) ialah tindakan atau kegiatan yang dilakukan seusai membaca teks. Pada tahap ini kita tidak hanya mengingat apa yang sudah dibaca tetapi juga menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara kritis.

Review (baca ulang) merupakan tahap terakhir dimana kita kembali diminta untuk membaca ulang teks. Namun, tidak semua teks dibaca. Kita hanya fokus pada bagian-bagian tertentu dari teks yang menjadi acuan dan atau rujukan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang sudah kita ajukan. Hal ini dimaksudkan untuk menyesuaikan apa yang diingat dengan teks.

Saya mencoba untuk memberikan contoh:

Question (Q)
Apakah yang dimaksud dengan ‘membaca’ dalam teks yang akan saya baca?
Read (W)
Adakah jawaban tentang membaca terdapat dalam teks yang saya baca?
Reacite (R)
Apa yang telah dipelajari/diperoleh dari teks tentang definisi membaca?Saya mencoba untuk mengingatnya kembali
Review (R)
Saya mencoba untuk membaca kembali, mencoba memastikan definisi-definisi tentang ‘membaca’ dengan teks yang sudah saya baca.

Dua metode membaca di atas, yang walaupun disajikan secara ringkas dan disarikan dari berbagai sumber bagi saya adalah metode yang penting. Lantaran itu saya merasa bertanggung jawab untuk mensosialisasikannya. Dan saya pun berpikir bahwa banyak kalangan dan profesional pasti memiliki taknik dan metode membacanya masing-masing. Dan itu pun harus disosialisasikan. Agar tidak hanya sekedar bisa berbagi, tetapi juga dapat memberi arti.


[1] Selanjutnya tentang kedua hal ini sebagian besar teks ini saya sarikan dari http://mahirkb.tripod.com/olehbaca.htm, http://gurupkn.wordpress.com/2008/01/15/teknik-membaca-cepat/, http://www.ugmc.bizland.com/mp-teknikmembacaberkesan.htm

[2] bdk. http://www.muhammadnoer.com/2009/07/teknik-membaca-skimming/  

About these ads