Malam tiba. Dengan tanya yang masih merasuk. Azam, Zahra dan Nurillah jatuh dalam pelukan malam dan berstereu dengan tanya-tanya itu. Tidak tenang. Ketiganya bergulat dengan diri mereka sendiri dalam sepi dan kesendirian. Ketiganya bergulat dengan rasa, tentang satu soal, cinta. Azam bergualat dengan ketakutan dan kecemasan. Nurillah bergulat dengan penasaran. Sedang Zahra bergulat dengan kenangan dan kepahitan.  Malam itu ketiga bersama berharap menemukan jalan.

***

Azam tak dapat lagi menyembunyikan rahasianya yang terdalam. Bahwa ia masih mencintai Zahra. Dan ia harus mengatakan itu dengan jujur kepada Zahra, bukan cuma supaya segala rasa terpendam itu lepas, tetapi juga supaya segala rahasia menjadi nyata. Namun, pada saat yang sama, Nurillah adalah kekasihnya. Dan tentang itu, ia tidak hanya telah memberikan harapan yang besar kepada Nurillah, tetapi karena relasi cinta yang sama, silatarim Al Hidayah dan Al Hikam tetap terjaga.

Pergulatannya kian memuncak ketika ia harus mengatakan semua rahasia ini kepda Zahra dan Nurillah.

“Ya Allah…aku tidak tahu apa yang mesti aku perbuat” Azam berpasrah. “Aku tidak akan melukai Nurillah, dan aku pun tidak akan membuat Zahra tetap menderita”  lanjutnya.

“Nurillah sedang berbahagia. Kelompak cintanya sedang mekar. Ia bagai bunga yang tumbuh segar dalam taman yang tepat. Dan karenanya, aku tidak hendak melukai kebagiaannya” Azam menimbang dengan rasa.

“Dan kau Zahra…cintamu masih tetap menyala, walau dalam ketidakpastian. Engkau telah melewati dengan sabar, melampaui apa yang dipikirkan manusia. Cintamu tulus, sayangmu lapang. Dan aku tidak hendak membuatmu terus menderita. Karena aku tahu semuanya adalah karena aku”

Nurillah dan Zahra, dua pribadi yang dengan caranya masing-masing memberikan keajaiban bagi Azam. Melukai dan atau menambah luka bagi salah seorang dari keduanya, adalah dosa yang tak terampuni. Dia bukan hanya disebut pecundang, tetapi juga lelaki tidak berguna.

“Haruskah aku memilih?” Tanya Azam kepada dirinya sendiri.

Tidak. Aku tidak sedang dihadapkan pada pilihan. Aku sedang diuji untuk menjadi ribadi yang tegas. Mengatakan tidak kepada yang satu, dan mengakui cinta kepada yang lain. Cinta memang tidak untuk dimiliki dan memiliki. Tetapi aku harus mengakui bahwa dalam diri keduanya, baik Zahra maupun Nurillah ada cinta yang menyala.

***

Di seberang kamar. Nurillah tampak murung. Ada sebuah rahasia dalam dadanya yang belum tuntas dijawab. Siapakah Zahra bagi Azam. Siapakah Azam bagi Zahra. Mengapa antara keduanya begitu dekat. Pandangan mata mereka begitu menyatu. Adakah keduanya punya masa lalu yang indah kemudian terluka.

Nurillah mencoba memutar kembali ingatannya. Ia melepaskan semua ingatan itu dalam tanya. Mengapa Zahra meminta Azam menjadi pendampingnya ketika menjadi seorang muslimah. Mengapa Zahra mengunjungi Al Hidayah dan ingin menjumpai Azam.  Mengapa, dalam saat-saat tertentu sikap Azam begitu dingin terhadapnya. Mengapa Azam selalu memancarkan wajah bersalah ketika berjumpa Zahra. Mengapa Zahra memandang Azam dengan begitu berharap.

“Astaqfirullahalazim” Nurillah beristiqfar.

Tidak. Nurillah mencoba mengusir semua dugaannya. Ia merasa bersalah telah mencurigai Zahra dan Azam, sebelum mengetahui segala rahasia. Azam tidak mungkin melukainya, demikian juga Zahra. Jika keduanya punya masa lalu yang indah. Itu adalah masa lalu mereka.

“Ya, itu bukan menjadi urusanku. Jika mereka pernah jatuh cinta. Itu adalah masa lalu mereka. Sekarang adalah sekarang. Dan itu tak akan pernah kembali” Nurillah mencoba menguatkan hatinya.

***

Malam yang kian larut, dari balik jendela kamar, Zahra melepas pandang ke langit lepas. Dingin gerimis menyapu wajahnya yang lunglai. Tapi ia tidak beranjak. Bersama gerimis yang jatuh perlahan, ia menitihkan air mata.

“Ya Allah..ya Rabb…terlalu sakit bagiku untuk melalui semuanya ini. Kau mengujiku bertubi. Kau mencobaiku berulang. Aku tahu itu. Aku meyakini itu dengan sungguh. Dari karena aku percaya kepada-Mu, bahwa Engkau pasti akan menolongku, maka aku berani memilih jalan ini”

Zahra membayangkan semuanya. Masa lalunya ketika kanak-kanak. Masa indahnya bersama Azam, juga dukanya. Kegembiaraan dan kebahagiaanya menjadi muslimah, juga air matanya melelwati pilihannya itu. Semuanya melebur menjadi satu dalam sakit.

“Ya Allah…Ya Rabb…bagaimana aku harus melupakan semua kisah indahku bersama Azam. Sudah kucoba untuk meninggalkannya dalam malam-malamku. Tetapi dalam mimi-mimpiku ia hadir menjadi nyata. Ia begitu dekat”

Wajah Zahra ian baswah, bukan hanya karena gerimis yang diterpa angin malam, tetapi juga karena air matanya yang berguguran. Hendak ia melupakan semua, melenyapkan segala duka. Tetapi duka itu serupa kian mendekat, menghujam-hujam dadanya.

“Ya Allah..Ya Rabb…berikan aku keikhlasan dan kerelaan untuk melupakan Azam. Biarkan Engkau mengajariku bagaimana aku harus mencintai-Mu, tanpa ia hadir mengganjal hari-hariku. Aku mau mencintai-Mu dengan tulus hati, tanpa harus diintip dengan masa lalu yang ngeri”

“Ya Allah…”

***

Malam itu, dalam kesendirian mereka. Ketiganya berseteru dengan rasa. Masing-masing melukiskan kisah mereka. Azam bergualat dengan ketakutan dan kecemasan. Nurillah bergulat dengan penasaran. Sedang Zahra bergulat dengan kenangan dan kepahitan.  Namun ketiganya punya jalan, ketiganya berpasrah kepada Allah.

About these ads