Seusai jam kuliah, Zahra langsung menemui Azam di Al Hidayah. Namun yang dijumpainya hanya Nurillah yang baru saja membubarkan anak-anak seusai belajar sore.

“Bang Azam, Abi dan Umi sedang dalam perjalanan pulang dari Al Hikam” jelas Nurillah “Jadi, Zahra bisa tunggu sebentar” lanjutnya

Zahra mengangguk. Kemudian mereka larut dalam cerita, entah tentang keseharian Nurillah di Al Hidayah, maupun tentang keseharian Zahra setelah menjadi muslimah. Tidak luput pula keduanya becerita tentang mimpi-mimpi mereka, termasuk tentang sosok pendamping hidup yang mereka idam-idamkan.

“Isnyaallah, sebelum Azam berangkat ke Cairo, kami akan melangsungkan pernikahan” jelas Nurillah. “Studi Azam ditunda sampai pertengahan tahun depan, jadi mungkin nanti pada Maret atau April kami melangsungkan pernikahan”

Wajah Zahra tiba-tiba berubah. Ia bagai disambar petir. Rasanya menyengat-nyengat. Hendak berteriak sekeras-kerasnya “Tidakkkkkkkk!!” tetapi ia tak kuasa. Ia tidak hendak kebahagiaan Nurillah pecah berantakan.

Ia tidak sudi Nurillah mengetahui segalanya. Tentang masa lalunya bersama Azam, walau sebenarnya dari hatinya yang paling dalam, hendak ia mengatakan itu denga jujur, agar semuanya menjadi lepas.

“Oh..” hanya sepatah kata itu yang terontar dari kedua belah bibirnya. Bagai tak percaya, ia melanjutkan dengan tanya.

“Mengapa harus Azam?”

“Bang Azam adalah segalanya bagi Nurillah. Dia tidak hanya tampan dan cerdas. Tetapi juga penuh perhatian dan kasih sayang. Tutur katanya lembuh, itu meneduhkan buat Nurillah” Jelas Nurillah memberi alasan.

“Bang Azam adalah juga pribadi yang ramah dan soleh. Nurillah sangat berbahagia memiliki pendamping seperti bang Azam” puji Nurillah berulang.

Wajah Zahra memerah. Ia merasa kalah ditimpa-timpa oleh rasa yang kian gundah. Matanya berkaca, hendak ia menumpahkan air matanya. Namun, ia mencoba memendamnya. Ia tidak hendak mengusik senyum Nurillah.

Dalam hati kecilnya yang paling dalam, Zahra hanya dapat memanjatkan harap “Ya Allah, mengapa rasa ini belum juga pergi. Haruskah aku terus menanti tentang sesuatu yang sepertinya tidak pasti. Sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain”

Zahra melepaskan pandangannya jauh ke dalam rasa. Ia melihat masa lalunya dengan layu. Tentang kenangannya bersama Azam, entah ketika di bawah purnama maupun ketika dalam cengkerama di beranda rumahnya. Semuanya terekam jelas. Zahra mengingat semuanya.Tapi semuanya bagai melayang, ergi entah ke mana.

“Ya Allah, mengapa semuanya pergi begitu cepat, dan mengapa pula aku harus menanti dalam ketidakpastian. Azam…andai kau tahu rasa hati ini…dan andai kau pun jujur dengan kata hatimu. Semuanya menjadi sempurna. Antara kita tidak ada jarak tersiksa. Kita tidak akan bergulat dengan duka. Dan hari-hari hidup kita tidak melulu berlinang air mata. Tapi…”

“Zahra” Lamunan Zahra buyar.

Nurillah memandangnya penuh tanya. Sembab mata Zahra membuat Nurillah bertanya. Garis-garis wajah Zahra, membuat Nurillah cemas. Ada sebuah rahasia yang terekam di balik jilbab jingga Zahra.

Apakah tentang Azam? Mengapa wajah Zahra tiba-tiba berubah ketika dirinya bercerita tentang Azam? Mengapa Zahra terperanjat? Nurillah mencoba menebak-nebak. Wajahnya pun tiba-tiba berubah. Ada rahasia yang membuatnya tidak melanjutkan cerita. Keduanya jatuh dalam diam yang sama. Zahra menjadi tak berdaya. Sementara Nurillah menjadi kian cemas.

“Zahra…mengapa ngelamun?” Nurillah mencoba memberanikan diri.

“Tidak…tidak apa-apa” Jawab Zahra mengada-ada. “Hanya kepalaku sedikit sakit..sepertinya migren” Tambahnya memberi alasan.

Tapi Nurillah tidak lekas percaya. Nurillah menyimpan semua rahasia itu dalam dadanya. Ia memendamkan semuanya. Mungkin dia salah menebak. Mungkin pula benar. Tetapi semuanya dibiarkan, dilepaskan. Hanya dirinya sendiri yang mengetahui kegundahan itu.

“Oh…itu mereka sudah datang” Kata Nurillah kepada Zahra. Keduanya memandang ke arah pintu gerbang Al Hidayah. Azam, Umi Umayah dan Habib Ridzki mendekat, mengucapkan salam dengan senyum tertebar.

Tetapi tidak bagi Azam. Dadanya bagai sesak. Rasanya gundah. Ia terperanjat. Ada sesuatu yang sudah terjadi antara Zahra dan Nurillah. Ia memperhatikan keduanya dengan saksama. Wajah Zahra yang sembab, seperti sedang menumpahkan duka. Tatapan Nurillah yang cemas dan sinis, seperti menagih kejujuran.

Tanpa kata terucap, Nurillah tiba-tiba meninggalkan mereka. Azam mengikuti langkah Nurillah dengan padangan yang cemas. “Ya Allah…apa yang sudah terjadi. Apakah Zahra sudah menumpahkan semua rasanya?” kata Azam dalam hatinya. Ia begitu cemas dan gugup. Ia menjadi ciut.

“Abi..Umi…Zahra pamit, hari sudah sore” Zahra mengucapkan salam dan pamit. Ia tampak tergesa-gesa. Kepada Azam pun ia tidak tinggalkan pesan. Di depan teras rumah Habib Ridzki, segala tanya berkecamuk. Umi Umayah dan Habib Ridzky tampak kebingungan. Azam sudah bisa menduga, jika semuanya akan menjadi berantakan. Dadanya kian sesak.

“Aku harus mengatakan semuanya…aku harus jujur denga kata hatiku…Nurillah maafkan aku..” katanya dalam hati, kemudian pergi meninggalkan teras rumahnya yang sepi. Habib Rizky dan Umi Umayah menyusulnya masih dengan segenggam tanya. Keduanya berpandangan. Menggelengkan kepala.

“Mmmm…”

About these ads