“Assalamualaikum” ucapan salam Zahra membuyarkan konsentrasi Azam dan Nurillah, yang sedang serius mendengarkan nasehat Habib Ridzki. Keduanya berpaling.
“Waallaikumsalam” jawab ketiganya serempak.
“Hy, Zahra…silahkan masuk” Sapa Nurillah ketika membukakan pintu. Keduanya berpelukan bagai kawan lama yang tak pernah bersua. Habib Ridzki meyambutnya dengan senyum, sedang Azam membisu dengan wajah bingung.
“Maaf Abi kalau kedatangan Zahra mengganggu, karena sepertinya Abi, Azam dan Nurillah sedang serius” Zahra memandangi Abi dengan memohon.
“Tidak apa-apa Zahra. Abi hanya memberikan nasehat-nasehat kecil buat Azam dan Nurillah. Buat anak-anak muda. Supaya mereka benar-benar setia dan taqwa kepada Allah, bukan hanya dalam kata, tetapi juga dalam tindakan, dalam pergaulan keseharian hidup mereka” jelas Habib Ridzki.
“Amin” Zahra mengangguk sambil melepas senyum.
“Ya, termasuk Zahra juga. Tetapi, Abi pikir Ustaz Zainudin sudah mengajarkan banyak hal kepada Zahra, bukan begitu Zahra?”
“Alhamdulillah Abi. Tapi selama satu minggu ini Ustaz Zainudin sedang ke Solo, jadi Zahra untuk sementara tidak mendapat bimbingannya”
“Oh ya, tidak apa-apa, Zahra bisa datang ke sini untuk sementara waktu, Abi bisa bantu. Tetapi kalau Abi lagi sibuk atau keluar kota, kan masih ada Azam atau Nurillah”
“Insyaallah” jawab Azam dan Nurillah serempak.
“Terima kasih banyak Abi, Azam dan Nurillah yang mau menolong Zahra” puji Zahra tulus.
“Tetapi, sebenarnya kalau Abi mau tahu, sebenarnya ada maksud apa Zahra datang kemari?” tanya Habib Ridzi ingin tahu. “Karena sudah hampir dua bulan kita tidak bertemu. Sepertinya ada sesuatu yang penting” lanjutnya.
“Pertama-tama Zahra mau meminta maaf kepada Abi, maksud kedatangan Zahra sebenarnya mau bertemu dengan Azam, karena ada hal kecil yang hendak Zahra sampaikan kepada Azam” jawab Zahra. Zahra mencoba berbohong, karena ia tidak mau merepotkan Habib Ridzki dengan masalahnya.
Habib Rizki mengangguk-angguk. Sementara Azam tampak mengernyitkan dahinya. Nurillah yang persis berada di samping Zahra hanya tersenyum.
“Jadi bukan dengan Abi ya? Ha..ha” Habib Ridzi melepas canda. “Oke kalau begitu. Zahra, Abi tinggal dulu ya. Sebentar lagi jam lima dan Abi harus menjemput Umi di Al-Hikam…” Pamit Habib Ridzki.
Zahra berdiri memberikan salam. Mengangguk sambil melepas senyum. Sedang Azam yang masih duduk terpaku tampak bingung. Azam tidak mengira jika kehadiran Zahra adalah ingin menjumpainya. Nurillah yang duduk persis di samping Zahra tampak sangat bahagia. Tidak ada kecemasan pada raut wajahnya. Bahkan, ia pun sengaja pergi meninggalkan Zahra dan Azam, agar keduanya dapat dengan leluasa berbicara.
“Zahra” sapa Azam.
“Ya Azam” jawab Zahra.
Hanya itu. Tidak ada tanya, pun tidak ada jawaban lagi. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Di hadapan Azam, mulut Zahra bagai terkunci. Ia duduk mematung. Walau pandangannya lekat menatap Azam. Demikian juga dengan Azam. Hendak ia menanyakan maksud dan tujuan kedatangan Zahra. Tetapi kedua belah bibirnya terasa berat. Ia tidak hanya terpaku oleh keraguan, tetapi juga oleh rasa bersalahnya.
“Zahra…apakah ada yang dapat saya bantu?”
Azam mencoba memberanikan diri. Ia mencoba berani mengalahkan tatapan mata Zahra. Sebab ia tahu, di balik mata Zahra ada harapan. Tetapi harapan itu jauh lebih besar dari sekedar harapan akan cinta darinya.
“Ya Azam, Zahra mau Azam membantu memberi solusi, walau untuk sekali ini saja” jawab Zahra. Kemudian Zahra menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya. Menjelaskan segala resiko dan tantangan yang nantinya dihadapinya. Dan berharap semoga Azam memberikan solusi dan dan jala keluar untuk masalah yang dihadapinya.
“Maafkah Zahra, karena Zahra sudah memberikan beban bagi Azam untuk berpikir”
“Astaqfirullahalazim…” Azam melepaskan istiqfar setelah mendengar semua penjelasan Zahra. “Zahra, Azam akan mencoba berusaha membantu Zahra sejauh kemampuan Azam”
“Namun, jika Zahra tidak keberatan, besok kita bisa bertemu lagi untuk mendiskusikan tentang hal ini. Azam bukan tidak mau membantu Zahra sejarang, tetapi sebentar lagi akan segera magrib”. Jelas Azam.
Bagi Azam, permintaan Zahra adalah kesempatan baginya untuk mengobati semua rasa bersalahnya kepada Zahra. Ia menyambut permintaan Zahra dengan antusias. Kecemasan di raut wajahnya tiba-tiba menghilang. Ia tampak sangat berbahagia. Walau sebenarnya dari hati kecilnya yang paling dalam kembali terbersit api cinta. Namun, sengaja ia sembunyikan itu dengan alasan yang masuk akal. Agar Nurillah tidak curiga dan ia pun bisa membantu Zahra dengan lebih leluasa.
“Alhamdulillah” Zarah memanjatkan syukur kepada Allah “Terima kasih Azam, sudah mau mendengar dan bersedia memembantu Zahra” kata Zahra lebih lanjut. Kemudian ia mengucapkan salam dan pamit.
Dalam perjalanan pulang, Zahra tak henti melepas senyum, seakan-akan segala beban hilang seketika. Ia hanya berharap semoga Azam dapat mengurangi beban yang akan dideritanya. Walau sebenarnya, dari heti kecilnya yang paling dalam kembali terbersit api cinta. Namun, sengaja ia sembunyikan itu dengan alasan yang masuk akal. Agar Nurillah tidak curiga dan ia pun bisa dengan lebih leluasa berjumpa Azam.










































