Tepat pukul 10 pagi, sehari sebelum 1 Syahwal 1431 Hijriyah, Sarah mengikrarkan syahadatnya, disaksikan Azam dan dua sahabatnya Dinda dan Dewi, serta keluarga besar pasantren Al Hidayah, Habib Ridzki, Umi Umayah, Nurillah, para pengasuh yang lain dan beberapa orang santri.
Di hadapan ustazd Zainudin dengan wajah tenang dan hati yang rela, Sarah menyatukan dirinya dalam agama Allah lewat dua kalimat syahadat.
Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh
Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah
wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh
dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul/utusan Allah
“Allahuakbar…” kata Sarah dalam hati. Beberapa menit setelah acara itu usai. Masjid Al Hidayah menjadi tempat terindah baginya di pagi hari itu. Pasantren keluarga Azam itu menjadi saksi bisu keajaibannya, yang disaksikan puluhan pasang mata penuh bahagia.
Tampak, wajah Dinda dan Dewi berkaca-kaca, melepas senyum haru. Keterkejutan dan ketakyakinan mereka terbasuh ketika itu. Habib Ridzki, Umi Umayah dan Nurillah turut berbahagia. Ustaz Zainudin, guru agama yang selama ramadhan mengajarkannya tentang islam kepadanya, tampak pula berbahagia.
Sementara Azam terpekur tunduk, larut dalam rasa yang masih terbelenggu ragu. Antara sesal, malu dan tak percaya melebur jadi satu.
“Sarah, aku turut berbahagia atas kebahagiaan yang kau alami. Semoga Allah senantiasa memberimu hidayah. Dan hari ini aku menjadi yakin, jika keyakinanmu itu adalah karena Ridho-nya dan bukan karena aku” Kata Azam dalam hatinya.
Di atas sajadah cinta dan totalitas penyerahan diri yang tulus kepada Allah, Sarah tak lelah memanjatkan terima kasihnya. Ia yakin dan percaya bahwa Allah-lah yang telah membukakan pintu baginya.
“Azam, segalanya telah berubah” kata hati Sarah ketika pandangannya membentur wajah Azam. Azam mencoba untuk menatapnya lekat, tapi Sarah segera mengalihkan perhatiannya kepada sahabat dan rekannya yang lain, yang sedang mengucapkan salam. Tak kuasa Azam menahan malu dan haru. Ia pun berlalu, dengan wajah lesu, kemudian menghilang di balik pintu.
“Azam maafkah aku…ini bukan salahku. Aku dapat merasakan kelembutan dan kebaikan di matamu. Aku tahu semuanya adalah karenamu. Tapi tidak untuk hari ini dan hari-hari setelah hari ini. Karena sejatinya Allah adalah kekasihku”
Padangan Sarah mengantar kepergian Azam. Hendak ia mengejar untuk mengatakan semuanya, agar segala rasa itu tuntas tertumpah. Tapi hendak itu mengurungnya. Azam telah menghilang dan dia pun sudah dilingkari salam bahagia kawan dan sahabatnya.
Sarah pun larut dalam kebahagiaan dan kegembiraan itu, hingga hari meninggi, dan ketika ia harus kembali ke kamarnya yang sepi. Namun dari hati kecilnya yang paling dalam, Sarah masih menyimpan janji.
“Azam, aku akan mengatakan tentang semuanya. Mengapa aku menjadi berubah. Namun, perlu kau tahu, semuanya bukan karena aku membencimu. Tetapi justru, karena kau telah membuka mata hatiku dan mempertemukanku dengan kekasihku yang sungguh. Yaitu Allah saw”










































