Religious Myspace Comments
MyNiceProfile.com

Idul Fitri adalah momen istimewa dimana segenap mukmin diajak kembali kepada dirinya sendiri, membersihkan hati dan membiarkan dirinya dimiliki Allah. Sarah meyakini itu sungguh. Penjelasan Ustazd Zainudin pada hari-hari belajarnya menguatkan keyakinan itu. Bahwa Idul Fitri adalah peristiwa fitrah bagi seoarang mukmin untuk bertemu dengan Allah. Sebuah momen perjumpaan yang ditunggu-tunggu oleh setiap mukmin setelah menjalankan puasa.

Seperti yang disimaknya dengan sungguh dari yang dituturkan Ustaz Zainudin, bahwa Idul Fitri mengandung tiga hal penting. Yakni pertama, bahwa Idul Fitri merupakan peristiwa rasa penuh harap kepada Allah. Harapan pada pengampunan dosa dan salah.

Sarah sudah melakukan pesan itu dengan sungguh. Puasa sudah dijalani dengan tekun dan serius. Ia menjalankan itu dengan tanpa celah. Kendati ia belum sepenuhnya menjadi muslimah, tetapi sepanjang bulan suci ramadhan, kekhusukan itu sudah dibuktikannya.

Momen Idul Fitri menjadi penting adalah juga sebagai kesempatan untuk melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang dilakukan telah sarat dengan makna, atau hanya sekedar  menahan lapar dan haus semata.

Ustaz Zainudin selalu berpesan kepadanya “Di siang bulan Ramadhan kita berpuasa, tetapi hati kita, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyak orang yang hanya sekedar berpuasa saja: Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar dan dahaga“.”

Sarah pun menyadari itu sungguh. Segala risau dan kecemasan ia maklumi sebagai batu ujian Allah atasnya. Ia tidak hanya memaafkan dirinya sendiri, tetapi juga yang paling menyakitinya, yaitu Azam. Kekecewaan dan sakit hatinya atas Azam pupus. Dengan jiwa besar, Sarah memberikan pemaafan itu dengan ikhlas.

Selanjutnya yang ketiga adalah, seperti yang dipahami Sarah, momen Idul Fitri merupakan kesempatan untuk mempertahankan nilai kesucian yang sudah diraih. Ustaz Zainudin, guru agamanya yang baik hati dan penuh perhatian menjelaskan pula pesan itu kepadanya berulang:

“Kita diharapkan agar tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, ketaqwaan kepada Allah harus terus dilanjutkan hingga akhir hayat”

Firman Allah SWT: “Hai orang yang beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam ” (QS. Ali Imran: 102). Demikian Ustaz Zainudin mengutip ayat Quran, untuk menegaskan pesannya.

Namun bagi Sarah, Idul Fitri, 1 syahwal 1431 H, menjadi moment yang paling berbahagia. Selain ketiga pesan yang disampaikan Ustazd Zainudin dijalani dengan sungguh sebagai ungkapan penyerahan dirinya yang tulus kepada Allah.

Juga, hari-hari hidupnya menjadi lebih bermakna, karena Idul Fitri pada 1431 Hijriah merupakan yang pertama, terindah dan terbahagia. Menjadi yang pertama karena pada ketika itu, Sarah masuk dalam keluarga besar jemaat Islam, yang mengakui nabi besar Muhammad saw sebagai Rasul Allah.

Menjadi yang terindah dan terbahagia karena ia menjadi muslimah, persis pada bulan suci Ramadhan. Bagi Sarah, itu adalah momen yang tak terlukiskan dengan kata.