Pesan Sarah yang disampaikan Dewi dan Dinda tentu saja mengejutkan Azam. Dadanya bergetar. Jiwanya berontak. Hendak ia menolak keputusan Sarah, dan mengatakan tidak atau jangan, tapi ia tidak kuasa. Ia tak dapat mengelaknya bukan hanya karena keputusan Sarah sudah bulat. Tetapi juga karena ia turut berperan dalam skenario kehidupan Sarah.
“Ya Allah, ke dalam tangan-Mu kupasrahkan semuanya…sebab segalanya hanya Engkau yang tahu ya Allah”
Sepanjang malam itu, Azam tak dapat memejamkan matanya. Bathinnya bergejolak. Bertubi-tubi datang pertanyaan yang tak tuntas dijawabnya.
“Sarah…apakah engkau yakin dengan keputusanmu? Sudahkah engkau perimbangkan segala resiko yang akan mendera hari-harimu? Apakah sudah engkau katakan tentang maksud dan tujuanmu kepada kedua orang tuamu? Jika hanya karena aku engkau mengucapkan syahadat, maka segalanya akan menjadi sia-sia. Sarah, aku berharap bukan karena aku, engkau menjatuhkan keputusan ini”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti. Membentur-bentur ruang kepalanya. Mencabik-cabik hatinya. Hendak ia bertafakur dalam khusuk, tetapi bathinnya meronta. Hendak ia pejamkan mata, tetapi kegelisahan itu membangunkannya.
“Ya Allah…ya Rabb” Azam berpasrah. Di kamarnya, ia berjalan bagai mengelilingi kabah. Tasbih di tangannya tak ia lepaskan, walau bukan untuk apa-apa, selain menjadi pelepas kesal. Sesekali ia memandang keluar jendela. Tak ada siapa, tak ada apa. Gelap.
“Sarah…seharusnya bukan sekarang….bukan sekarang…bukan sekarang… Aku tahu kau akan melakukan itu. Dari hati kecilku yang paling dalam aku tahu kau akan memilih jalan ini. Aku pun tahu kalau kau tak akan pernah ingkar janji. Tetapi…. tetapi mengapa engkau melakukannya begitu cepat?
“Dari hati kecilku yang paling dalam, aku berjanji bahwa aku tak akan pernah meninggalkamu. Tentang itu aku bersumpah…namun demikian aku berharap, semoga bukan karena aku, engkau mengambil keputusan ini. Sebab itu akan menjadi penghalang bagimu”
“Ya Allah…ya Rabb…. ke dalam tangan-Mu kupasrahkan semuanya…sebab segalanya hanya Engkau yang tahu ya Allah”
Gelisah Azam kian memuncak. Kescemasan kian mendera jiwanya. Ia benar-benar tak kuasa atas semua tanya yang menerjangnya. Segala sendi pada raganya bagai terlepas. Kepalanya berdenyut.
Namun ia berusaha untuk tetap tenang. Beberapa saat ia terdiam. Mengosongkan segala tanya dari ruang kepalanya. Ia menyudahi perjalannya mengelilingi kamar. Menarik kursi dan menjejakkan duduknya. Azam mencoba menenangkan jiwanya. Melepaskan kecemasannya perlahan. Ia pejamkan mata, menarik napas panjang.
“Ya Allah….ya Allah…ya Allah” Kemudia Azam kembali diam. Larut dalam sepi malam.
“Sarah…engkau pasti sudah sangat membenciku. Dan oleh karena itu bukan karena aku, engkau memutuskan ini. Tetapi mengapa engkau memintaku untuk menjadi pendampingmu. Ya…ya…aku yakin, engkau mau mengatakan kepadaku bahwa bukan karena aku. Ya, aku meyakini itu” Keraguan masih menyembul dari ruang kepalanya.
“Sarah…menjadi seorang muslim berarti hanya mempercayai Allâh sebagai satu-satunya Allah. Itulah hakikat syahadat yang sesungguhnya dan utama. Allah adalah Tuhan dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi tujuan seseorang. Jadi dengan mengikrarkan syahadat, seorang muslim memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allah sebagai tujuan, motivasi, dan jalan hidup”
“Sarah…syahadat juga merupakan pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allâh. Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini ajaran Allâh seperti yang disampaikan melalui Muhammad saw, seperti misalnya meyakini hadits-hadits Muhammad saw. Termasuk di dalamnya adalah tidak mempercayai nabi siapa pun setelah Muhammad saw”
Azam mencoba menguraikan sejatinya maksud syahadat. Sekedar untuk menenangkan jiwanya yang resah. Dan membangun keyakinan kalau-kalau, Sarah memutuskan untuk mengucakan syahadat adalah karena alasan seperti yang dimaksud kebanyakan mukmin.
“Sarah…bukan karena aku, bukan? Karena demi Allah dan Nabi-Nya, maka besok, sehari sebelum 1 Syahwal 1431 H, tepat jam 10, seperti yang kau sampaikan, aku akan mendampingimu”
Dari tempat duduknya, Azam menengadah. Memanjatkan doa. Memohon pertolongan dan petunjuk Allah. Kemudian, dengan gontai ia pindahkan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang. Bukan untuk pejamkan mata. Karena subuh sebentar lagi datang. Azam hanya melepaskan lelahnya. Setelah sepanjang malam bergulat dengan kecemasan, dan sekian pertanyaan yang tak tuntas dijawab.









































