“Hy…hy…hy…bangun……………………….” Sarah bagai dicekik. Dadanya sesak. Mukanya pucat pasi. Lamunannya terbang. Suara Dinda dan Dewi yang tiba-tiba menyeruak dari balik pintu kamarnya membuatnya terperanjat.
“Iihh…..kagetin aja….ketok pintunya, alasamualaikum dulu” umpat Sarah sambil membenarkan posisi duduknya.
“Ya..ya..ya…maaf” Dinda merengek.
“Asalamualaikum Sar….” Dinda memberi salam.
“Ya…udah…duduk sini” Sarah meminta dua sahabatnya agar mendekat.
“Ada apa sih Sar…sms kita-kita, pake penting segala, darurat, gawat…kayak ada gempa bumi aja” ceplos Dewi.
“Kau pun membuatku terperanjat. Membuat dadaku sesak. Kau tertidur karena lelah. Ataukah karena jiwamu yang terkulai. Aku datang sekarang. Memberikanmu jawaban-jawaban. Memberikanmu cerita tentang cinta. Mengajakmu mengisahkan tentang kehidupan…Sarah ada apa??” Dewi melepaskan cerewetnya. Di kamar itu dia pentaskan teater. Membaca sajak.
“Ah….apa sih Wi…teater melulu…ne gawat ne” tegur Sarah.
“Ya ne bocah…gak tau tempat…emang di sini sanggar teater apa???” Dewi mengekor.
“Oke..maaf…ya udah…sebenarnya ada apa sih Sar” Dinda melembut.
“Sarah mau minta bantuin lo berdua….mau kan?”
“Bantuan…bantuan apa yang tak dapat kami berikan untukmu sahabatku…apa pun tawaranmu akan kami laksanakan, yang penting bukan ke kubur…” Lagi-lagi Dinda.
“Woi..apa-apaan sih lo, serius ne. Mau ke kuburan..pentas teater di sana aja” Dewi benar-benar marah.
“Hehe…Nda, senang dech punya sahabat kayak lo…menghibur banget” Sarah tidak dapat menahan tawanya, melihat sahabatnya Dinda yang selalu pancarkan kecerahan dari wajahnya. Dinda tersnyum mendengar pujian itu. Dia mendekat dan duduk di samping Dewi.
“Sar minta tolong ke kalian berdua untuk pergi ke pasantren Al Hidayah…jumpai Azam, sampaikan ke Azam kalau besok jam 10 pagi damingi Sarah di masjid Al Hidayah”
“Untuk apa Sar…??” Dinda dan Dewi mengejarnya ingin tahu.
“Besok jam 10 pagi, Sarah mau bersyahadat”
“Apa…serius Sar?” Dewi ternganga.
“Hehehehe…….” Dinda terkekeh.
“Gila lo Sar….apa gue gak salah dengar?” Tanya Dewi. “Becanda kan Sar?…lo dah gak gila kan?…lo masih waras kan? Normal kan?” Sedertan pertanyaan itu meletup-letup dari dari mulutnya. Dari hatinya yang paling dalam, Dewi masih belum percaya.
“Sar…Sekarang Sar bicara yang serius, sebenarnya untuk apa kami diajak ke sini…apa untuk mendengar yang lebay kayak gini? Dinda menyusul dengan tanya.
“Ya untuk itu. Untuk itu Sarah ajak kalian dua ke sini…dan hanya kalian berdua Sarah bisa percaya. Sarah juga yakin, kalian berdua bisa bantu Sarah”
Sarah menatap lekat wajah kedua sahabatnya. Dewi dan Dinda tak dapat menahan haru. Antara gembira dan tidak percaya, marah dan bahagia, keduanya terdiam. Keduanya pun memandang lekat wajah Sarah, seakan-akan meminta kepastian. Menagih kebenaran.
“Wi…Nda…dah lama Sarah memikirkan ini. Bergulat dengan ini. Sarah memutuskan jalan ini dengan menangis. Maafin Sarah, kalau selama ini Sarah gak jujur dan menyembunyikan semuanya ini. Karena Sarah gak mau kalau Wi dan Nda terlibat. Karena resikonya akan lebih besar” jelas Sarah.
“Ya..ya..kami paham itu”
“Ya..”
Dewi dan Dinda memakluminya. Karena keputusan untuk bersyahadat dan memilih Islam menjadi agama adalah pilihan pribadi. Mereka pun sadar, jika mereka mengetahui ini sejak awal, maka mereka bisa diseret, suatu saat, sebagai penghasut.
“Subahanaallah”
“Alahu akbar”
Dewi dan Dinda menengadah. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Sarah akhirnya memilih menjadi penganut islam. Namun demikian, dari hati mereka yang paling dalam, masih terganjal pertanyaan yang belum tuntas dijawab.
“Tapi bukan karena Azam kan Sar?”
“Ya..ya, bukan karena dia maka Zar mau bermualaf kan?”
Dewi dan Dinda kembali mengejar dengan tanya. Bagi keduanya ini bisa menjadi soal di kemudian hari.
“Sarah mengenal Islam karena Azam…cintanya, kelembutan, perhatian dan kasih sayangnya kepada Sarah membuat Sarah berubah. Tetapi ketika Sarah ditinggalkan Azam, Sarah menjadi tak berdaya. Sarah menjadi benar-benar sebatang kara” Suara Sarah tampak kian berat.
“Tapi, ketika Sarah memikirkan dengan matang…Sarah menjadi semakin yakin bahwa pengalaman perjumpaan dengan Azam hanyalah awal dari semuanya. Sarah perlahan-lahan mencoba meninggalkan cinta Sarah kepada Azam. Sarah menemukan keindahan cinta dan kebahagiaan dalam Islam. Sarah mencintai Allah dan Nabi-Nya Muhammad” Sarah menitihkan air mata. Ia benar-benar melepaskan semua rasanya.
Dewi dan Dinda pun tak dapat menahan keharuan yang sama. Keduanya pun menjatuhkan air mata.
“Subahanaallah…Subahanaallah…Subahanaallah” Dewi dan Dinda melantunkan itu dengan gembira.
“Wi..Nda…jangan tinggalin Sarah…Sarah mohon, tuntunlah dan dampingi Sarah…Sarah pasti akan mengalami banyak tantangan ke depan, tetapi Sarah harus memilih ini, sekarang…segala rahasia hidup Sarah hanya alam dan Tuhan yang tahu”
“Amin…”
“amin”
Dewi dan Dinda bersahut-sahutan.
Keduanya menenangkan Sarah beberapa saat. Hari sudah beranjak senja. Sebentar lagi waktunya berbuka. Dengan dada yang masih menggelantung tanya. Dengan rasa yang masih meletup-letup bimbang, keduanya pergi meninggalkan Sarah untuk segera menjumpai Azam.
“Sar…kami berangkat sekarang ya? Keduanya pamit, kemudia bergegas tergesa-gesa membiarkan Sarah dalam kesendirian. Sarah mengangguk. Melepas senyum penuh haru.










































