Nurillah tak dapat melukiskan dengan kata atas semua peristiwa yang dialaminya. Semuanya bagai kejutan. Semua bagai anugerah. Semua bagai hidayah. Sudah sejak cintanya diterima Azam, hari-harinya di Al Hidayah menjadi kian sempurna. Di sana ia belajar menjadi mukmin sejati. Di sana ia dicintai oleh anak didik dan keluarga Habib Rizdki. Dan di sana pulalah cinta yang dinanti hadir menjadi nyata dalam diri seorang Azam.
“Subhanaallah”
Hari-harinya menjadi penuh makna. Cintanya yang tulus kepada Azam menjadikannya perempuan yang sangat berbahagia. Pada setiap pagi, siang dan malam, tak lelah ia panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Karena ia yakin bahwa cintanya kepada Azam adalah atas ridho-Nya.
Sebagaimana Firman Allah Subhanallohu wa Ta’ala: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum: 21)
Nurillah meyakini itu. Cinta yang dibangunnya bersama Azam adalah cinta yang tulus dan suci. Walau untuk menjadi istri belum terpikir. Tetapi kebahagiaan itu sudah dialaminya menjadi kian dekat, kian nyata. Apalagi Habib Rizdki sudah mengetahui itu, kalau antara putranya, Azam dan Nurillah sudah menjalin kasih.
Tapi Habib Rizdki tak hendak mengusiknya, sejauh cinta yang dibangun berjalan sesuai nilai-nilai dan norma islami. Dan cinta itulah yang sudah sedang dijaga Nurillah. Sebagai manusia biasa, Nurillah pun sadar bahwa apa yang sudah ia berikan kepada Azam dalam cinta adalah tindakan yang manusiawi. Dan oleh karena itu, Nurillah tetap mempertahankan cinta itu agar tetap berjalan dalam bingkai dan norma agama.
Sebab, seperti yang dikatakan Habib Ridzki, bagi seorang muslim dan beriman, cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah. Segala bentuk dan rupa cinta walau tanpa batas ruang dan waktu, pun pula kepada siapa dan apa pun. Namun yang pasti bahwa semuanya harus bersumber dari dan kepada cinta Allah.
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Al-Baqarah: 165). Demikianlah Habib Rizdki selalu mengutip sebagai pengingat pada setiap nasehat.
Inilah kekuatan bagi Nurillah dalam menjalankan cintanya bersama Azam. Ia menjadikan ungkapan cinta itu sebagai ibadah. Ia tidak hendak mencemarinya dengan hasrat manusiawi dan apalagi kenikmatan sesaat. Bagi Nurillah cinta itu suci dan tulus. Cinta adalah fitrah dalam peristiwa manusiawi manusia. Cinta adalah satu hubungan suci antara dua hati. Ia adalah anugerah Allah, sebab itu ia sangat bermartabat.
Cinta yang tulus dan murni adalah kurnia Allah. Ia tidak datang menyembah dengan percuma. Allah akan menganugerah rasa cinta dan kasih pada mereka yang bersungguh berusaha mencarinya, tetapi tidak boleh melebihi cintanya kepada sang pemberi cinta yaitu Allah SWT.











































2 tanggapan kepada “Hanya Alam dan Tuhan Yang Tahu (14)”
mosadaki
September 8th, 2010 pada 07:47
karya yg santun dan mencerdaskan…. teruskan karyamu sahabat…
kris bheda somerpes
September 8th, 2010 pada 16:23
terima kasih kae ari..atas dukungan dan motivasinya