Mimpi itu pun mekar. Sarah. Tubuhnya dibalut kain putih bagai jubah. Tak sedikitpun kulit tubuhnya tampak ke permukaan pandangan mata. Wajahnya bercadar, hanya setengah mata memekar pancarkan cahaya. Dari balik cadar, ia tak lelah melepas senyum cerah. Jiwanya menjadi sangat berbahagia di balik raga yang menawan.

Keanggunan yang tak terlukiskan dengan kata, menjadikan Sarah serupa permaisuri alam raya. Jumbai cadarnya melayang-layang ke udara. Menyapa sinar-sinar bintang, menyapu-nyapu terang rembulan. Ujung-ujungnya terbetang antara utara dan selatan. Ujung-ujungnya yang lain jatuh di timur dan barat.

Singgasana yang megah. Semilir angin timur menyapu wajahnya. Desirnya bagai nafiri. Ia tegak mematung penuh anggun, seperti sedang menunggu titah khalik. Kemegahan, kanggunan, dan kecantikannya, membuat Sarah menjadi  serupa ratu semesta.

Dalam menunggu. Dari kejauhan, dari arah matahari merekah, di batas pandangan matanya terjauh, muncul bayangan putih yang melezat kian mendekat. Seorang pria tampan tiba-tiba muncul dihadapannya dengan mengendarai kuda berpelana emas, berpakaian bagai raja dengan kopiah dari anyaman sutra emas. Tangan kirinya memegang tali kekang. Sedang pada tangan kanannya menggenggam biji-biji tasbih.

Wajahnya teduh, berwibawa. Pandangan matanya berkharisma. Senyumnya elok menebar harum semerbak. Dengan gagahnya sang pria menunduk menyapa penuh mesra menggenggam tangan Sarah menuju ke arah matahari merekah.

Sarah menyambutnya dengan hangat. Alam raya menjadi latar terindah, dan sabana menjadi pijakan permadani cinta. Langit menjadi atap, dengan bulan yang setia melepaskan wajah cerah, kerlap-kerlip bintang menambah malam jadi temaran. Tiada derita, tiada air mata. Yang ada hanya damai dan kehangatan.

“Sarah” suara itu menggetarkan Sarah. “Ya, Aku” jawab Sarah penuh bahagia. “Azam” Sarah balik menyapa. “Ya, Aku” jawab Azam pun pula penuh bahagia. “Allah hu akbar” keduanya sama-sama melepas pujian. Entah siapa yang mendesak, semuanya bagai se-ia sekata.

Tanpa ragu Sarah menjatuhkan diri dalam pelukan Azam, Sarah melepaskan segala resah. Wajahnya menengadah, dengan mata setengah terpejam. Ke dalam pangkuan Azam, Sarah melepaskan semua, menyerahkan segala. Bagai doa, bagai sembahyang, Sarah berpasrah.

Azam terpesona. Ia terkesima. Dadanya bergetar, menatap  rekah bibir indah di balik cadar yang setengah terbuka. Tapi, Azam tak menyentuhnya sedikit pun. Keindahan bibir yang tak pantas untuk disentuh dengan hasrat, tetapi oleh cinta. Dan itu bukan sekarang.

Hanya pada bening kening Sarah, Azam melepaskan cintanya. Sebuah penghargaan atas ketulusan yang tak terlukiskan dengan kata. Dua belah bibirnya menyapa lembut. Seakan mengatakan, semuanya akan menjadi nyata dan bukan hanya sebatas angan.

Sarah menutup cadarnya dan menitihkan air mata. Cinta. Terlukis sebuah peristiwa rasa tanpa dosa, tanpa salah, tiada sesal, tiada pula pengampunan. Segalanya putih suci mempesona.

Disaksikan malam dengan purnama dan kerlap-kerlib bintang. Serupa dimaklumi alam semesta, Sarah memandang lekat wajah Azam, seakan menagih kepastian. Tetapi ia tak mengucapkan apa-apa. Hingga Azam memapahnya penuh sayang menuju pelana cinta. Bersama kuda, keduanya pergi bagai terbang. Entah ke mana.

Hingga Fajar pagi merekah, mambangunkan Sarah yang pada kedua belah bibirnya masih menggelantung rembulan. Senyum purnama. Ia seperti lupa akan segala duka. Hilang akan segala air mata. Mimpi telah mengusir kegundahannya, walau belum benar-benar tuntas.

About these ads