Dalam ketidakmenentuan, Azam menjadi perenung penuh tanya. Wajahnya menjadi tampak lebih dewasa. Tutur katanya menjadi lebih bijaksana. Namun  dalam kesendiriaan, bathinnya meronta. Ia selalu merenungi  kesendirian Sarah. Dan karena keputusannya, kadang  ia merasa menjadi lelaki yang berdosa. Bersalah.

“Mengapa aku harus melepaskan ketulusan cinta. Bukankah cinta melampaui agama, suku dan budaya mana pun. Ya Allah…hanya kepada-Mu aku berpasrah. Alam mendengar keluh kesah ini. Dan kepada-Mu aku pinta pengharapan” Selalu seperti itu Azam melantunkan doa yang serupa keluh.

Dalam kesendirian pada hari-hari sepinya di Al Hidayah. Dalam lantunan madah-madah syahdu. Kian hari kian sepi. Ia berzikir kian khusuk. Ia mengaji kian rutin. Sembahyang menjadi tiang utama. Tetapi perlahan-lahan rasa itu menjadi bermakna. Ia seakan-akan kembali menjadi lelaki yang menawan. Penuh kejutan dan keajaiban. Pancaran matanya kian cerah. Senyumnya tampak setengah mekar.

Semuanya menjadi berubah karena Nurillah. Nurillah adalah salah seorang santriwati pindahan dari pasantren Al Mukmin. Nurillah dipindahkan dari Al Mukmin atas permintaan Habib Zukri, ayah Azam untuk membantu Azam mengajarkan shallat kepada anak-anak di lingkungan pasantren yang kian hari kian banyak jumlahnya.

Kehadiran Nurillah serupa penyejuk rasa bagi Azam, sedang bagi Nurillah perjumaannya dengan Azam seperti mimpi menjadi kenyataan. Lantaran itu dengan senang hati Nurillah menerima tawaran itu. Namun bukan karena pertama-tama untuk membangi ilmu pengetahuan, tetapi lebih karena sudah sejak lama ia memendam rasa cintanya kepada Azam.

“Bang Azam, semoga Nurillah dapat memberikan yang terbaik kepada anak-anak. Dan semoga pula bang Azam dapat membimbing Nurillah” pinta Nurillah di awal perjumpaan.

“Ya Nurillah, Abang juga merasa sangat berbahagia…kehadiran Nurillah semoga dapat mengurangi beban abang” jawab Azam memberi kepastian.

Dari hati kecil Nurillah yang paling dalam, Azam adalah sosok lelaki idaman. Dan Nurillah berharap semoga dengan perjumpaan itu, cintanya kepda Azam menjadi nyata. Kecantikannya, dengan parasnya yang elok, senyumnya yang menawan, tutur katanya yang lembut, serta penampilannya yang santun  bukankah dapat membuat Azam jatuh hati? Nurillah kadang melepas impian itu.

Gayung bersabut, karena kedekatan itu, Azam pun mulai membalas senyum manis Nurillah. Kadang, wajah-wajah mereka berdekatan dalam senyum yang akrab. Mereka membenturkan padangan-padangan mereka, melepas senyum-senyum manja. Melepas tawa-tawa gembira dalam aneka kisah dan cerita.

Azam seperti sudah mulai bangkit dari murungnya. Kehadiran Nurillah dalam kehidupannya membuatnya menjadi lelaki periang.

“Bang Azam, mengapa bang Azam begitu berbahagia?” selidik Nurillah suatu ketika. Para santri memperhatikan mereka dengan saksama. Nurillah seperti meminta jawaban tulus dan sungguh dari Azam. Tapi Azam tak pernah memberikan jawaban yang tuntas “Hanya alam dan Tuhan yang tahu” hanya sepenggall itu.

Namun, Nurillah tidak patah semangat, jawaban Azam adalah kekuatan baginya untuk terus berharap. Terus berusaha untuk menjadi yang terindah di hati Azam. Walau sejatinya kegembiaraan Azam hanya sebuah pelarian yang sebentar. Karena sesungguhnya di hatinya yang paling dalam masih ada Sarah yang di seberang tempat terus menitihkan air mata dalam penantian yang panjang.