Empat bulan sudah Azam mencoba melupakan Sarah. Melepaskan segala kenangan indah pada malam-malam panjang. Melupakan segala cengkerama, termasuk sebekas ciuman lembut pada kening di hari ulang tahun Sarah. Melupakan segala pemberian dan kado-kado indah, yang selalu mereka tukarkan pada setiap akhir pekan, entah sekuntum mawar, entah sepasang boneka, entah sebuah buku bacaan atau pun penggalan-penggalan kisah yang mereka kisahkan bersama di bawah purnama.

Azam mencoba untuk yakin dengan dirinya sendiri, untuk membiarkan Sarah berjalan sendiri dalam ketidakpastian. Membiarkan Sarah menjadi sebatang kara, tanpa pelukan cinta. Membiarkan Sarah menyepi di kesendirian, bagai merpati putih yang terbang dengan sayap-sayap patah. Kepada Sarah, Azam tak meninggalkan apa-apa, selain hanya sebuah kesan penasaran yang mendalam. Yang membuat Sarah selalu merindu dalam linangan air mata. Membuat Sarah tak dapat pulihkan pikiran, karena selalu terbayang-bayang masa depan yang terpangkas dengan tiba-tiba oleh cinta yang timpang.

Di bawah sinar purnama, empat bulan silam, Azam menjatuhkan pilihan yang berat. Ia, bukan hanya meninggalkan ketulusan cinta Sarah, dan membiarkan Sarah linglung dalam ketidakpastian. Tetapi juga membohongi dirinya sendiri, seolah-olah ia tidak pernah mengenal dan mencintai Sarah. Azam bahkan memenjarakan dirinya sendiri dalam rasa yang terluka. Membuatnya juga linglung dibebani rasa yang tak tuntas.

Hari-harinya hanya berparsah, kepada alam yang selalu memberi kesejukan dan keindahan, dan kepada Tuhan yang memberikan kebahagiaan yang tak terhingga. Hanya kepada alam dan Tuhan, Azam berpasrah. Namun demikian bukan tanpa alasan Azam menjatuhkan pilihan yang sulit lupa itu. Ia menyadari sungguh bahwa antara dirinya dan Sarah terdapat perbedaan yang besar.

Keduanya tidak hanya lahir dari rahim budaya yang berbeda, tetapi juga dari keyakinan yang juga tidak sama. Azam, dididik dan dibesarkan dalam tradisi islami yang ketat dan taat. Pasantren Al Hidayah yang diasuh ayahnya menjadi simbol bahwa keluarganya adalah mukmin sejati. Setiap saat dan pada setiap kesempatan ia diajarkan untuk selalu memperkaya diri dengan aqidah. Mengaji, berzikir dan melakukan amal sholeh adalah kewajiban yang hampir tak pernah alpa dilakukannya.

“Sarah…perbedaan antara kita terlampau jauh. Kita tidak hanya dilahirkan dari rahim kebiasaan yang berbeda, tetapi juga oleh budaya dan agama yang hampir tak dapat diperjumpakan” demikian Azam berujar empat bulan silam.

“Aku adalah seorang muslim, dan kau Sarah, seoarang Kong Fu Chu yang berkepribadian lembut. Sulit bagiku untuk masuk lebih dekat dalam kehidupan dan kebiasaanmu. Demikian pula sebaliknya, kau Sarah, amat beresiko untuk selalu ada di sampingku. Oleh karena itu. Bukan aku tidak mencintaimu, tetapi karena aku mencintaimu dengan tulus, dan menghargai siapa dirimu, maka aku putuskan supaya kita kembali ke jalan masing-masing. Seperti dulu, ketika engkau tidak mengenalku dan ketika aku tidak mengenalmu”

Ketika itu empat bulan lalu, Azam menuturkan itu masih dengan ragu menggelantung di dadanya. Sesungguhnya ia tidak yakin betul akan keputusannya. Apakah keputusannya itu baik atau buruk pada ketika itu. Namun yang pasti, hingga empat bulan berlalu, ia bagai berkaca pada wajah Sarah. Sarah selalu datang membayangi malam-malamnya. Memanggil-manggilnya kembali. Berharap cinta itu kembali.

Melekat dalam ingatannya, pada empat bulan silam, wajah Sarah yang sembab karena duka. Yang tak dapat melontarkan kata-kata, selain menampakkan wajah seperti ditampar tiba-tiba. Wajah yang linglung tanpa rupa. Seonggok tubuh yang serupa dikhianati, dengan hati yang tercabik-cabik. Yang menatap ke arahnya penuh pasrah “Azam…suatu saat aku akan berada di sampingmu, dengan jilbab jingga menyapamu pada pagi-pagi merekah dan senja-senja berpulang”

Tapi ketika itu, Azam bagai tak peduli. Keputusannya seakan-akan bulat. Namun setelah empat bulan sudah, Sarah hadir menjadi semakin tampak. Sebab, jauh sebelum duka itu merundung datang, Sarah sudah berjanji akan mengucapkan syahadat. Dan ketika Azam hadir dalam kehidupannya, moment pembuktian itu menjadi semakin nyata. Sarah berkeinginan menjadi seorang mualaf.

About these ads