Maleuk, demikian perempuan tua itu biasa dipanggil. Ia tinggal seorang diri di gubuknya kecilnya. Ia adalah perempuan terbuang dari suku Atoni meto Timur Tengah Selatan (TTS) propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketika usianya masih muda, perempuan yang sekarang berusia 74 tahun itu, termasuk gadis yang cantik dan periang. Namun garis hidupnya berubah kelam ketika harus menjadi korban tradisi ritual Sifon. Sekarang diusianya yang sudah senja, ia hanya dapat berharap semoga tradisi ritual ‘sesat’ tersebut dapat segera punah, ‘biar mati bersama saya’ ujarnya lirih sambil terus memamah sirih pinang.
Sepenggal Tradiri Ritual Sifon
Tradisi ritual Sifon adalah tradisi sunatan untuk laki-laki dewasa (biasanya untuk mereka yang sudah beristri dan punya anak) yang dalam proses penyembuhannya harus melakukan hubungan badan dengan perempuan tertentu yang bukan istri atau anggota keluarga dekat. Mereka menolak proses penyunatan sejak masa kanak-kanak, karena diyakini tidak sehat dan bisa menyebabkan impoten.
Tradisi ritual ini muncul dan berkembang sampai sekarang (kendatipun sudah hampir punah dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi) di daerah Timor Barat terutama di suku Atoni Meto dan Dawan Timur Tengah Selatan (TTS), suku Malaka di Timur Tengah Utara dan beberapa daerah di kabupaten Belu. Beberapa tempat ini termasuk bagian wilayah dari propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
Ritual sifon ini biasanya dilakukan pada setiap musim panen. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dari berbagai macam penyakit, juga membersihkan diri dari noda dosa dan pengaruh bala setan dan secara biologis dimaksudkan untuk menambah kejantanan dan keperkasaan seorang pria dewasa.
Proses ritual ini berupa prosesi, yang diawali dengan penyerahan mahar berupa ayam, pernak-pernik dan sejumlah uang kepada dukun sunat atau Ahelet. Selanjutnya pasien akan dihantar ke sungai untuk melakukan pengakuan dosa atau Naketi. Laki-laki yang layak disunat adalah mereka yang mengakui dengan jujur kepada Ahelet bahwa dalam kehidupan sehari-hari telah sering melakukan hubungan badan dengan beberapa wanita. Sementara yang belum pernah akan ditolak Ahelet.
Setelah pengakuan dosa Ahelet akan mulai proses penyunatan pasien dengan menggunakan sebilah sembilu atau pisau. Jika sudah disunat pasien akan dikembalikan ke sungai untuk seterusnya melakukan pembersihan dan proses penyembuhan. Dan ini dilakukan secara rutin dalam jangka waktu seminggu atau bahkan lebih.
Tetapi proses penyembuhan yang sesungguhnya adalah Sifon itu sendiri. Yakni ketika dalam keadaan luka yang masih belum sembuh total, si pasien harus melakukan hubungan badan dengan perempuan tertentu, yang telah disediakan oleh Ahelet atau yang dipersiapkan sendiri oleh si pasien. Dengan persyaratan bahwa setelah melakukan hubungan badan dengan perempuan yang bersangkutan, si pasien tidak diperbolehkan untuk melakukan hubungan badan dengannya sampai akhir hayat. Sementara untuk pria lain diperbolehkan oleh Ahelet.
Maleuk, permpuan korban ritual Sifon
Perempuan yang dijadikan sebagai korbam Sifon pada umumnya tidak menyadari kalau mereka telah melayani pasien. Mereka seakan-akan dengan rela melayani pria tersebut. Selanjutnya perempuan yang bersangkutan diyakini akan mendapatkan berkah dari para leluhur karena telah bersedia menjadi silih bala dan dosa orang lain.
Namun, tidak dapat disangkal bahwa perempuan korban Sifon akan mengalami penderitaan fisik dan mental yang tidak akan pernah disembuhkan. Mereka akan diusir dari pergaulan, tidak bersuami dan mengalami tekanan psikolgis yang berat seperti stres atau bahkan gila.
Itulah yang dialami Maleuk sampai hari ini. Matanya tampak kuning dan kuliknya bersisik pucat. Sepanjang hidupnya tidak ada seorang lelaki pun yang datang menjenguknya, kecuali puluhan tahun silam ketika Ahelet memaksanya untuk dijadikan sebagai korban Sifon.
Usia Maleuk sekarang sudah senja. Ketika muda, berulang kali pernah menjadi korban Sifon sampai akhirnya ditelantarkan di tengah hutan lontar dalam gubuk kecil yang dingin. Maleuk tahu, ritual Sifon masih berlangsung hingga sekarang, namun ia tidak dapat berteriak untuk memberhentikannya. Ia sudah terbuang dari Atoni Meto, suku yang pernah melahirkannya menjadi seorang manusia.
Namun, sebelum Maleuk menutup mata, sering dan bahkan selalu ia berharap agar ritual Sifon itu sirna-punah ‘biar mati bersama saya’ katanya.










































3 tanggapan kepada “Perempuan Korban Sifon”
tanagekeo
Agustus 30th, 2010 pada 01:25
Teringat saya para pemuda dengan ikat kepala di desa Wituromba. Mereka adalah pemuda-pemuda yang sedang dalam masa pemulihan setelah disunat. Mereka tinggal di luar kampung di salah satu pondok.
Pada malam hari ada yang diam-diam memasuki kampung dan mendapat layanan istimewa. Bila telah melewati masa pemulihan, dan dinyatakan sembuh mereka kembali ke kampung. Dan diadakan makan bersama secara istimewa. Mereka secara bergilir diundang ke rumah-rumah keluarga pemuda yang disunat.
Kris Bheda Somerpes
September 2nd, 2010 pada 11:32
Nee o om ena desa kita adat sunat???
tanagekeo
September 2nd, 2010 pada 18:18
Dua inisiasi dewasa orang Nagekeo:
Untuk lelaki “nggedho dora”, keluar mengembara untuk menjadi dewasa melalui sebuah ritual sunat dewasa.
Bagi kaum wanita “ngoa ngi’i ” upacara potong gigi untuk gadis yang siap dilamar, khusus di wilayah Ute Toto. Untuk wilayah selatan ngoa ngi’i dilakukan setelah meinkah dan sebelum melahirkan.