Sarah menitihkan air mata. Langkahnya gontai. Rambutnya dibiarkan jatuh terurai. Pulangnya tak berarah. Sinar wajahnya redup. Kecantikannya padam serupa ditikam bertubi gelap yang senyap. Ia menjadi sendiri. Yang ada hanya dirinya sendiri. Seonggok tubuh yang linglung. Ditampar-tampar angin malam. Diolok-olok burung malam. Disinis bintang redup. Ditawai mendung menggelantung.

Air matanya ingin tumpah lebih banyak. Tapi rasa itu dipendamnya. Ia mendiamkannya rapat-rapat pada rahasia yang amat dalam. Yang hanya dapat dibuka dengan air mata. Tetapi sesungguhnya hanya Alam dan Tuhan yang tahu. Sarah sendiri pun tak tahu apa-apa. Dia menyadari sungguh dia manusia lunglai. Senyumnya pudar, cantiknya padam, dan keelokan katanya menjadi hambar.

“Ugfh…” Hanya sepatah kata kesal itu. Wajahnya hampir ditampar pintu rumah. Di depan rumah, ia melepaskan butur-butir pasir yang masih melekat pada tapaknya. Ia tak ingin derita itu menghampiri kamarnya. Ruang dimana segala keindahan dikisahkan. Segala cerita ditumpahkan ke dalam catatan harian. Segala air mata bahagia dilimpahkan ke dalam mahligai Ilahi. kamarnya adalah tubuhnya. Dirinya. Pribadinya. Segalanya mengisahkan dan diskisahkan tentang hidupnya.

Belum juga lelah itu lepas, telephone genggam Sarah memanggil. Terbaca pesan tentang kisah cinta. Cinta yang seharunya lupa lalu. Cinta yang seharusnya pegi lenyap. Tetapi semakin ia diusir pergi, bagai dipanggil, ia kian mendekat ” Jelita mata bulan, merindu apa tatapanmu? apakah jelita tatapmu menatapku? kepada malam kutitipkan pesan, katakatan kepaanya, aku merindukan Sarah”

Air mata Sarah pun tumpah. Sebuah pesan tanpa alamat, tanpa nama. Tetapi kata-kata itu terasa menyayat rasa. Menyentak-nyentak ruang dada. “Azam, kaukah itu, mengapa kau membuatku menjadi sebatang kara, pada malam-malam lelah? pada malam-malam sendiri, engkau menghampiri dalam bayang. Dalam rindu yang kau ungkap, selalu kau selipkan misteri yang tak terpecahkan. Apa yang aku sampaikan? aku hanya dapat membalasnya dengan air mata.”

Dalam diam, kata-kata itu meletup-letup. Melapangkan rongga dada. “Azam, kaukah di sana? yang selalu menyapaku dalam diam? jika kau merindu, mengapa kau harus perg? Jika kau ingin menyapaku, mengapa harus selalu dalam gulita?” Keluh itu melepaskan Sarah ke luar jendela. Matanya melayang jauh ke gelap malam. Angin kecil menampar ari langsatnya.

“Bulan” Ya…bulan. Saksi tentang cinta yang selalu jujur menghadirkan kisah. Azam tidak dapat mengelabui kisah cinta yang pernah dibangun. Bulan menuturkan itu. malam menyaksikan semuanya. Dan pada lembaran catatan harian sudah dicatat semuanya. Pada halaman empat belas catatan harian, di ujung tinta jingga, tertulis sepenggal kalimat “Hanya Alam dan Tuhan yang tahu”

Namun, pada pusaran rasa, Sarah melinglung. Hingga ia benamkan tubuh pada guyuran air mandian. Sarah masih membayangkan cerita bulan, tentang kejujuran cinta. malam tak pernah berdusta, walau dia gulita. Bulan tak pernah berbohong, walau diselimuti mendung.

About these ads