Sampai aku menginjak usia dewasa, aku selalu menemukan semangat itu terpancar di wajah keempat orang yang paling kucintai. Walau ibuku sudah empat puluhan, tetapi dia begitu kuat. Dia kepala keluarga juga ibu bagi anak-anak gadisnya. Ibuku wanita tangguh. Tidak sekalipun, sejak sepeninggalan ayah, ibu mengeluhkan tentang sakitnya kehidupan.

Nurma, kakakku yang tertua, mencoba untuk selalu tersenyum walau sebenarnya di balik dadanya menyimpan pedih yang mendalam. Di balik diammnya tersimpan semangat yang membara. Berbeda dengan Mardiyah, dia tampak lebih pasrah. Dia lebih ikhlas. Kepergian ayahku tidak disesalinya dengan mendalam. Kehadiran ibuku, aku dan kakakku rupanya sudah cukup baginya untuk selalu melihat lorong kehidupan ini dengan lebih optimis.

Tetapi senyum dan semangat itu pupus pada 26 Desember 2004. Pada minggu pagi itu ibu dan kedua kakakku terkubur tanpa nisan setelah diseret gelombang tsunami. Aku kehilangan semua, kehilangan segala. Yang aku temukan hanya aku yang bagai seonggok gelondongan. Serupa tanpa rasa, aku menjadi manusia penyendiri. Pada pusaran hari aku menjadi lunglai.