Dari perpustakaan penjara inilah Karl May membaca dunia, kebohongannya dipercaya sebagai sebuah kekuatannya. Rasa bebasnya mengarahkan pena dan kertas menjadi mahakarya yang sulit lupa. Hingga suatu saat Winnetou muncul menjadi karya fiksi paling digemari. Sampai Adolf Hitler, Albert Einstein, Hermann Hesse dan Bertha von Suttner pun berdecak kagum.

Membaca merupakan kekuatan vital dalam menulis. Bahkan menjadi unsur pertama dan utama yang hanya bisa disandingkan dengan kemampuan alamiah atau bakat atau talenta menulis yang secara terus menerus diasah.

Menulis tanpa membaca adalah sebuah ketidakmungkinan. Sebab tanpa membaca siapapun tidak dapat memulai tulisannya. Tentang keterkaitan antara membaca dan menulis, atau sebaliknya, kita mesti belajar dari seorang Karl May.

Membaca bagi Karl May merupakan pelepasan untuk jiwa yang bebas. Dan baginya menulis merupakan buah kebebasan itu sendiri. Sementara bagi kita, membaca bisa juga merupakan momen kepuasan jiwa, selain untuk menambah seabrek referensi dalam ruang kepala.

Membaca Winnetou Ketua Suku Apache (yang di-Indonesia-kan oleh Pustaka Primatama), kita seakan-akan dihantar masuk ke pumikam yang keras dan liar. Kehidupan ditantang dalam rimba petualangan kejam tapi menawan. Kedekatan pada kosmos menjadi isyarat sentuhan mistis yang mencekam. Dialah Karl Friedrich May seorang penulis Jerman yang sangat populer. Lahir pada tahun 1842, namun sayang masa-masa kejayaan Karl May hanya sampai berumur 70 tahun. Karl May akhirnya meninggal karena sakit paru-paru.

Winnetou menceritakan orang Eropa yang ingin berpetualang. Tanpa sengaja, ia bertemu seorang kepala suku Indian Apache. Karena kekuatan pukulan tangan orang Eropa tersebut cukup kuat, ia disebut Old Shatterhand (yang mempunyai arti “Tangan Menghancurkan”). Dalam Winnetaou Karl May menampilkan lukisan kisah dengan amat detail, dengan alur yang mengalir serta karakter tokoh yang kuat.

Belum lagi jika menilik sederetan karya tangannya seperti ‘Pemburu Berbulu Tebal di Rio Pecos’ atau ‘Rahasia Bison Putih’. Di sana kita dihantar untuk masuk dalam rimba gografis yang penuh tantangan tetapi tetap elok. Sampai-sampai kita menggeleng-geleng kepala penuh heran, walau akhirnya menyembul rasa kagum yang mendalam bahwa Karl May sesungguhnya seorang petualang sejati.

Apakah benar Karl May seorang petualang? Jawabannya adalah tidak. Karl May adalah seorang anak manusia yang rapuh. Sejak lahir, Karl kecil menderita cacat buta karena kekurangan gizi. Untungnya, saat ia berumur 5 tahun, Karl kecil dioperasi sehingga ia bisa melihat lagi. Pada usianya sudah beranjak dewasa, kira-kira 27 tahun Karl muda dijebloskan ke dalam penjara karena dituduh mencuri jam tangan seorang teman gurunya.

Lantaran itu jadilah si Karl May yang terguncang. Tubuhnya jadi semakin luluh diterjang rasa yang bimbang. Jiwanya terombang-ambing jadi absurd. Ruang mental yang terus-menerus didesak oleh ingin dan hendak yang selalu ditolak, memaksanya untuk menjadi seorang manusia yang lain, seorang pembohong. Karl May berubah rupa menjadi manusia dengan banyak wajah. Dari balik jeruji besi tampak jelas Karl May sebagai pribadi yang terpecah.

Kepada siapa Karl May mengadu? Tidak kepada siapa-siapa. Di penjara Karl May memendam dirinya dalam perpustakaan. Sebuah pelarian, sebuah wajah lain yang coba untuk dipakainya. Karl May berhasil dengan samarannya ini. Dari perpustakaan penjara inilah Karl May membaca dunia, kebohongannya dipercaya sebagai sebuah kekuatannya. Rasa bebasnya mengarahkan pena dan kertas menjadi mahakarya yang sulit lupa. Hingga suatu saat Winnetou muncul menjadi karya fiksi paling digemari. Sampai Adolf Hitler, Albert Einstein, Hermann Hesse dan Bertha von Suttner pun berdecak kagum.

Berlarilah ke tempat pelarian jiwa yang menurutmu paling positip dan benar adalah pesan dari perjalanan hidup Karl May. Pesannya ambil dan bacalah serta berikan sedikit bumbu kebohongan menjadikan Karl May penulis paling hebat. Mengapa Karl May disebut sebagai pembohong? Karena ia membaca. Referensi bacaannya yang luas menjadikannya dia seorang petualang paling hebat, sampai masuk ke pedalaman barat Amerika yang liar dan kejam meskipun sebenarnya ia hanya terpekur dari balik jeruji penjara yang sepi.

Dapat diterima bahwa membaca merupakan kekuatan vital dalam menulis. Sebab tanpa membaca siapapun tidak dapat memulai tulisannya. Membaca bagi Karl May merupakan pelepasan untuk jiwa yang bebas dan menulis merupakan buah kebebasan itu sendiri. Sementara bagi kita, membaca bisa juga merupakan momen kepuasan jiwa, selain untuk menambah seabrek referensi dalam ruang kepala.