Tulisan ini dipersembahkan untuk penulis buku Republik Facebook.com Ansis Uba Ama atas kejeliannya membaca Indoensia.

Coba perhatikan percakapan di bawah ini:

Cowok : Akhirnya aku sudah menunggu saat ini tiba sejak lama…

Cewek : Apakah kau rela kalau aku pergi?

Cowok : Tentu tidak!! Jangan pernah kau berpikiran seperti itu…

Cewek : Apakah kau mencintaiku?

Cowok : Tentu!! Selamanya akan tetap begitu!!

Cewek : Apakah kau pernah selingkuh??

Cowok : Tidak!! Aku tak akan pernah melakukan hal buruk itu!

Cewek : Maukah kau menciumku??

Cowok : Ya

Cewek: Sayangku….

Demikian Komentar Ama Laot menanggapi status Ansis Uba Ama tentang relasi cinta yang memang tidak selalu hitam putih. Bahwa memang faktanya, relasi cinta sepasang pencinta sebenarnya tidak melulu jujur. Kadang, bukan hanya menjadi sulit dipahami, tetapi juga menipu penuh dusta. Hal itu bisa dilihat dari dialog sepasang pencinta di atas. Ama Laot mengajak kita, COBA DIBACA DARI BAWAH KE ATAS. Mengejutkan bukan?

Penggalan dialog di atas adalah salah satu bagian halaman yang menarik dari Republik facebook.com-nya Ansis Uba Ama (Gemmamedia: 2010, hal. 106). Sebuah buku yang menuturkan tentang ragam kisah dan cerita. Bukan hanya tentang ambiguitas cinta, tetapi juga tentang realitas social: keadilan, politik, demokrasi dengan segala komplesitasnya.

Namun demikian, semuanya berasal dari satu akar yang sama yakni fakta. Fakta yang sering kita diskusikan, dengar dan lihat. Fakta yang selalu menjadi kekuatan dan juga keluhan. Fakta yang membuat kita menjadi ciut, tetapi juga optimis. Fakta yang selalu kita lihat di layar kaca, halaman-halaman Koran sampai pada guratan yang tertera pada wajah-wajah sesama.

Semuanya dituturkan dengan jujur, spontan, nyeleneh, jenaka dan juga lugas dan tegas. Restu Hapsari, aktivis, mantan ketua PP PMKRI berkomentar “Meski terkesan ringan dan jenaka, beragam tulisan ini (baca: tersebut) menjadi kritik yang teramat pedas bagi siapa pun yang terlibat. Dalam skala luas, ini menjadi kritik social yang mencerahkan bagi negeri yang masih jauh dari kesempurnaan ini”.

Kritik social hanya menjadi satu poin lebih dan penting dari apa yang mau disampaikan Ansis. Dan saya menduga, siapa pun yang membaca karya Ansis akan beranggapan demikian, bahwa kita diajak untuk turut nimbrung dalam sebuah kritik social yang dengan sengaja dikemas secara jenaka.

Saya pun menduga, ketika berhadapan dengan Republik facebook.com, kita akan mengatakan ‘ini sebuah karya yang gila’. Yang lain mengatakan ‘Haha..ada-ada saja”. Gervas Rado, seorang komentator yang lain dengan kapasitasnya sebagai pekerja seni dan pencinta humor mengatakan sebagai “sebuah karya anak muda yang luar biasa. Orang ini langka, berimajinasi tinggi, konyol, ‘gila’, tanggap akan sesuatu yang terjadi, dan pandai merangkai kata….”

Tanggap akan sesuatu, seperti yang disampaikan Gervas sesungguhnya menjadi tema sentral juga ajakan moral dari Republik facebook.com kepada kita semua. Bahwa sebagai warga bangsa, yang menyadari sungguh bagian dari sebuah republik riil yang bernama Indonesia dimintai sebuah tanggung jawab untuk peka dan tanggap atas fakta.

Kritik social yang disampaikan dengan ‘gila’ dan ‘konyol’ oleh Ansis dan juga ditampilkan melalui kartun-kartun Arifin Hendra Tanujaya (Cak Rapin) memiliki sebuah landasan tutur dan penyampaian yang kuat. Semuanya dibangun diatas kepekaan membaca situasi dan kejelian menelisik fakta (dari yang remeh temeh sampai yang serius), yang selanjutnya dikontemplasikan secara cerdas agar mudah dipahami dan membuat pembaca tidak melulu berkerut dahi.

Selamat membaca Republik facebook.com. Kita tidak hanya diajak ketawa bareng, tetapi bareng-bareng melihat kondisi riil bangsa ini dengan jernih. Sehingga semua soal dan masalah dapat terselesaikan dengan bijak, walau itu butuh proses yang panjang dan tanpa henti.

Catatan: Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/09/jujur-bertutur-tentang-fakta/ dengan tanpa perubahan.