Pada awal 2010, George Junus Aditjondro pernah bikin geger Indonesia lantaran ‘Membongkar Gurita Cikeas-nya’ (Galang Press 2010). Buku setebal 183 halaman itu mengungkap praktik pemerintahan Presiden  SBY yang diduga syarat kolusi, korupsi, dan nepotisme. Buku itu, antara lain memaparkan enam yayasan yang dikelola Presiden SBY dan keluarga. Tiga yayasan berafiliasi ke SBY, yakni Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurusalam, Yayasan Puri Cikeas dan Yayasan Kesetiakawanan dan Keadilan. Tiga yayasan lainnya berafiliasi ke Ani Yudhoyono, yakni Yayasan Mutu  Manikam Nusantara, Yayasan Batik Indonesia, dan Yayasan Sulam Indonesia.

Yayasan-yayasan itulah gurita Cekeas. Sebuah  ibarat yang menurut Junus lahir dari data dan fakta. “Data itu saya kumpulkan mulai dari Poso sampai Aceh. Buku ini bukan berisi fitnah dan menghambat demokrasi. Kalau ada pihak-pihak yang  keberatan, saya siap berdebat dengan mereka. Saya juga siap mempertanggungjawabkan secara hukum,” demikian Junus berkilah.

Pertanyaan kita, apakah fakta dan data yang dipaparkan Junus dalam ‘Membongkar Gurita Cikeas-nya’ benar dan akurat? Jika ya, ibarat itu benar dan tidak curang, tetapi jika salah maka gurita fakta dan data itu bisa disebut sebagai ‘pembunuhan karakter’, curang dan fitnah.

Namun, di tengah hujatan dan pujian, seperti anjing menggonggong khlaifah berlalu, Junus dan Gurita-nya sudah dinikmati public tanah air. Guritanya tidak hanya dijadikan kiblat oleh lawan politik keluarga Cikeas, tetapi juga menjadi rujukan public yang perlahan-lahan mulai cemas dengan kepemimpinan SBY.

Pertengahan 2010, publick sejagat digemparkan dengan (lagi-lagi) seekor gurita. Gurita yang benama Paul, kelahiran Inggris dua tahun lalu yang sekarang berdiam di aquarium Sea Life, Oberhausen  Jerman  menghebohkan dunia lantaran akurasi ramalannya yang mendekati 100%.

Sepanjang turnamen sepak bola terakbar berlangsung di Afrika Selatan, Paul selalu hadir mengejutkan dengan ramalan-ramalannya yang jitu. Paul sukses meramal bagaimana Jerman mengalahkan Australia, Argentina dan Inggris. Dan teranyar adalah ketika Spanyol menumbangkan Jerman pada pertandingan semifinal Kamis, 8 Juni 2010. Seperti dirilis AFP dua hari sebelumya ( Selasa 6/7) Paul sudah memprediksikan jika Spanyol yang akan menjadi pemenang.

Inilah fakta tentang Gurita. Binatang mollusca yang mungkin tidak tahu apa-apa tentang segala persoalan dunia manusia dengan segala kompleksitasnya, justru dijadikan kiblat ‘kebenaran’ Di Indonesia Gurita Junus, oleh sebagian orang dijadikan kiblat, walau sebagian yang lain mengumpatnya. Di ajang sepak bola terakbar tahun ini, gurita pun dijadikan kiblat, walau sebagian menghujatnya.

Seperti yang dilansir sebuah Koran Jerman Der Western, yang mengumpulkan komentar dari situs jejaring sosial Facebook dan Twitter, Paul dihujani hujatan lantaran Jerman kalah. Bahkan ada yang meminta Paul dikeringkan, dipanggang, atau dibikin salad seafood.

Haha…mengapa harus Gurita?