Thomas Aquinas dalam master-piece-nya, Summa Contra Gentiles, dan bagi para teolog Amerika Latin tidak mungkin Tuhan ”ikut bermain” dalam pertandingan sepak bola melalui mukjizat (miracles), yang membuat hal yang tidak mungkin menjadi terjadi seketika. Apalagi, Tuhan diyakini bersikap adil, tidak memihak dengan menurunkan mukjizatnya kepada salah satu di antara dua tim sepak bola sehingga bisa memenangi laga.

Dua jam Hublot  melingkari pergelangan tangan kiri dan kanannya. Dua buah jam tangan yang hanya khusus bagi para legenda. Pada wajah kedua jam tangan itu tertulis angka sepuluh. Sebuah nomor yang menjadi identik dengan dirinya. Menyebut dan mengingat sepuluh, bayangan kita lantas mengarah kepadanya. Dua Hulbot hitam itu sengaja dipakainya untuk penunjuk waktu yang berbeda; yang satu menunjuk waktu lokal dan yang lain untuk waktu tempat kelahirannya.

Ke mana pun ia pergi, ia tidak pernah melupakan tanah kelahirannya. Melalui Hublot pada tangan kirinya, ia seperti selalu ingin merasakan dan mengalami sepi pagi, kesibukan siang dan lelahnya senja Buenos Aires. Ya, Buenos Aires. Sebuah kota cantik yang didirikan di atas daratan Pampa, di mana delta sungai Parana yang melebar sampai bertemu Rio de Plata. Karena kecantikan dan keagungannya Buenos Aires dikenal sebagai “Parisnya Amerika Selatan”

Dia, sang pemilik Hublot selalu merindukan kecantikan itu. Karena kecintaannya yang mendalam pada tanah kelahirannya Ia tidak takut berbuat ulah yang lantas dikenang sebagai keparat. Hal itu terbukti   menyata di Estadio Azteca, Mexiko Cyti pada 22 Juni 1986. Dimana dengan tangannya yang sekarang dilingkari Hublot, Ia tak segan membunuh Inggris. Hakim pertandingan asal Tunisia, Ali bin Naser mengesahkannya. Shelton, sang penjaga gawang terperangah. Inggris pun terluka dan sepanjang masa akan mengingatnya sebagai bajingan.

Di akhir laga media bercerita ”Un poco con la cabeza de Maradona y otro pocdo con la mano de Dios” (sedikit dengan kepala Maradona dan selebihnya dengan ”tangan” Tuhan). Ya, dialah Diego Armando Maradona. Tuan pemilik Hublot, seorang keparat, bajingan  yang sangat mencintai negaranya. Seoarang legenda sepak bola dunia. Dari kakinya, lahir gol terindah sepanjang masa. Sebuah gerakan Tango yang membuahkan gol cantik. Namun dari tanganya, Maradona tampil menjadi  pribadi yang berbeda, sebagai seorang keparat yang akan dikenang sepanjang masa sebagai pribadi yang bengal.

Menutup catatan kecil ini saya meminjam dari Azyumardi Azra, seperti yang dikutipnya dari Kirk McDermit dalam The Hand of God, and Other Soccer Miracles (2010) bahwa Tuhan tidak mungkin menyalahi salah satu sifat dasarnya, yaitu adil, dan bahkan juga tidak bakal melanggar hukum besi alam (iron law—sunatullah) yang diciptakan-Nya sendiri. (http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/18/10460430/gol.tangan.tuhan)

Azra melanjutkan, mengutip pandangan sejumlah teolog dan filosof klasik, khususnya Thomas Aquinas dalammaster-piece-nya, Summa Contra Gentiles, bagi para teolog Amerika Latin tidak mungkin Tuhan ”ikut bermain” dalam pertandingan sepak bola melalui mukjizat (miracles), yang membuat hal yang tidak mungkin menjadi terjadi seketika. Apalagi, Tuhan diyakini bersikap adil, tidak memihak dengan menurunkan mukjizatnya kepada salah satu di antara dua tim sepak bola sehingga bisa memenangi laga.

Terlepas dari segala kontroversi, Diego Armando Maradona sudah ciptakan sejarah dalam dunia sepak bola dan menempatkannya sebagai legenda. Seperti hendak membasuh segala dosa, pada jari-jari tangan kirinya melingkar Rosario dengan salib putih. Dan seperti hendak mengatakan ‘aku sudah bersih’ dia pun selalu membuat tanda salib sebelum dan seusai laga.

Catatan: http://the-dot-blog.blogspot.com/2010/06/sejuta-gaya-diego-maradona.html

About these ads