Tuhan. Bukan Maradona. Maradona adalah perantara. Tuhan seperti sedang berpihak kepada Argentina melalui tangannya. Maradona percaya dan meyakini itu dengan sungguh. Di Estadio Azteca, Mexico City hari itu Tuhan hadir melalui tangannya untuk menghajar Inggris. Menyimpan duka dan luka yang tak tersembuhkan.

Di pinggir lapangan rumput di Soccer City Stadium, Johannesburg, Kamis 17 Juni 2010, Diego Armando Maradona tampak sedang mencium seuntai Rosario kecil yang digenggam pada tangan kirinya. Dalam rekaman kamera, Maradona tampak begitu bahagia. Wajahnya sejuk. Sayu matanya tidak menggambarkan dia sebagai pribadi kontroversial apalagi bengal. Dia seperti dewa.

Sementara di tengah lapangan sebelas putra terbaik team tango berlaga. Sebelas pasang kaki itu terus menerus menggempur barisan pertahanan  negeri Ginseng besutan pelatih Huh Jung-moo. Ketika itu, jam laga akan segera usai, Argentina sudah unggul empat gol atas Taeguk Warriors. Messi cs seperti masih ingin memetik angka. Konsistensi pemain pada setiap lininya didukung skill individu yang tinggi dengan tempo permainan yang apik akhirnya membuahkan hasil yang telak. Empat satu untuk Argentina.

Kemenangan itu membawa kebahagiaan tersendiri bagi Maradona. “Saya memiliki 23 pemain kelas dunia dan mereka siap untuk bermain semaksimal mungkin demi timnas. Ini membuat pelatih mana pun merasa gembira dan tenang,” tuntas pelatih berusia 50 tahun itu seperti dilansir Telegraph.

Kado terindah Maradona untuk Messi cs adalah peluk cium. Pelatih bertubuh gempal itu mendatangi satu persatu pemain yang berada di tengah lapangan lantas memberikan cium tulus di balik pelukan kebahagiaan. Di tangan kirinya masih tampak untaian Rosario kecil itu. Pada setiap pemain yang dipeluknya, sang Diego, pencipta goal terindah sepanjang massa ini seperti sedang memberi berkat.

Dari tangan yang sama itulah 24 tahun silam Maradona ciptakan keajaiban. Pada 22 Juni 1986, di Estadio Azteca, Mexico City, Maradona melesatkan goal melalui tangannya setelah melewati lima pemain belakang Inggris. Inggris menangis, ribuan penonton berdecak kagum, marah dan histeris. Tetapi tidak bagi Maradona. Kepada media Maradona dengan bangga berujar “La Mano de Dios” (Goal tangan Tuhan).

Tuhan. Bukan Maradona. Maradona adalah perantara. Tuhan seperti sedang berpihak kepada Argentina melalui tangannya. Maradona percaya dan meyakini itu dengan sungguh. Di Estadio Azteca, Mexico City hari itu Tuhan hadir melalui tangannya untuk menghajar Inggris. Menyimpan duka dan luka yang tak tersembuhkan.

Apakah Maradona bengal? Peristiwa kehidupan Maradona seperti identik dengan kebengalan. Dia dihujat lantaran terjerak kasus narkotika, ayah yang tidak bertanggung jawab, komentator yang tidak berperasaan, pun pula pelatih yang tidak professional. Tentang yang terakhir ini Pele, pesepak bola dan juga legenda Brasil pernah bilang “Maradona menjadi pelatih hanya karena butuh uang, tidak lebih”

Tapi apa kata Maradona “Aku ingin mengirimkan permintaan maaf kepada tuan Platini melalui anda (reporter)… tapi tidak ke Pele,” tegas Maradona usai laga kontra Korea Selatan yang dikutip Reuters.

Pele seperti tertampar, dari tangan yang sama. Dari tangan yang pernah ia ciptakan goal. Sebuah goal yang tidak pernah dimaafkan oleh Inggris sampai kapan pun. Sebuah goal yang mengejutkan jagat sepak bola dunia. Sebuah goal yang akan selalu dikenang sepanjang masa, walau sang Diego tutup usia.

Pada dan dari tangan sama, Maradona menuntun kesebelasan Argentina mencapai puncak tertinggi piala dunia 2010 di Afrika Selatan. Hingga tulisan kecil ini dibuat, di tangannya masih tampak untaian Rosario kecil dengan salib perak berkilau.

Sumber gambar:

http://pialadunia.detiksport.com/readfoto/2010/06/18/105417/1381051/807/5/