Nietzsche dilahirkan di kota Röcken, di wilayah Sachsen. Orang tuanya adalah pendeta Lutheran Carl Ludwig Nietzsche (1813-1849) dan istrinya Franziska, nama lajang Oehler (1826-1897). Ia diberi nama untuk menghormati kaisar Prusia Friedrich Wilhelm IV yang memiliki tanggal lahir yang sama. Adik perempuannya Elisabeth dilahirkan pada 1846. Setelah kematian ayahnya pada 1849 dan adik laki-lakinya Ludwig Joseph (1848-1850) keluarga ini pindah ke Naumburg dekat Saale.

“Agama, yang mungkin engkau memeluknya. Tetapi engkau tidak mengenalnya. (Agama), yang mungkin engkau mempercayainya. Tetapi engkau dijauhkan olehnya” Ini adalah sekuplet dari ‘Palung Laut Merah Darah’ Alaxander Aur. Dan jauh sebelum sajak ini lahir. Dalam Also sprach Zarathustra, Nietzsche mengejutkan ruang rasa dan pikir kita dengan teriakannya: “Lihatlah, aku mengajarkan Ubermensch kepadamu. Ubermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru. Hendaknya Ubermensch menjadi makna dunia ini”

***

Sekuplet sajak Aur dan sepenggal ‘sabda’ Zarathustra di atas jelas tak terbantahkan.  Bahwa bukan hanya kepada agama kita mengambil jarak dan perlahan menjauhinya, tetapi pula kepada Tuhan, yang disabdakan para Nabi dalam Zabur, Taurat, Injil  dan al-Quran. Kita tidak hanya tidak mengetahui apa dan siapa yang kita imani, tetapi juga kita telah menampik dan melupakannya. Kita tidak hanya telah mengabaikan Tuhan seperti yang sudah kita yakini sekian lama, tetapi telah menggantikannya dengan ‘Tuhan’ yang lain.

Masih dalam Also sprach Zarathustra, melalui mulut orang gila, Nietzsche mengumandangkan kematian Tuhan “Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu”

Membaca sajak Alexander Aur, lantas mendiamkannya sesaat untuk suluk di dalamnya dengan berkaca pada apa yang dikumandangkan Nietzsche, aku jadi yakin bahwa sesungguhnya Zarahustra itu ‘telah’ kembali. Dia selalu kembali manakala menusia hanya berkutat dengan agama yang hanya sekedar memandang agama hanya sekedar dogma. Memandang setiap lembaran kitab suci sebagai sekedar lembaran hukum yang begerigi.

“Orang-orang beragama di negeri ini, tak pernah puas mengelabuimu dengan doktrin-doktrin tiranik”

Dia selalu kembali manakala kita memandang dogma sebagai sekedar senjata kebenaran yang buas dan galak, yang kadang berseru-seru meminta cipratan darah.

“Dan atas nama agama, sekali lagi atas agama, engkau dibawa ke tempat pembantaian, lalu engkau diseret ke palung laut merah darah dengan perahu-perahu kematian”

Zarahustra selalu kembali ketika manusia menemukan ‘Tuhan’ yang lain, sesosok Ubermensch. Dan pada zaman ini Ubermensch itu adalah kapitalisme dan neoliberalisme pun sekularisme. Dalam bahasa yang ringkas, Aur menyebutnya sebagai modal.

“Atas nama pemilik modal, negeri ini menugaskanmu untuk membela modal. Modal? engkau tidak tahu bentuknya. Tetapi engkau dipaksa untuk membelanya. ah…negeri ini hanya mengakui, agama-agama tiranik yang haus darah. Hanya berteman dengan pemilik modal rakus yang selalu memangsamu”

***

Kita manusia mungkin menolak ini sebagai arus besar yang sedang mendera. Tetapi berbagai fakta telah membiacarakan, dari kasus pelarangan ajaran agama sampai pada kasus terorisme. Bahwa sesungguhnya “Agama, yang mungkin engkau memeluknya. Tetapi engkau tidak mengenalnya. (Agama), yang mungkin engkau mempercayainya. Tetapi engkau dijauhkan olehnya” Ini adalah sekuplet dari ‘Palung Laut Merah Darah’ Alaxander Aur. Dan jauh sebelum sajak ini lahir. Dalam Also sprach Zarathustra, Nietzsche mengejutkan ruang rasa dan pikir kita dengan teriakannya: “Lihatlah, aku mengajarkan Ubermensch kepadamu. Ubermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru. Hendaknya Ubermensch menjadi makna dunia ini”