Setiap kata yang terlahir selalu akan menimbulkan reaksi. Seperti senja, keagungan kata selalu berada pada titik peralihan.

Aku kadang membayangkan seperti ini, Setiap kata yang tertetas akan balik manampar-nampar wajahku Setiap kalimat akan serupa godam yang meremukkan semua tulangku. Sebuah pena yang kuraut akhirnya kembali menikam tubuhku. Pena, kata dan kalimat lantas mengantarku ke pemakaman seterusnya menjadi tanda pada nisan “Selamat jalan kata”

Tidak sedikit penaku menetas kata, kadang tidak bermakna, kadang bermakna dalam banyak hal. Tetapi amat jarang engkau mencerna dengan bijak. Lantas yang meletus adalah cibir dengan melepas sederetan kata-kata bejat “Kau laknat, kau pengkhianat, untuk apa engkau menetas kata jika hanya untuk menghina orang”

Astaqfirulahallazim…maaf, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk itu. Setiap kata yang terlahir dari jari-jariku sudah kuukur panjang dan lebarnya ruang kepalamu. Aku sudah mengukur kedalaman ruang rasamu. Aku pun sudah memikirkan untuk apa menetas kata.

Tetapi, jika masih saja luncas, barang tentu ada sekelebat gelap yang menyengat di ruang rasamu. Cobalah cerna pada malam-malam panjangmu. Beginilah sekiranya harus kau paham. Aku tidak pernah bermaksud menghujat, apalagi mencederai. Aku tidak bermaksud mengumpat apalagi menelanjangi.

Aku tidak akan pernah menggunakan keagungan kata hanya untuk menamparmu. Bagiku setiap kata yang terucap adalah doa. Jika aku menuliskan sepatah kata, itu artinya bersamamu aku panjatkan doa. Doa untuk sebuah perubahan, perbaikan ke arah yang lebih baik. Pertobatan.

About these ads