Aku belum pernah bertemu sosok setan, entah dalam wujud seperti apa. Bukan hanya belum pernah, percaya pun enggan. Karena bagiku setan itu sebuah kemustahilan. Dan karena aku tidak pernah mengalami perjumpaan itu, dan aku menganggapnya sebagai kemustahilan, maka sangat menyulitkan bagiku untuk menuliskan sesuatu tentang setan.

Namun, beberapa bulan terakhir, aku mulai yakin bahwa sesungguhnya setan itu ada. Setan itu mewujud. Lantaran itu, aku mulai memberanikan diri menuliskan sesuatu tentang setan. Tentu saja, sejauh yang saya pahami tentang setan, dan serupa apa setan itu mewujud.

***

Kata orang; Jin, dedemit, momok, tuyul, sundal bolong, hantu, pocong, atau apa pun sebutan dan penamaannya termasuk dalam marga setan. Mereka adalah bangsa makhluk halus. Aku, menyebut demikian untuk membedakannya dengan aku atau kita sebagai makhluk hidup. Makhluk bertubuh, berna-nadi, dan bernapas.

Kata orang, mereka juga disebut makhluk halus, lantaran tidak bertubuh, tanpa daging dan tulang. Mereka hanya semacam tali-temali yang lentur, melayang-layang seperti kabut dan awan. Juga seperti angin dan air. Mewujud dalam binatang-binatang, benda-benda, atau bahkan manusia-manusia. Singkatnya, kata orang, pada sesuatu yang mustahil, warga marga setan mewujud.

Juga, kata orang, penggambaran atau pelukisan tentang warga bangsa ini, seringkali menyeramkan. Mereka adalah roh jahat (yang selalu membujuk manusia supaya berbuat jahat). Orang, lebih tepat disebut sebagai sosok, yang sangat buruk tabiatnya, suka mengadu, menghasut. Mereka menyeruak dalam gelap dan berkelebat dalam sepi, menghuni rumah tua yang tak berpenghuni, rimba bergua atau kuburan.

***

Demikian kata orang, namun, rupa-rupanya dalam beberapa bulan terakhir ini, kata orang itu nyaris ada benarnya. Setan, rupa-rupanya ada. Dan aku pun mulai percaya kalau mereka ada. Bahkan mereka hidup di alam nyata, ber-nadi, bernapas, bersuara dan juga bisa kentut dan berak.

Aku menemukan itu dalam ruang prasangka, dan ruang curiga. Aku menemukan itu pada sosok-sosok yang selalu curiga, berprasangka buruk dan mereka yang melejitkan tuduhan-tuduhan palsu. Mereka mengeluarkan tuduhan-tuduhan palsu seperti kentut. Tak tahu sopan santun. Tak menimbang-nimbang tata karma dan norma adat budaya. Mereka selalu curiga dan berprasangka buruk terhadap kebaikan. Kehadiran mereka serupa berak segar, masih hangat, tetapi berbau menyengat.

Mereka bergentayangan seperti roh-roh, bahkan mereka memiliki dua wajah sekaligus dalam kehidupan mereka. Di hadapan yang tertuduh atau yang dicurigai, senyum mereka seperti kembang, bau napas mereka wangi, tatapan mata mereka berkharisma, juga wajah mereka tulus. Namun pada wajah mereka yang lain, di luar perjumpaan dengan si tertuduh, mereka begitu garang. Senyum mereka seperti rongsokkan barang bekas. Bau napas mereka serupa bau semburan gas pengap dari paralon pembuangan tahi. Tatapan mata mereka bagai mata burng hantu, menghujam menembus malam. Wajah mereka seperti tahi kering penuh lalat, tanpa rupa, tak berseni, dan menjijikkan.

***

Demikianlah setan sepengetahuanku, sejauh yang aku alami dalam setiap perjumpaanku. Setan serupa ini memang tidak menyeramkan, tidak merindingkan, tidak membuat bulu kudukku berdiri. Tetapi kehadiran mereka dalam setiap perjumpaanku sungguh menyakitkan, menghujam rasa, membelah pikiran.

Untuk menghadapi mereka, para setan yang hidup dan ada, sudah kubilang kepada Tuhan, bahwa aku bisa menghadapinya sendiri. Bukan sombong dan apalagi sok bisa. Tetapi karena aku mengatakan kepada Tuhan bahwa yang aku hadapi hanya sekelompok manusia laknat, maka yang penting adalah membangun relasi dan komunikasi, walau proses untuk itu, aku tahu, pasti menyakitkan.

Sudah kubilang kepada-Nya, “Tuhan biarkan aku sendiri, jangan Engkau turun tangan”. Selanjutnya aku bilang “Jika Tuhan pun harus membantu, biarkan Engkau hadir ketika para setan itu mengaku kalah, lantas Engkau membantu memapah mereka menuju pertobatan. Ketika mereka mau kembali ke wujud semula sebagai manusia yang beriman kepada-Mu, pernuh cinta dan kasih sayang kepada sesama”.

Ketika aku meminta itu kepada Tuhan. Aku yakin, pelindung para setan pasti awas. Mereka mungkin sudah sedang mempersiapkan strategi dan langkah-langkah kongkret. Namun, kata Tuhan-ku, “Jangan takut, sebab Aku menyertaimu”.

About these ads