Dua hari terakhir, saya di-pusing-kan dengan kosa kata seumando. Dalam perjumpaan yang tidak diduga dengan salah seorang Teungku di Nagan Raya, Nanggroe Aceh Darusallam beliau mengatakan kepada saya bahwa jika menjadi seumando harus mengikuti tata krama dan adat budaya setempat. Saya mengangguk setuju, walau sebenarnya saya tidak memahami arti atau maksud dari sepatah kata seumando itu.
Ketika itu, yang ada dalam benak saya, pertama kali mendengar seumando adalah tamu atau pengunjung. Namun untuk tidak menebak dan apalagi salah mengartikan, seusai perjumpaan dengan Teungku tersebut, saya memulai pencarian. Saya melacak kamus bahasa Aceh dan membolak-balik beberapa halaman buku tentang Aceh yang ada di perpustakaan kantor.
Dalam Kamus Bahasa Aceh-Indonesia Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, terbitan Balai Pustaka 2001, saya tidak menjumpai sepatah kata itu. Namun, saya menemukan entri seumalu atau benalu. Saya menebak, apakah seumando itu sepadanan dengan semalu? Gata lagee seumalu, pat nyang taduek tepeusosah gob (anda seperti benalu, dimana anda berdiam anda menyusahkan orang).
Apakah ini maksud Teungku tersebut di atas? Apakah seumando itu tamu yang berkarakter serupa seumalu? Lagi-lagi, saya mencoba meraba-raba. Dalam kamus Indonesia-Aceh, entah apa warna cover-nya, kapan tahun terbitnya dan siapa atau lembaga mana penerbitnya saya tidak tahu persis karena sudah usang, saya mencoba mencari padanan kata ’tamu’ dalam bahasa Aceh. Dalam entri ’tamu’ saya hanya menemukan sebarisan kata: jamee, ureueng neudom ba’ hote, ureueng mubloe. Sederetan kata yang membuat saya harus mengernyitkan dahi dan menggelengkan kepala.
Lantas, apakah arti kata seumando? Dalam http://ketapang.awardspace.com/news.php?newsid=8 di bawah judul Karakter Orang Aceh: Memuliakan Tam, yang diposting pada Senin, 08.01.2007 – 20:42, saya menemukan sekelumit arti sepatah kata itu. Di sana dijelaskan secara singkat bahwa para tamu atau pendatang (yang dating) ke daerah Aceh dikenal sebu-tani Seumando. Ureueng seumando merupakan orang pendatang atau menumpang pada keluarga, suku, daerah dan bangsa lain. Walau sekelumit, cukup menguatkan saya, karena itu artinya tebakan saya hampir pasti benar.
Dan yang lebih meyakinkan saya adalah ketika saya menemukan arti sepatah kata itu dalam tulisan Muhamad Umar atau yang biasa disebut Muhamad Emtas. Emtas dalam Darah dan Jiwa Aceh-nya, (Boebon Jaya:2008, bagi orang Aceh, khususnya Aceh di belahan Barat dan Selatan, menyebut kaum pendatang sebagai ureueng Seumando, orang Melayu menyebutnya sebagai Seumanda. Namun yang pasti bahwa kedua sebutan itu memiliki arti yang sama yakni sebagai seseorang/sekelompok orang pendatang dari daerah lain yang menumpang pada keluarga, suku, atau daerah di Aceh.
Menurut Umar sebenarnya ada empat jenis Seumando, yakni pertama Seumando lalat ijo atau pendatang yang berkarakter atau bersikap seperti lalat hijau. Lazimnya lalat hijau hinggap di sampah, bangkai atau kotoran ternak maupun manusia. Lalat hijau tidak saja menghinggap dan memakan sari gizi pada sampah dan kotoran. Di sana ia pun meninggalkan jejak berupa larva atau embrio yang natinya akan menjadi ulat. Apabila lalat hijau disematkan pada manusia, orang tersebut dapat disebut sebagai seumando yang tidak bertanggungjawab.
Kedua, Seumando bak labu atau pendantang atau penumpang yang berkarakter atau bersikap seperti pohon labu. Ada dua kategori untuk seumando jenis ini, yakni 1) batang labu yang tidak dirawat dan merambat sesuka hati. Kategori jenis ini mengibaratkan pendatang yang dengan sesuka hati menyebarkan misi yang tidak sesuai dengan konteks sosial budaya setempat. 2) buah labu yang berbuah dan bergelantungan di pelataran rumah. Kategori jenis ini mengibaratkan tentang pendatang yang memberatkan tuan rumah atau keluarga tempatnya meneduh/bertamu.
Ketiga, Seumando simalu/seumalu. Seumando berkarakter benalu. Seumando jenis ini jenis ini mengibaratkan pendatang yang tidak hanya menggantungkan seluruh hidupnya kepada keluarga tempatnya berteduh atau berdomisili, tetapi juga memanfaatkan dan bahkan menghisap penghasilan kelurga tersebut dan daerah tempat yang didiaminya.
Keempat, Seumando tampong. Seumando berkarakter pelindung atau pengaman. Seumando jenis ini mengibaratkan pendatang serupa atap atau penutup. Fungsi penutup atau atap lazimnya adalah sebagai pengaman atau pelindung. Sebagai missal, apabila rumah belum ditutupi atap, sudah barang tentu rumah tersebut belum layak untuk dihuni, belum nyaman dan aman. Jika diibaratkan pada manusia, maka pendatang jenis ini sangat dibutuhkan, dicintai dan diterima oleh tuan rumah atau masyarakat setempat, karena kehadirannya bias memberikan rasa aman. Pendatang berkarakter seperti ini pun dapat menyatu dan merasa bertanggung jawab pada keluarga atau masyarakat tempat dia berdomisili.
Seumando, secara khusus dari Emtas, sudah lebih kurang membuat saya paham. Mencari sepatah kata itu dalam catatan, buku-buku dan kamus sampai pada dunia maya dan akhirnya merujuk pada Emtas, serupa berproses bagaimana seharusnya saya menjadi seorang seumando yang sesungguhnya, sehingga akhirnya diterima dengan baik selayaknya sebagai tamu yang di Aceh.
Sudah barang tentu, saya berusaha untuk menghindari karakter Seumando lalat ijo (tidak bertanggung jawab, karena berkarakter serupa habis manis sepah dibuang) atau Seumando bak labu (pun tidak bertanggungjawab, karena membawa misi ganda yang merambat sesuka hati serupa batang labu) apalagi Seumando simalu/seumalu (yang berkarakter seperti benalu, karena suka menghisap dan memanfaatkan).
Namun demikian saya pun belum cukup yakin untuk memilih dan menjadi serupa seumando tampong. Alsannya adalah bukan karena saya tidak mau menjadi seumando yang pantas untuk disebut sebagai seumando yang baik, tetapi lebih karena saya sudah sedang belajar dan berproses menjadi, seperti yang dikatakan Teungku di awal catatan ini bahwa ”jika menjadi seumando harus mengikuti tata krama dan adat budaya setempat”. Saat ini dan di sini. Sekarang saya di Aceh, yang lebih penting saya lakukan adalah menjadi manusia yang beradab, tahu sopan santun dalam bergaul, tidak menghasut, apalagi memaksanakan kehendak, dan juga harus selalu rendah hati dalam menghadapi setiap perbedaan.
Apakah saya seorang Seumando? Saya kira tidak. Orang Aceh yang saya kenal, tidak pernah memilah pisahkan saya sebagai pendatang atau tidak. Mereka selalu menganggap saya bagian dari orang Aceh, bagian dari keluarga dan handai taulan mereka.











































1 Trackbacks / Pingbacks
Belajar Bermain Rapa’i « JEJAK KATA BUANA Juni 20th, 2011 pada 01:08
[...] saya (seorang seumando) memegang rapai dan mencoba menabuhnya, tampaknya saya seperti seorang bocah 5 tahun yang tidak [...]