Ada hasrat yang lebih, bukan hanya tentang kemampuan untuk berpikir tetapi juga keinginan untuk merasa. Manusia mengalami itu. Semua manusia, tampa kecuali. Seorang gila sekalipun. Pada saat-saat tertentu, aku kadang terjebak dalam situasi ini. Tentang sesuatu yang lebih. Aku ingin berpikir melampaui sekedar apa yang terpikirkan dan dipikirkan. Aku pun ingin merasakan apa yang tidak pernah kurasakan.

Dalam keseharian, dalam kenyataan, sesuatu yang lebih itu selalu terbentur dalam ruang dan waktu. Sesuatu yang lebih selalu seperti dipagar-pagar waktu, dan disekat-sekat ruang. Sesuatu yang tak terelakkan. Tak terbantahkan oleh manusia manapun.

Namun hanya dalam kata, aku menemukan sesuatu yang lebih, baik tentang apa yang kupikirkan dan apa yang aku rasakan tertampung. Bahkan Meluap-luap. Dalam setiap kata, dalam rimba kalimat, aku selalu menemukan titik pencarian itu. Hanya dalam kata aku serupa angin, berkelebat dalam liukan huruf dan angka, tanda-tanda baca, kalimat dan frasa. Hanya dalam kata, aku kadang menemukan diriku sendiri mampu, walau dalam pada saat-saat tertentu aku menemukan diriku tidak bermakna.

Tetapi dalam kata, dalam rimba kalimat, aku berpetualang, menemukan diriku sendiri. Aku kira, tidak hanya aku, tidak juga kau. Dalam kata sesuatu yang lebih diperjumpakan, dipertemukan, dan mewujudkan dirinya.