Malam belum benar-benar larut, waktu itu kira-kira pukul dua puluh dua. Suasana malam tampak senyap. Di luar hujan jatuh satu-satu. Di langit jauh terdengar gemuruh guntur. Sesekali bilah-bilah sinar membelah malam. Ketika itu mataku masih berjaga. Sebab, aku sedang melumat ‘Suara-Suara’ Mochtar Pobotinggi pada halaman dua puluh delapan “Dalam Rimba Bayang-Bayang”-nya
“Selalu dari rahim malam engkau bangkit mengusik aku hai suara-suara” demikian kuplet pertama dan terakhir ‘Suara-Suara’. Hendak aku suluk dalam pemaknaan menemukan sari yang disampaikan Pobotinggi, tiba-tiba seekor kodok rawa melewati celah pintu kamar, lalu meloncat ke atas kasur, akhirnya menghilang di lipatan selimut di sisi sebelah kiri bantal.
Tentang kodok rawa itu. Sudah selalu, setiap malam, seperti malam-malam kemarin, ia meloncat masuk ke dalam kamar. Walau tampa suara, locatannya sangat menyita ruang perhatianku. Makna ‘Suara-Suara’ menjadi lenyap ditelan malam, yang terekam hanya sejempol ukuran kodok rawa dan lima kali loncatannya.
Masih tentang kondok rawa itu. Sudah selalu aku mengusirnya, seperti malam-malam kemarin. Suatu ketika, aku pernah menangkap dan membuangnya ke luar jendela, tetapi entah mengapa, ia kembali mencari celah. Selanjutnya ia kembali meloncat untuk bermalam di samping bantal tidurku.
Mataku kembali menuju ke halaman ‘Suara-Suara’ yang ditulis Pobotinggi pada seribu sembilan ratus delapan puluh enan. Aku hendak memaknainya. Sudah kugenggam sebatang pena untuk melesatkan aksara. Tetapi serupa bayang-bayang, yang terdengar hanya suara-suara. Pena runcing itu tak mampu menetaskan kata.
“Jadi duka belantara, jadi lengking gerapai, lalu aku pun bersimpuh di pusar aksara, yang tak tertuliskan” Demikian kuplet yang lain dari ‘Suara-Suara”. Lima kali loncatan kodok rawa pada malam itu, kemudian keselaluannya untuk bermalam di samping bantal tidurku, walau tampa bersuara adalah sebenarnya suara-suara. Suara-suara yang tak terkisahkan dengan kata. Suara-suara yang melampaui aksara. Hendak aku menuliskan itu dengan berkaca pada ‘Suara-Suara’, tanganku pun bergetar. Kata-kata pun terlepas tampa jejak.
Malam itu, aku menjadi serupa manusia penyendiri, sepi. Hendak aku menuliskan kata tentang suara tampa suara. Tentang kodok rawa berteriak-teriak dalam diam. Tentang ukurannya yang sebesar jempol jari tangan. Tentang lima kali loncatannya. Tentang mengapa ia memilih lipatan selimut di samping kiri bantalku untuk bermalam.
Meminjam sekuplet yang lain dari Pobotinggi, masih dalam “Suara-Suara”-nya: “Selalu aku tahan untuk menangkapmu, memelukmu, relung-relung tak kunjung musim, memupusku larorn, luluh dalam nyala”. Serupa itu kata-kataku terbang, hilang tak berbekas. Ujung pena runcingku tak menetas hijau sajak sepenggal pun.
Walau selalu, tidak hanya pada malam itu, ketika mataku berjaga bersama “Suara-Suara” dan perhatianku tersita pada lima loncatan kodok rawa “dari rahim malam” sesuatu tentang makna selalu mengusikku untuk dituliskan entah serupa apa.
Catatan: Sumber prosa sajak ini dilatari oleh dua hal: 1) Sajak “Suara-Suara” Mohctar Pobotinggi, dalam kumpulan puisinya “Dalam Rimba Bayang-Bayang” (Penerbit Buku Kompas 2003), dan 2) sebuah pengalaman unik yang terjadi di rumah kontrakanku di Meulaboh Aceh Barat. Banyak kodok rawa yang masuk dan berlindung di dalam rumah. Sesuatu, yang bagiku selalu menimbulkan Tanya.











































2 tanggapan kepada “Aku Pada Rimba Bayang-Bayang”
mery m goo
April 29th, 2010 pada 11:46
we anake ……kau kapan pulang? cari foto2 yang dari romba tu ko,foto ridi udu meti ke apa.
Kris Bheda Somerpes
April 29th, 2010 pada 17:31
hahaha….iwa reta mai, mbaru nuka reta nua..siap pu keda wawi e….