Di Getsemani

Dia sudah tiba. Dia yang lututnya tertumbuk pada debu tanah dan badan-Nya gemetaran. Dia yang sepanjang malam bergelut dengan doa, melamentasi salah-salah dunia. Dia yang membasuh tubuh-Nya dengan keringat dan darah. Dia-lah sang putra manusia yang lelah dan gontai bagai orang kalah.

Sudah lampau-lampau hari Dia berkutat dengan dirinya sendiri, tentang aku dan dunia. Dia, sampai ketika malam sekaratan menyepi di Getsemani tak ditemani seorang manusia pun, walau aku hadir di sana. Dia-lah sang putra manusia yang harus menanggung salahku bagai orang bebal.

Tiba-tiba Dia berucap: ”Biarlah piala ini berlalu daripada-Ku”. Mataku nanar. Hatiku kecut. Aku malu. Aku yang terdepak jauh di dunia realitas menjadi manusia paling kalah dan bebal. Menyaksikan peristiwa itu, aku menjadi benar-benar kalah.

Aku menjadi sangat tidak berdaya, ketika dengan lantang Dia mengaku ”Akulah Dia”. Padahal para serdadu itu sedang mencariku. Mengapa harus Dia yang mengaku? Aku benar-benar manusia kalah dan bebal. Aku begitu takut di hadapan wajah serdadu. Sampai-sampai aku harus menjadi manusia paling munafik yang pura-pura tidak tahu ”aku tidak mengenal orang ini”. Tiga kali aku berpura-pura tidak tahu.

Di hadapan Pilatus Dia dihadapkan pada sebuah pertanyaan ”Apakah itu kebenaran?” tetapi Dia tidak menjawab. Pilatus bagai kalah, yang sama sepertiku, karena di hadapannya, Pilatus dan juga aku, tidak sedang berhadapan dengan seorang manusia lagi, tetapi dengan kebenaran yang tak terbantahkan. Sampai Pilatus dan juga aku ciut: ”Aku tidak menanggung darah atas orang ini”.

Dalam prosesi yang panjang menuju Kalvari, Dia dihujat, dimaki dan diumpat bagai pengkhianat dan pecundang. Sampai ketika Veronika mengusap wajah-Nya, kebenaran itu melekat pada sepotong kain putih. Sebuah potret wajah memar penuh peluh dan darah ”Ingatlah peristiwa ini sebagai kenangan akan Aku”. Wajah Veronika terpasrah menyaksikan prosesi panjang anak manusia ditikam bertubi oleh salah.

Di seberang massa, Maria, sang bunda, tidak dapat berujar apa-apa, sebilah pedang menghunus jantungnya. Aku, para murid dan rasul tidak tampak. Kami dihujam kecut dan takut. Kami bersembunyi di tengah kerumunan massa dan berteriak ”Salibkan Dia…Salibkan Dia…Salibkan Dia”. Sampai aku berontak, mengapa aku harus turut berteriak ”Salibkan Dia?” Ketaksanggupan Yudas untuk menanggung kesalahan itulah yang membuatnya harus mati gantung diri.

Di Kalvari, aku menjadi semakin ciut. Aku, dengan berpura-pura tidak tahu, menanggalkan jubah-Nya yang layu, lalu kami mengundi jubah itu. Dia menatpku lekat. Ketika Dia berbaring di atas palang salib dan paku-paku menghujam tangan dan kaki-Nya, aku berlari pergi menjauh. Hatiku benar-benar rapuh, luluh dan ambruk. Hanya itu yang dapat kulakukan. Aku bersembunyi di balik kecut.

Salib ditegakkan. Aku menyaksikan dengan penuh iba, tetapi tidak dapat berbuat banyak. Sampai ketika Dia berucap ”Selesailah Sudah” Aku masih masih tertunduk malu. Mengapa aku tidak berjaga bersama-Nya di Getsemani? Mengapa aku menjadi seperti Pilatus? Mengapa aku harus menjadi manusia paling munafik dan berpura-pura tidak mengenal-Nya? Mengapa aku harus mengundi jubah-Nya? Mengapa aku harus ciut, kecut, takut dan malu?

Dan ketika bumi berguncang, dan hatiku terbelah jadi dua, baru aku menyadari sungguh kalau sang manusia itu adalah ”Sungguh anak Allah” Dari dadaku keluar salah dan dosa. Apakah artinya semua ini bagiku? Aku masih menjadi manusia yang hidup di sntara seperti orang munafik dan manusia yang mencoba untuk menyudahi penyesalan dengan insaf. Sebuah refleksi panjang manusia. Aku.