
Lukisan Modern Karya Basuki. Lukisan ini menunjukkan tentang siapa sesungguhnya perempuan. Bagiku perempuan tidak sekedar tubuhnya. Perempuan adalah juga pengada yang bebas, sebagaimana halnya laki-laki.
Perempuan? mudah sekali, begitu ujar penggemar rumusan sederhana: ia adalah kandungan, indung telur; ia betina – kata-kata itu cukup untuk mendefinisikan perempuan. Sungguh memadaikan definisi perempuan yang merujuk sekedar ke fungsi biologis itu? Namun, jika kita menolaknya, kita akan terbentur pertanyaan, apakah perempuan itu? Pertanyaan itu muncul karena kemanusiaan adalah laki-laki dan laki-laki mendefinisikan perempuan tidak menurut diri perempuan, tetapi selalu dalam hubungannya dengan laki-laki. Perempuan bukanlah makhluk otonom. Ia bahkan ’yang lain’ (the other). Hanya ada satu diri yang diterima – yang absolut – yaitu laki-laki. Demikian tulis Karlina Supelli, mengutip The Second Sex-nya (1949) Simone de Beavoir, dalam kata pengantar atas ’Pembebasan Tubuh Perempuan, Gagasan Etis Simone de Beauvior terhadap Budaya Patriarkat” karya Shirley Lie .
Simone de Beavoir, Karlina Supelli, Shirley Lie adalah perempuan. Mereka dan perempuan yang lain adalah perempuan. Namun demikian, mereka tidak sebatas kandungan, indung telur dan betina. Mereka tidak sebatas itu dan hanya itu. Sebagai perempuan mereka adalah juga manusia. Lantas, jika hendak mendefinisikan siapakah perempuan, sudah barang tentu kita mendefinisikan siapakah manusia. Manusia perempuan. Karena perempuan tidak didefinisikan sebagai manusia perempuan oleh manusia, maka menimbulkan ketimpangan. Karena manusia perempuan didefinisikan oleh manusia, dan hanya ada satu diri yang disebut manusia yakni laki-laki yang mendefinisikan perempuan bukan menurut diri perempuan, maka, manusia perempuan pun menggugat.
***
Perempuan tidak sebatas rongga gairah, tempat dimana terompet-terompet kondom ditiupkan, spiral-spiral karet mengarat terpasang, kaleng dimana pil-pil penyumbat saluran sungai merah pekat disimpan, pun pula bukan sasaran jarum susuk ditusuk. Singkatnya perempuan bukan sekedar tubuhnya. Perempuan dan laki-laki adalah sama-sama manusia. Meminjam kalimat Beavoir, baik laki-laki maupun perempuan adalah pengada bebas. Perempuan dan laki-laki adalah sahabat, dan oleh karena itu harus selalu saling bermurah hati satu sama lain, saling memberi dan menerima, serta saling mengakui keberadaan diri dan orang lain sebagai subjek dan objek sekaligus.
Menurut Beauvoir, seperti ditulis Lie, situasi di mana perempuan dan laki-laki saling mengakui sebagai subjek-objek sekaligus ini dimungkin jika keduanya menyadari eksistensi masing-masing sebagai pengada bebas yang selalu dalam proses mentransendensi diri atau membentuk diri. Dalam proses ini, tubuh menjadi unsur terpenting karena dalam dan melalui tubuh-lah, perempuan dan laki-laki berproses menentukan dan membentuk dirinya.
Gagasan ini lahir, lantaran Beavoir melihat perempuan terkungkung dalam budaya patriarkat, yang mana dalam prakteknya ’melanggengkan’ penindasan, pengobjekkan, dan pendiskriminisian terhadap perempuan. Dalam budaya patriarkat perempuan dipandang sebagai kelas dua dan objek yang diremehkan. Perempuan hanya dipandang sebagai sebatas rongga gairah. Dan hanya sebatas rongga gairah perempun didefinisikan.
Oleh karena itu, apa pun yang menjadi pikiran, perasaan dan kehendak manusia dalam hidupnya dapat diwujudkan hanya dalam tindakan kongkret kebertubuhannya. Upaya pembebasan tubuh perempuan dari pandangan hanya semata sebagai rongga gairah yang dimaksud adalah pembebasan tubuh perempuan dari budaya patriarkat pun harus dimulai dari pembebasan tubuh perempuan. Pembebasan tubuh perempuan, lebih lanjut, dimaksud sebagai dorongan untuk perempuan untuk berekspresi dalam situasi kongkret yaitu dalam segala situasi kehidupan baik dalam situasi ekonomi, sosial-budaya, maupun politik.
Saat tubuh perempuan tidak lagi menjadi beban, sumber rasa malu dan pembatas ruang geraknya adalah saat dimana perempuan bisa menentukan sendiri nilai-nilai yang dihayatinya dalam kebertubuhannya dan mengkongkretkannya dalam aktifitas yang dipilihnya secara bebas. Seperti yang dikatakan Lie, mengutip dari Gabriel Marcel bahwa ”Kita hanya dapat mengekspresikan diri jika kita memiliki diri kita”. Singkatnya jika kita menjadi tuan atas diri kita maka kita bisa dapat mengekspresikan siapa diri kita di hadapan diri kita sendiri dan orang lain.
***
Sarinah…dan kau Dasima. Teriak burung Merak dengan marah, sambil mengepakkan sayapnya. Burung Merak tidak sedang menghantam Sarinah dan Dasima, tetapi menghantam situasi yang timpang. ”Sarinah…Katakan kepada mereka, agaimana kau dipanggil ke kantor menteri. Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu, tentang perjuangan nusa bangsa, dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal, ia sebut kau inspirasi revolusi, sambil ia buka kutangmu”
”Dan kau Dasima. Khabarkan pada rakyat, bagaimana para pemimpin revolusi, secara bergiliran memelukmu. Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi, sambil celananya basah dan tubuhnya lemas, terkapai disampingmu, (karena) ototnya keburu tak berdaya”
”…Saudari-saudariku. Bersatulah. Ambillah galah. Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya. Araklah keliling kota, sebagai panji yang telah mereka nodai. Kinilah giliranmu menuntut. Katakanlah kepada mereka, menganjurkan mengganyang pelacuran. Tanpa menganjurkan mengahwini para bekas pelacur adalah omong kosong”
***
Pun Nuri di padang sava menganjurkanmu, Sarinah, dan kau Dasima, perempuan-perempuan dan perempuan-perempuan “0oooooohhhhhh, ooooohhhhhh, anginbadaiputingbeliungangintaufan, anginpuyuhanginlautangindarat, datanglahhhhh…. datanglaahhh… dari segala sudut semesta. Amuklah!!! Bakar terompet kondom!!!! Gerus butir butir pil!!!! Lumatkan spiral spiral karet!!!! Hancurkah susuk susuk yang menusuk!!!!!
Dan kepada kau penetas tinta, kau pena kecil di pelataran semesta! Tulislah sejarah sejarah ini!!!!! Sejarah penjara berkarat membelenggu bejana tanah liat bejana tanah liat. Sejarah terompet kondom meracuni rongga rongga gairah. Sejarah butir butir pil menyumbat aliran sungai merah pekat. Sejarah spiral spiral karet keringkan bunga puspa kembang. Sejarah susuk susuk menusuk bejana roh. Tulis sejarah sejarah ini!!!!!!!! Amukan angin segala sudut semesta. Bakar terompet kondom. Gerus butir butir pil. Lumat spiral spiral karet. Hancurkan susuk susuk menusuk. Tulis sejarah ini dengan tinta merah cerah. Sejarah rongga gairah bunga segar. Sejarah bejana tanah liat puspa wangi. Sejarah bejana roh kembang mekar. Bahwa kau harus menjadi tuan atas dirimu sendirimu.
Tulislah semua sejarah itu, bukan untuk diulangi, tetapi untuk dimaafkan, diperbaiki dan diperbaharui. Sebuah refleksi yang harus segera dilakukan, mulai dari diri dan tubuh kita sendiri, bukan hanya kepada kau manusia perempuan, tetapi juga kau pengklaim manusia absolute, laki-laki.
Sumber: Sajak Aleks Aur ’Badai Rongga Gairah’, sajak WS. Rendra ’Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta’, dan ’Pembebasan Tubuh Perempuan’ Shirley Lie, Grasindo 2005.










































3 tanggapan kepada “Sarinah…dan Kau Dasima”
Alexander Aur
Maret 20th, 2010 pada 12:47
Tubuh terguncang, apresiasimu menjadi pisau yang sangat tajam.
Alexander Aur
Maret 20th, 2010 pada 12:48
Apresiasi ini begitu tajam dan mendalam.
kris bheda somerpes
Maret 21st, 2010 pada 04:48
“gairah rongga gairah