
Ini sajak satire, yang sengaja mengajakmu untuk berbangga pada simbol bahwa kau dan pun pula aku sebagai kuda jantan. Binatang tangguh yang entah baik dan penurut, mau pun liar dan penuh nafsu adalah tetaplah binatang. Kita adalah manusia laki-laki yang memaknai relasi cinta kasih sebagai sesuatu yang suci, utuh dan sempurna.
“Kuda jantankah, kita? Kuda jantan yang tak tahan mengunyah ilalang-ilalang langsing yang tumbuh di tempat-tempat kerja. Kuda jantan yang berlari mengejar ilalang-ilalang lansing di klub-klub malam sarat alkohol. Kuda jantan yang rajin mengunyah ilalang-ilalang langsing di atas kasur empuk hotel-hotel wangi. Kuda jantan yang dengan bibirnya rajin menghapus lipstik merah hati di bibir ilalang-ilalang langsing. Kuda jantan yang lupa pulang ke taman hijau penuh bunga bunga”
“Atau, kita kuda jantan yang selalu berlari? Kembali ke huma alam huma taman hijau. Taman hijau penuh bunga-bunga. Taman hijau yang selalu memesonakan kuda jantan pulang ke huma. Taman hijau berkasur lebih empuk dari kasur hotel-hotel wangi taman hijau penuh bunga-bunga. Bunga-bunga yang lebih langsing dari ilalang langsing-ilalang langsing. Bunga-bunga berbibir merah tanpa sapuan lipstik. Bunga-bunga yang selalu hangat saban malam melumat senja. Yang selalu hangat saban subuh pecah di beranda pagi yang selalu hangat saban waktu”
Apakah kita kuda jantan? Jika, kita adalah kuda jantan? Kita, kuda jantan yang mana? Pertanyaan itulah yang menggema dalam rongga dadaku seusai menelusuri dengan saksama sajak “Taman Hijau yang selalu Memesonakan Kuda Jantan Pulang ke Huma”. Aku terdiam sejenak. Aku sudah sedang dihadapkan pada sebuah sajak vulgar tetapi jelas. Kongkret tapi padat.
Berhadapan dengan sajak tersebut, aku tidak hanya berhadapan dengan pilihan ’aku sebagai kuda jantan yang mana’ tetapi juga tentang apakah ’aku adalah kuda jantan’. Karena itu aku tidak saja harus masuk ke relung simbolisme tetapi juga harus memaknainya secara terang. Dan itu butuh diam sesaat. Menguak makna dari rimbunan kata-kata adalah pekerjaan yang tidak mudah, apalagi menjawab tanda-tanda, yang memang tidak main-main untuk dijawab.
Kuda jantankah, Kita? Amat terang, kalau pertanyaan ini ditujukan kepada manusia laki-laki. Namun demikian, bukan semua laki-laki pantas disebut sebagai kuda jantan. Hanya manusia laki-laki yang ”berlari meninggalkan rumah pada saban subuh pecah di beranda pagi. Yang tinggalkan bunga-bunga di taman hijau. Yang tak tahan untuk mengunyah setangkai ilalang langsing yang lenggang lenggok saban pagi di depan rumah. Yang berlari mengejar ilalang langsing-ilalang langsing. Yang enggan pulang ke rumah meski malam sudah mengunyah senja”
Itulah manusia laki-laki berupa kuda jantan. Manusia laki-laki yang tidak memaknai cinta, dalam hubungannya dengan manusia perempuan yang sudah dipersatukan dalam ikatan yang suci. Manusia laki-laki yang tidak memaknai cita sebagai relasi yang suci itulah yang pantas disebut sebagai kuda jantan.
Apakah aku kuda jantan, atau apakah kau kuda jantan? Pertanyaan reflekstif untuk manusia laki-laki. Agar kau, pun pula aku, dapat mendefinisikan siapa kita sebagai manusia laki-laki. Jika kita bukan kuda jantan, tetapi seorang manusia laki-laki maka cinta yang suci haruslah menjadi roh dalam relasi. Cinta harus dipandang sebagai sebuah pengutuhan antara diri kita sendiri dan dengan orang lain. Cinta dipandang sebagai penyatuan, yang menyatukan ketidaksamaan atau perbedaan. Cinta dipandang sebagai pelengkapan dari keterbatasan-keterbatasan kita sebagai manusia yang sedang menjadi.
Kita bukan kuda jantan, bukan? Aku dan kau, manusia laki-laki dan bukan kuda jantan, bukan?Atau jangan-jangan kau dan pun pula aku terjebak dengan pertanyaan ini “Atau, kita kuda jantan yang selalu berlari? Kembali ke huma alam huma taman hijau. Taman hijau penuh bunga-bunga. Taman hijau yang selalu memesonakan kuda jantan pulang ke huma. Taman hijau berkasur lebih empuk dari kasur hotel-hotel wangi taman hijau penuh bunga-bunga. Bunga-bunga yang lebih langsing dari ilalang langsing-ilalang langsing. Bunga-bunga berbibir merah tanpa sapuan lipstik. Bunga-bunga yang selalu hangat saban malam melumat senja. Yang selalu hangat saban subuh pecah di beranda pagi yang selalu hangat saban waktu”
Ini sajak satire, yang sengaja mengajakmu untuk berbangga pada simbol bahwa kau dan pun pula aku sebagai kuda jantan. Binatang tangguh yang entah baik dan penurut, mau pun liar dan penuh nafsu adalah tetaplah binatang. Kita adalah manusia laki-laki yang memaknai relasi cinta kasih sebagai sesuatu yang suci, utuh dan sempurna.
Kata Karl Marx ”Hubungan antaramanusia adalah hubungan alami. Hubungan alami adalah hubungan manusia dengan alam. Hubungan manusia dengan alam langsung menjadi hubungan antarmanusia, antara laki-laki dan perempuan. Manusia dalam hubungan itu adalah individu sekaligus sosial. Hubungan manusia adalah hubungan cinta yang saling mencintai dan membutuhkan”.
Kita bukan manusia laki-laki berupa kuda jantan, bukan? Kita adalah manusia laki-laki. Manusia. Sedikit saja berandai-andai ingin mengunyah ilalang-ilalang langsing yang tumbuh di tempat-tempat kerja. Ingin berlari mengejar ilalang-ilalang lansing di klub-klub malam sarat alkohol. Ingin mengunyah ilalang-ilalang langsing di atas kasur empuk hotel-hotel wangi. Ingin menghapus lipstik merah hati di bibir ilalang-ilalang langsing. Ingin pergi dan lalu lupa pulang ke taman hijau penuh bunga bunga. Sudah sejak keinginan itu mucul, sudah sejak itu pula kau dan pun pula aku sudah menjadi kuda jantan. Kita bukan manusia laki-laki berupa kuda jantan, bukan?
Catatan: Tulisan ini merupakan apresiasi ata sajak Alek Aur ‘Taman Hijau yang selalu Memesonakan Kuda Jantan Pulang ke Huma’










































1 tanggapan kepada “Kita Bukan Kuda Jantan, Bukan?”
Alexander Aur
Maret 20th, 2010 pada 12:49
Aku pun mengaca pada cermin diriku, Kuda Jantankah Aku?