Manusia tidak hanya meng-Aku, dia juga meng-Kita, Aku selalu memuat Engkau. Hanya dengan, dan dalam pertemuan dengan Engkaulah Aku menjadi Aku. Gagasan tentang ada bersama-nya Driyarkara ini, mengatakan kepadaku secara jelas tentang tempat manusia yang sadar menemukan eksistensinya, bahwa Aku-Dia men-satu, menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Aku mencoba menelisik. Dari sudut pandang estetika (baca: Filsafat Keindahan), kalau diperhatikan dengan jernih, substansi pembebasan yang ada dalam teori kritis sebenarnya adalah sebuah proyek besar bagaimana mengembalikan manusia pada keutuhannya serta mengenyahkan berbagai alienasi.
Teori kritis yang dikembangkan estetika dalam konteks ini adalah sebuah teori yang mempunyai sasaran pada tindakan emansipatoris dan pembebasan. Di sini ada pertautan khusus antara kebenaran karya seni dengan kepalsuan kesadaran sehari-hari. Dan tentu saja proses pencerahan itu tidak hanya diterangkan dengan menggunakan karya seni dan kehidupan sehari-hari secara kognitif belaka; karya seni tidak hanya menampilkan posisi alternatif, melainkan secara spesifik memberikan perubahan dalam kesadaran si penikmat seni.
Teori ini ini tidak hanya kita temukan dalam tulisan-tulisan mereka yang tergabung dalam Sekolah Franfurt seperti Theodor Adorno, Herbert Marcuse atau Walter Benjamin, tetapi juga sudah terlihat jauh-jauh hari, ke akar-akar pemikiran teori kritis itu sendiri, yaitu dalam diri mereka yang sering kita sebut sebagai idealis Jerman, seperti Kant, Schiller dan Hegel. Keutuhan dalam konteks ini dipahami sebagai hubungan yang tidak teralienasi antara manusia dan alam, manusia dengan sesamanya, subjek dengan objek, atau berbagai aspek eksistensi manusia personal lainnya.
Mendialogkan tentang relasi pengutuhan ini, aku lantas teringat pada Monolog-nya Rusli Marzuki Saria. Sederetan renungan pendek, padat akan kandungan puitis-reflektif itu sesungguhnya lahir dari kandungan hasrat imajinasinya yang kaya akan improvisasi dan metafor. Dalam ruang imajinasi itu aku seperti di arahkan pada satu muara yang sama, yakni sebuah upaya pengembalian manusia pada keutuhannya. Melalui sosok penyair dan puisi (sajak) Rusli, aku diajak untuk memaknai setiap kata sebagai energi pembebasan.
Penyair masihkah batinmu berdenyut? Demikian Rusli mengajukan pertanyaan reflektifnya. Pertanyaan ini tidak hanya menggelitik sang penyair untuk melahirkan puisi dan sajak, tetapi juga menjadikan keduanya sebagai insight untuk sebuah perubahan, pembebasan. Rusli melukiskan sosok seorang penyair yang baik sebagai burung hantu yang membaca buku di sebuah perpustakaan. Di luar kemarau sedang bergerak lamban. Aku membaca situasi dari kertas-kertas bertaburan di keranjang. Pada peta-peta kubaca pertempuran siang malam yang mengerikan. Sudah banyak korban! Katamu. Sebaris satire pahitnya kina yang kutelan perlahan. Aku menyisir sungai menderu ke muara tak bernama.
Lukisan yang senada seperti dikutip Rusli sebaris dari Eliot bahwa seorang penyair harus bisa melarikan diri dari yang pribadi. Penyair harus meninggalkan kepentingan pribadinya sebagai seorang individu yang sempit dan berusaha mewakili sejumlah besar orang dan menemukan kepada mereka tentang arti kehidupan yang bebas.
Untuk sampai kepada visi tersebut mengutip Dylan Thomas, Rusli mengatakan bahwa kadang penyair mesti mampu mengajukan dirinya sendiri dalam kata-kata yang kusut masai, berlika-liku. Tetapi semuanya itu merupakan kebahagiaan, kegetiran dan pekerjaan yang sukarela. Dalam situasi tidak terbelenggu inilah seorang penyair ingin mencipta, melahirkan sesuatu. Namun, untuk dapat menciptakan sesuatu, ia harus lewat subjektivitasnya sendiri, yaitu keutuhan sebagai pribadi manusia, cermin untuk mengalami dan mengamat-amati dunia sekitarnya.
Adakah puisi mengubah keadaan, membawa manusia pada pemahaman akan dirinya sendiri? Mengulang kata-kata Rilke, Rusli mengatakan bahwa puisi adalah kehidupan itu sendiri. Karena puisi adalah kehidupan, maka Aku-nya manusia harus suluk dalamnya, cair dan luluh. Suluk, luluh dan cair, sampai menuliskannya dengan darah. Berangkat dari sini aku dan saya pikir juga anda, dapat mengatakan kalau puisi itu sendiri dapat mengubah kehidupan.
Secara amat estetis kehidupan yang mengelopak dan mekar adalah kehidupan yang esensial dan paling hakiki. Di sinilah kita menoreh diri sendiri, kata Rusli. Kita masuk ke dalam batin terdalam seperti tidak akan pernah kembali lagi. Inilah pabrik seorang penyair, pabrik itu bernama bawah sadar. Letupan-letupan imajinasi akan memuncak spontan, tetapi menggigit mengatakan tentang perubahan, entah melalui religiusitas, moralitas, pendidikan, sosial, politik maupun ekonomi dan budaya.
Di sinilah penyair dan menyair memerlukan keberanian. Artinya harus bersedia membongkar kemapanan dan kestatisan dalam kehidupan. Rusli menawarkan satu jalan untuk menjadikan puisi itu sungguh menggugah, orisinal dan sungguh menjadi nyala terang di tengah gulita kehidupan, yakni menyelami sudut-sudut kontemplasi batin. Dalam kontemplasi kita luruh dan luluh. Dari sinilah lirik-lirik menyembul. Urat tunggalnya akan menyumbul seperti dari bumi. Kaya dalam penghayatan. Riuh rendah dengan jeritan dan ajakan yang berlirik penuh denyut, metaforis dan simbolisma saling bergantung.
Demikianlah Rusli menawarkan kepada kita sebuah alternatif menuju pembebasan. Bahwa penyair melalui sajak dan puisinya dapat membawa manusia pada pembebasan, mengembalikan manusia pada keutuhannya. Manusia diajak untuk mengenal tempatnya dan cara beradanya dalam dunia, bahwa ia dapat mengenal aku-nya ketika ada dia dan engkau. Meng-aku-nya manusia karena adanya meng-kita.
Oleh karena itu Rusli mengajak untuk menjadi penyair yang sejati, tidak hanya mengadakan renungan dan menciptakan saja. Tetapi penyair (Indonesia, khususnya) dalam kedudukannya yang khas sebagai penyair, harus menciptakan lingkungan hidup sendiri sebagai penyair. Ia harus turut, bersama dengan tenaga-tenaga masyarakat lain di dalam masyarakat (Indonesia), membina yang dapat dinamakan “infrastruktur kebudayaan.”
Demi pencapaian pembebasan, menemukan kembali keutuhannya, Rusli mengatakan bahwa seakan-akan ada keterdesakan waktu dan tempat, ada yang mendesak kini, metafora dan simbolisme kembali mengejar-ngejarku. Gerimis di luar, di pagi begini, Pusi, katamu: seorang wanita cemburu yang tak mengampuni keculasan…Di sini aku di sini, aku mau berlari terus, bahwa kepenyairan itu sedang menjadi, kata Chairil Anwar.
Sumber: Rusli Marzuki Saria, “Monolog Dalam Renungan” PT. Pustaka Firdaus – Jakarta: 2000. 2) Sebelumnya tulisan ini pernah diposting di http://www.wikimu.com. dengan judul ’Penyair, masihkah batimu berdenyut?”. Gambar: http://mepow.wordpress.com/2009/08/07/ws-rendra-si-burung-merak-kini-terbang-bebas-selamat-jalan-rendra/











































