
Seorang nelayan laut tawar melempar jala di sungai Beutung Ateuh. Foto diambil pada awal Februari 2010 di Beutung Ateuh Nangan Raya Nanggroe Aceh Darusallam
Pernahkah engkau baca, kisah seorang anak yang menarikan pena pada batang batang kayu tentang desah angin yang bercumbu dengan daun-daun? Pernahkah engkau lihat gurat erotik pena seorang anak pada helai-helai jamur kuping tentang angin yang tengah disundut syahwat dan ingin mencumbu bunga anggrek hitam? Pernahkah engkau dengar lagu sendu seorang anak yang penanya macet kala sedang menulis puisi tentang kesedihan seekor nuri yang sedang masuk angin?
Pertanyaan-pertanyaan di atas mengingatkanku pada kisah Abu Malikul Aziz, pemimpin podok pasantren Babul Mukarammah di desa Blang Meurandeh Beutung Ateuh Nagan Raya tentang relasi manusia dengan alam. ”Dulu, ketika saya masih kecil” Abu memulai kisahnya, ”Saya tidak takut dengan harimau, saya dan anak-anak seusia saya, bahkan bisa bermain dengan binatang itu. Antara manusia dan satwa hidup saling menghormati dan damai” kisah Abu. Berhenti sejenak Abu melanjutkan cerita ”Tapi sekarang, semuanya sudah berubah, gajah menyerang rumah penduduk dan Harimau memangsa manusia. Manusia sudah khilaf, tidak lagi melihat alam sebagai sahabat, tetapi sebagai musuh yang mesti dimusnahkan” kata Abu menutup cerita.
Aku tertegun penuh kagum. Aku kagum pada kisah masa kecil Abu yang penuh imajinasi. Sulit bagiku untuk melukiskan perjumpaan masa kecil Abu dan alam yang begitu dekat. Aku pun kagum pada keindahan Beutung Ateuh. Sebuah lembah subur di landai bukit barisan, yang dilingkupi rimbuan hutan Ulu Masen dan Leuser. Aku menjadi lebih kagum pada puisi, ketika aku melukiskan kedekatan perjumpaan alam dan manusia. Tentang desah angin yang bercumbu dengan daun-daun. Tentang angin yang suluk dalam katup anggrek dan tentang kisah sedih Nuri yang pinta dilipur.
Kisah masa kecil Abu adalah sebuah kisah penuh imajinasi. Kisah yang pada masaku menjadi angan, menjadi cita-cita. Ingin kukembalikan kisah masa kecil itu, tetapi yang ada dihadapannku hanya sebatang pena kayu meringis di atas meja tandus. Sekarang, adalah saat yang tepat bagiku untuk melukiskan imajinasi tentang kedekatan-kedekatan manusia dan alam. Tentang bagaimana seharusnya aku melihat, membaca dan mengalami kelembutan jiwa alam. Agar pena itu menjadi bernyawa.
Di tepi Leuser suatu ketika, di bawah gugur daun mentah anggrek biru tua aku membaca kisah alam. Kepadaku alam berkisah tentang sebuah kisah lebam yang berjejak di catatan-catatan harian. Sesuatu yang mengemuka miris adalah kisah tentang sesuatu yang lupa dalam relasi perjumpaan antara manusia dengannya.
”Manusia tampak begitu pongah di hadapanku. Aku dilihat bukan sebagai mitra kehidupan, tetapi sebaliknya dipandang sebagai lahan jarahan. Aku, Leuser dan Ulu Masen adalah dua contoh paru-paru dunia yang terancam dan bakal berubah jadi gurun sahara pada puluhan tahun yang akan datang. Pembalakan liar dan penebangan yang serampangan meninggalkan luka yang mendalam bagi kehidupan satwa yang sudah tenteram terjaga sejak ribuan tahun silam. Tidak hanya itu, aroma anginku tidak lagi berbau magis. Kemistisanku terperkosa oleh kelobaan manusia”
Aku tersintak membaca catatan harian itu. Catatan yang berjejak pada hamparan lahan gundul penuh sesak bau amis satwa mati. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Bahwa kita memang sedang lupa, bahwa kita memang tidak sedang bersahabat dengan alam. Kita sudah mengembara menjauhinya. Kita sudah sedang melupakannya sebagai bagian dari kehidupan kita sendiri.
Sederet tanya untuk kita ingat pantas diajukan di akhir kiah ini: Pernahkah engkau baca, kisah seorang anak yang menarikan pena pada batang batang kayu tentang desah angin yang bercumbu dengan daun-daun? Pernahkah engkau lihat gurat erotik pena seorang anak pada helai-helai jamur kuping tentang angin yang tengah disundut syahwat dan ingin mencumbu bunga anggrek hitam? Pernahkah engkau dengar lagu sendu seorang anak yang penanya macet kala sedang menulis puisi tentang kesedihan seekor nuri yang sedang masuk angin?
Catatan: tulisan kecil ini adalah apresiasi atas sajak Aleks Aur ‘Hutan Hujan Tropis’









































