
Nasehat ibu terasa sangat membekas dalam ingatanku. Semangat dan nasehatnya selalu menguatkan. Membuatku selalu yakin bahwa apa pun yang aku kejar sebagai satu-satunya kebenaran akan membuahkan hasil. Entah kapan. Suatu saat nanti. Tetapi yang pasti aku sudah melewati separuh perjuangan hidup yang terasa panjang dan melelahkan.
Aku anak Aceh. Aku gadis Aceh. Aku perempuan Aceh. Karena aku dilahirkan di Padang Seurahet Nanggroe Aceh Darusallam. Ayahku seorang nelayan. Ibu penjual ikan. Kedua kakakku putus sekolah. Aku berasal dari keluarga miskin, demikian kata struktur sosial, tetapi sebenarnya aku sangat berada. Aku memiliki semangat dan harapan, punya mimpi-mimpi besar, walau sebagian dari anda mengatakan tidak cukup dengan itu, jika hendak mengarungi hidup yang getir.
Sudah saatnya aku tidak mau tinggal diam. Aku mau berkisah. Berkisah tentang aku Ainom. Aku perempuan Aceh yang memiliki harapan-harapan, mimpi-mimpi dan semangat-semangat. Yang akan kukisahkan bukan pemberontakan, walau anda mengatakan diam. Yang akan kukisahkan bukan pula pinta harapan, walau anda pun mengatakan diam.
***
Aku memulai dari Padang Seurahet. Di balik rumah papan yang hanya dibatasi dengan sobekan terpal layar perahu motor itu aku dilahirkan dan dibesarkan. Sudah 20 tahun aku ditinggalkan ayah, menyusul enam tahun lalu aku dibiarkan sendiri menjawab misteri kehidupan tanpa ibu dan kedua kakakku yang tercinta. Sekarang aku yatim piatu.
Yang tertinggal hanya aku seorang diri dengan mimpi-mimpi besar yang sepertinya tidak akan mungkin terwujud, karena suara jiwaku bergema hanya di dalam dadaku. Yang tertinggal hanya aku seorang diri dengan bergelantungan lembaran pertanyaan tentang kehidupan yang sepertinya sulit untuk aku jawab sendiri, apalagi menuliskannya sebagai cerita. Yang tertinggal hanya aku seorang diri, yang setiap harinya selalu mensyukuri setiap musibah.
Aku tetap yakin bahwa semuanya akan menjadi rahmat. Aku tetap yakin dan berusaha untuk terus menuliskan cerita kehidupanku itu. Aku tetap yakin dan terus berusaha untuk meneriakkannya selama aku masih kuat. Selama aku masih punya mimpi. Walau dari balik puing-puing kehancuran. Dari rumah beratap seng alumanium tua, dan walau hanya terpantul-tampul pada sobekan-sobekan layar terpal tua di antara dinding rumahku.
***
Senyum ayah, selapas melaut ketika aku masih banyak bertingkah manja, masih membekas dalam ingatanku. Ketika aku tersenyum, seperti itulah senyum ayahku. Bagiku senyum itu adalah kekuatanku yang selalu mengajakku untuk terus berjuang. Di balik kesahajaannya, ayahku adalah guruku. Ayahku mengajarkan banyak hal tentang kehidupan dan bagaimana seharusnya mengarungi kehidupan.
Ayahku, sekali lagi seorang nelayan, tetapi di balik peti ikan selalu kutemukan buku dan kitab. Di sela-sela waktu menunggu, ayahku menghabiskan dengan membaca buku. Ia melumat segalanya. Suatu ketika, aku bertanya ”Darimana ayah mendapatkan buku-buku ini?” Ayahku yang pendiam dan juga seorang perenung hanya menjawab ”Ambil dan bacalah” selanjutnya ayahku melempar senyum kepadaku.
***
Ibuku. Semangat ibu, ketegarannya dan kekokohannya membesarkan aku dan kedua kakakku. Kekokohannya membuatku semakin yakin bahwa di balik keterbatasan masih ada terang menuju perubahan. Sekali lagi, ibu seorang penjual ikan. Tetapi sebenarnya pekerjaan utamanya adalah seorang penutur, seorang pelantun. Seniman kehidupan. Selalu setiap ibuku mengoceh, ia mengoceh dengan santun. Tutur katanya terukur. Dan setiap isi tuturan yang dituturkannya selalu menyangkut tentang aku. Aku perempuan Aceh. Perempuan Aceh yang perkasa, kuat dan kokoh.
Sebab seperti kata ibu, sebelum ibu pergi untuk selamanya. Ketika, selalu setiap kali ia menasehatiku dan kedua kakak perempuanku ”Cut Nyak Dhien itu, dia menikah di usia muda, pada usia 10 tahun dia sudah menikah dengan Teuku Ibrahim Lagma. Tapi teuku Ibrahim syahid di tangan orang kaphe Belanda. Kemudian dia menikah lagi dengan Teuku Umar. Teuku Umar pun syahid di tangan kaphe Belanda. Tinggal Cut Nyak Dhien sendiri jadi janda sampai tua. Dia meninggal dengan tenang sebagai syahid buat bangsa kita. Cut Nyak Dhien itu lahir di Aceh, dia gadis Aceh, dia perempuan Aceh…ibu menjadi seperti itu buat kamu dan kamu harus menjadi perempuan seperti itu, dengan semangat seperti itu”
Nasehat ibu terasa sangat membekas dalam ingatanku. Semangat dan nasehatnya selalu menguatkan. Membuatku selalu yakin bahwa apa pun yang aku kejar sebagai satu-satunya kebenaran akan membuahkan hasil. Entah kapan. Suatu saat nanti. Tetapi yang pasti aku sudah melewati separuh perjuangan hidup yang terasa panjang dan melelahkan.
Dan, bagiku perjuangan hidup itu akan terus kulalui. Aku berjanji akan meneruskan senyum ayah, semangat ibu dan mimmpi-mimpi kedua kakakku. Walau aku perempuan, tetapi aku Ainom. Aku dilahirkan di Aceh. Aku anak Aceh. Aku gadis Aceh. Aku perempuan Aceh. Aku yang terhempas dari Padang Seurahet. Setiap air mata yang kutetas teteskan adalah air mata perjuangan, bukan penyesalan.










































1 tanggapan kepada “Aku Ainom, Aku Perempuan Aceh”
Aroel
September 19th, 2010 pada 09:25
Teruskan perjuanganmu. . . . !