Kaum Perempuan dalam pemberontakan Zapatista

Setelah aku suluk dalam kata-kata ini: ” Kopi instan! Pergi kau pengkhianat! Jangan kau nodai kelezatan kopi murni! Jangan kau kangkangi ibu-ibu petani kopi yang saban pagi mendendangkan lagu nikmat kopi murni untuk suaminya!” Seketika itu juga aku teringat apa yang pernah dikatakan Noam Chomsky dalam Memeras Rakyat-nya (1999).

Rekaman aktivis politik terkemuka dunia dan profesor linguistik ini, sepertinya hampir benar bahwa ”protes masyarakat pribumi di Chiapas hanyalah gambaran sepintas mengenai ’bom waktu’ yang akan segera meledak, bukan hanya di Meksiko” tetapi juga di Indonesia, oleh aku dan kau para petani kecil yang terkangkangi birahi ’neoliberalisme’

Di Chiapas, pada hari tahun baru, 1 Januari 1994, kaum pribumi Indian Mayan bersama kaum militer Zapatista (Ejército Zapatista de Liberación Nacional, EZLN) dan di dukung oleh Gereja menyalakkan senjata. ”Kita adalah produk perjuangan selama lima ratus tahun” demikian dinyatakan dalam deklarasi Zapatista. Perjuangan hari ini adalah ”untuk mendapatkan pekerjaan, tanah, pemukiman, makanan, layanan kesehatan, pendidikan, kemerdekaan, kebebasan, demokrasi, keadilan, dan perdamaian”.

Aku temukan bau perjuangan zapatista itu di uap kopi Javaro. ”Sekelebat harapan akan pembebasan berkelindang dalam uapnya, di tengah malam itu. Angin yang tengah berkata-kata lewat ventilasi huma mungil, membangunkan penaku untuk menyulam kata-kata dan bernyanyi tentang sekelebat harapan akan pembebasan”

Di Chiapas, Gereja bersaksi, yang menjadi latar pemberontakan dan perlawanan kaum Zapatista adalah ”marjinalisasi total, kemiskinan dan frustasi setelah bertahun-tahun berusaha memperbaiki keadaan”. Ketika itu, penandatanganan North America Free Trade Aggreement (NAFTA) hanya merupakan puncak atas penderitan yang sudah sekian lama diderita suku Indian di Chiapas.

Penandatanganan tersebut bagi kaum militer Zapatista disebut sebagai ’hukuman mati’ bagi suku Mayan Indian, dan hadiah bagi orang kaya. Yang selanjutnya menurut Chomsky, hal ini tentunya akan memperdalam jurang perbedaan antara segelintir orang kaya dan masa yang menderita serta menghancurkan masyarakat pribumi yang tinggal tersisa sedikit.

Aku terkesima oleh kata-kata Chomsky. Di ruang kepalaku meletup-letup tanya tentang kopi instan, tentang para pembuat kopi instan. Tentang kopi instan yang bercampur bahan-bahan kimia. Tentang penindasan para pembuat kopi instan atas lesung-lesung kopi asli tak terisi. Tentang instantisme kopi instan di hadapan keringat dan peluh proses para petani kopi. Sampai pada neoliberalisme dan pemakluman negara atas pasar bebas. Rapuhnya demokrasi karena penjajahan ekonomi. Juga tentang sialnya petani Indonesia karena kaum kapitalis yang loba dan tamak.

Hendak aku angkat senjata seperti kaum Zapatista. Tetapi di tanganku hanya ada sebatang pena. Aku mendadak sunyi. Aku pun mabuk. Bukan oleh cafein kopi Luwak yang tinggal setengah cangkir, tetapi oleh sekelebat harapan pembebasan yang berkelindan dalam uapnya, yang akan disulam angin dan pena, di ladang-ladang kopi. Bau Zapatista di uap kopi terasa menyengat. Meledak-ledak mau pecah.

”Kopi instan! Pergi kau pengkhianat! Jangan kau nodai kelezatan kopi murni! Jangan kau kangkangi ibu-ibu petani kopi yang saban pagi mendendangkan lagu nikmat kopi murni untuk suaminya!” Bau zapatista menyalak dalam dadaku. Membayangkan ibu-ibu petani kopi yang ’terperkosa’ para ’pembuat kopi instan’. Aku ingin menjadi lebih galak dari Zapatista.

Tetapi, dalam dadaku aku masih punya cara. Pemberontakan Zapatista, hampir pasti akan meledak jika para petani kopi menyerukan revolusi. Namun itu, bukan caraku, walau mungkin suatu saat akan meledak di negeri ini. Namun di tengah malam itu, aku tidak mau tumpahkan peluru.

Kepada kaumku, yang terdampar di ladang-ladang kopi, aku menyapa dengan lapang dada “Mari kawan….kita menyeduh kebahagiaan untuk petani-petani kopi, dalam cangkir-cangkir kopi murni, pilihlah, pilihlah kawan, arabika, robusta, luwak. Pilihlah, pilihlah kawan, semua asli dari tanah kita. Asli buah tarian tangan ibu-ibu petani kopi, pada lesung-lesung kayu. Pun asli dari dubur luwak yang menari di dahan-dahan rimba”

Sekelebat bau Zapatista akan harapan pembebasan dalam uap kopi Javaro itu menjadi melunak. Bau itu menyuluk dalam tarian permainan anak-anak petani kopi. Di ladang-ladang kopi, anak-anak semat-menyemat bunga kopi pada telinga. Saat itu, cangkir-cangkir kopi murni meleleh, merembes ke segala ceruk dan lekuk semesta seraya mengapungkan angin dan pena yang terus menyulam kata-kata, tentang sekelebat harapan pembebasan di sisah uap kopi Javaro.

Sumber Naskah

1. Sajak Aleksander Aur: Sekelebat Harapan dalam Uap Kopi

2. Kopi Javaro: http://javarocoffee.blogspot.com/

3. Pemberontakan Zapatista: http://id.wikipedia.org/wiki/Tentara_Pembebasan_Nasional_Zapatista#Sejarah_singkat