Suatu ketika, bersama kawanku, kami berkisah tentang antara sesuatu kelamin. Ya, tentang antara sesuatu kelamin. Antara sesuatu kelamin laki-laki dan sesuatu kelamin perempuan. Antara sesuatu Kelamin jantan dan sesuatu kelamin betina. Tetapi kisah kami menjadi buntu dan bahkan berhenti, ketika seseorang, entah siapa, mendatangi meja kami dan memotong dengan tanya:
”Apa yang sedang kalian diskusikan, bukankah itu dosa?
”Kami, tidak sedang berkisah tentang kelamin” jawabku.
”Aku mendengarnya, aku mendengarnya dengan jelas”
”Apa yang anda dengarkan?” tanya kawanku.
”Kalian sedang mengumbar nafsu, kalian berbicara tentang ini” sambil jarinya menunjuk ke arah selangkangannya.
”Kami tidak sedang berkisah tentang itu” tepisku.
”Kalau bukan tentang ini, lalu tentang apa. Apakah saya tidak salah dengar?”
”Kami sedang berkisah tentang antara sesuatu kelamin, dan bukan tentang kelamin”
”Kalian telah melakukan dosa besar” Dia bersumpah, sambil membanting tangannya ke atas meja. Lalu pergi.
”Kami diselamatkan” kata temanku dengan nada berteriak, sambil membersihkan tumpahan kopi di sisi sebelah meja dan sebagian kaki celananya. Aku tersenyum, sambil memungut serpih pecahan gelas yang berantakan di kaki kursi.
Setumpuk tisu basah, beberapa potong kue dan serpihan gelas kopi kami tumpukkan di tengah meja. Kami melanjutkan diskusi. Tapi bukan tentang antara sesuatu kelamin lagi. Kami berkisah tentang setumpukan makna yang menjadi korban dari ketidakpahaman manusia. Kami berkisah tentang serpih-serpih gelas. Berkisah tentang tisu-tisu basah. Berkisah tentang kue-kue. Tetapi kisah kami menjadi buntu dan bahkan berhenti, ketika seseorang, pelayan kafe, mendatangi meja kami dan mengucapkan kata permisi:
”Maaf, saya bersihkan dulu mejanya”
”Jangan dulu, biarkan dulu untuk beberapa saat” pinta kawanku.
”Maaf mas, sampah harus dibersihkan, biar kelihatan bersih”
”Ya, nanti kami sendiri yang membuangnya” aku pun memohon.
”Tidak apa-apa mas, saya saja” dengan satu kali tarikan kain basah saja, sampah itu jatuh ke tempatnya. Sang pelayan pun pergi menyisahkan senyum.
Beberapa saat kami menyepi. Mata kami saling menatap. Tak ada kata yang terlontar dari mulut-mulut kami. Kami menjadi seperti orang bisu. Tapi tidak di ruang dada dan kepala kami. Entah apa yang diikirkan kawanku, aku tidak tahu. Yang kutahu, bahwa aku sedang memikirkan memikirkan tentang sesuatu. Tentang sesuatu yang disebut sebagai dosa dan tentang sesuatu yang disebut sebagai sampah.
”Kawan, lihatlah wajah-wajah kita” Pecah sunyiku. Kawanku mengajakku untuk berkaca.
”Di mana kawan?”
”Di sini, di atas meja ini”
Di atas meja itu kami berkaca. Wajah-wajah kami terang benderang. Rambutku panjang sebahu. Bibirku tipis, hidungku bangir, kulitku putih. Aku bertanya kepada diriku sendiri ”Apakah aku seorang perempuan? Dan kawanku. Kulitnya gelap, rambutnya tipis, di atas janggutnya terdapat bibir yang tebal. Ia sedang merokok, asapnya mengepul-ngepul.
”Apakah engkau seorang laki-laki?” tanyaku
”Jangan kau tanyakan itu, mari kita lanjutkan kisah tentang sesuatu antara kelamin laki-laki dan kelamin perempuan” ajakku.
”Jangan di sini, mari kita menyepi” pintanya.
Kami pun pergi, sebelum ada yang menghancurkan meja kaca di kafe itu. Sebelum ada yang mengatakan kami sudah sedang berkisah tentang dosa. Sebelum ada yang menjadikan kami sebagai sampah. Sebelum ada yang membersihkan kami dari ingatan dan kenangan mereka. Di ruang sepi, kami lanjut berkisah tentang sesuatu antara kelamin laki-laki dan perempuan, antara kelamin jantan dan betina.
Di ruang sepi itu kami temukan sebuah dahaga yang lebih. Yang “lebih” itu tidak hanya kesempurnaan tetapi juga ketidaksempurnaan, kepuasan serentak juga ketidakpuasan, kenikmatan tetapi juga kesengsaraan. Sebuah pertarungan yang terjadi secara hormonal rupa-rupanya hanya merupakan sebuah kenikmatan, kepuasan yang lolos dari pertentangan dasyat dalam ruang imaginasi.
Dalam ruang imajinasi paradoks itu berlangsung terus. Kesempurnaan melawan ketidaksempurnaan, kepuasan melawan keterbatasan, kelemahan melawan kekuatan dan seterusnya. Paradoks ini membuat ruang imajinasi kami menjadi senantiasa hidup.
”Apakah kami berdosa”
”Apakah kami sampah”











































