Dan dalam tataran tertinggi sebuah kata menjadi bermakna manakala kata dijadikan sebagai doa. Ber-kata berarti berdoa.

Prakata

Makna: sengsara, wafat, kebangkitan , hidup dalam diam. Selalu lahir dan terus Lahir, di ujung lidah, di ujung pena. Kau beri rasa . Kau beri warna. Pembebasan . Ketika Kata sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita, sudah sejak itu kita harus memberi kesaksian tentannya. Tentang makna.

SangKata

Kata menjadi bermakna, manakala digunakan untuk suatu tujuan yang benar karena dapat dipertanggungjawabkan secara akal sehat. Digunakan untuk sesuatu yang baik secara moral karena mengandung sebuah keyakinan. Dalam tataran paling sederhana kata menjadi bermakna mankala kita mengatakan sesuatu yang salah sebagai salah, dan benar sebagai yang benar. Dan dalam tataran tertinggi sebuah kata menjadi bermakna manakala kata dijadikan sebagai doa. Ber-kata berarti berdoa.

Dalam tataran tertinggi inilah, pada dan dalam melalui kata kita temukan keselamatan. Mengapa tidak? Seluruh bangunan keyakinan, kepercayaan kepada segala kehidupan adalah karena kita meyakini sungguh bahwa apa yang ter-kata-kan sebagai sesuatu yang benar. Kata yang ter-kata-kan sebagai sebagai kata yang tak terbantahkan kebenarannya, karena kata sejatinya lahir dari rahim yang suci, untuk mengatakan, mengungkapkan dan bahkan mengetahui, mengalami dan mempertahankan kebenaran.

Dan karena keyakinan itulah aku percaya bahwa ada sesuatu yang absolute, sesuatu yang melampaui sekedar kata itu sendiri. Aku menyebutnya sebagai Sang Kata. Dan ini, bagiku, tidak terbantahkan. Karena Sang Kata, tidak hanya hanya menjadi jiwa kehidupan itu sendiri, tetapi kata itulah keselamatan.

Prasangka

Namun, di sisi yang lain kata kata bisa menjadi senjata, sesuatu yang mengerikan, menakutkan karena bisa membunuh. Jika, disebutkan bahwa ‘kata itu tajam’ atau ‘kata itu kejam’ lantaran pada dan dalam melalui kata kita balutkan kepentingan dan maksud yang tidak sehat. Ketakbermaknaan kata menjadi nyata, manakala kita menggunakan kata sebagai dusta. Ber-kata berarti berdusta.

Pada dan dalam melalui kata kita temukan kehancuran. Mengapa tidak? Karena hanya pada dan dalam melalui kata yang sama, seluruh bangunan keyakinan kepercayaan pada kehidupan roboh seketika itu juga. Karena kata, kehidupan menjadi porak poranda. Kematian karena aneka penindasan dan penjajahan, baik yang dilakukan secara fisik dalam perang maupun secara mental dalam ideology dan aliran radikal dan otoriter sejatinya bersumber pada kata yang tidak bermakna.

Aku menyebutnya sebagai Prasangka. Prasangka tidak sekadar pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) seperti yang didefinisikan Kamus Besar Bahasa Indoenesia. Prasangka adalah pengabaian atas kebenaran yang seharusnya di-kata-kan dalam kata. Prasangka mereduksi kata menjadi hanya sekedar alat. Padahal sejatinya kata itu pada dirinya sendiri adalah bermakna kebenaran.

AkhirulKata

Karena Kata mau menjadi daging, maka dia merelakan dirinya untuk mati. Sebab baginya menjadi Kata itu tidak mudah, karena harus menempuh sebuah proses yang panjang. Prosesi kesengsaraan harus ditempuh penuh peluh dan darah. Jalan yang ditempuhnya adalah yang terbentang dari tempat dia bersimpuh di Getsemani sampai pada puncak Kalvari, selanjutnya dari puncak Kalvari sampai pada tiga hari setelah dia dimakamkan. Dialah Sang Kata.

sumber gambar:  3.bp.blogspot.com/_niBIAoDYESs/S…dr01.jpg

About these ads