Apakah itu politik? Jika aku mau jujur, sejauh yang aku tahu, politik adalah panggung pengabdian. Lantaran itu, siapa pun atau lembaga mana pun yang berkecimpung dalam dunia politik dipastikan terpanggil untuk mengabdi. Mengabdi bukan pertama-tama untuk diri mereka sendiri, tetapi pertama dan terutama adalah untuk masyarakat, warga bangsa demi tujuan yang sangat mulia: kesejahteraan.
Seharusnya aku dan anda sudah cukup puas dengan jawaban ini. Karena jawaban ini sudah cukup menjadi rel juga arah dan tujuan bagaimana seharusnya berpolitik dan seorang politisi berkiprah dalam dunia tersebut. Namun, jika pertanyaan yang sama terlontar untuk kesekian kalinya, seperti sedang menodongku dan anda untuk menjawab dengan jawaban yang lain, maka bagiku, pertanyaan yang sama sudah menjadi tidak lazim. Jika jawabannya adalah bukan sebagai gelanggang pengabdian, lantas bagaimana aku harus menjawabnya.
Sebagai warga bangsa yang kesehariannya turun ke ladang, atau mendayung perahu ke laut, atau mencuci pakaian tuan dan nyonya, atau melacur diri di malam hari, atau memikul bata membangun rumah, atau mengayuh sepeda mengantar penumpang, dan atau mengemis di jalanan kota, pertanyaan tentang ’apakah itu politik?’ bukan hanya membutakan isi kepalaku, tetapi juga mengunci pintu nuraniku. Sebagai warga bangsa, aku lelah.
Namun, dalam kelelahan aku masih mencoba untuk bangun dan sadar. Aku masuh mau mencoba untuk untuk menjawab. Lantaran karena jawaban yang harus dijawab adalah tentang sesuatu yang tidak seperti yang aku jawab, maka yang terjadi adalah mereka-reka, menebak-nebak. Dalam ketidakpastian jawaban itu aku menemukan jawabannya, bahwa sesungguhnya selain sebagai gelanggang pengabdian, politik juga adalah sebuah matematik(it)a.
Sebagai misal, aku punya sebuah contoh soal. Berapakah hasil akhir dari soal berikut ini: Negeri lentur demokrasi diselingkuh, tambah tiada hukum dipatuh, bual dan gertak sambal pelipur beradu. Ditambah lapar yang berteriak minta makan dan jumlah mereka yang mengemis di jalan-jalan. Ditambah lagi bencana mengguncang dan kematian yang terkubur tanpa nisan
ditambah pekik merdeka di ujung sana ujung sini yang seperti bara dalam sekam. Ditambah harga bahan bakar yang mahal dengan mulut bual penuh janji kesejahteraan?
Hasilnya sama dengan aku ditambah kau: KITA. Inilah matematik(it)a politik di tanah air ini. Dalam contoh soal yang sama, jika rumusnya diganti dengan perkalian, pengurangan dan atau pembagian, hasilnya akan tetap sama: KITA. Apakah itu politik? Sudah barang tentu sebagai warga bangsa, aku akan menjawab KAU, dan jika KAU balik bertanya KAU? Maka aku akan menjawabnya dengan kata KITA, dan jika KAU kebingungan karena aku menjawab KITA. Di situlah hakikatnya politik dalam teori matematik(it)a.










































