
Thomas Hobbes, 1588 – 1679, Malmesbury – Hardwick. Hobbes menulis Leviathan (1651) ekoran muhasabahnya terhadap perang 30 tahun di era emperisme, yang di sana lahirnya tokoh-tokoh perintis sains moden, seperti Newton, Galileo, Kepler, Kopernigk, dll. Leviathan itu, merupakan cerapannya terhadap dorongan survival para egois dalam penglibatannya pada negara. Justeru, ditemui dalam karya besar filsafat politik ini, konsep pemeliharaan diri dan menjaga kepentingan peribadi. Hobbes sendiri, tidak takut pada tirani, sebaleknya lebih gusarkan anarkisme. Dari satu sudut, Leviathan ada bau-bau machiavellian, namun tetap ada perbezaannya. Pada Leviathan, Hobbes menekankan sistem yang ampuh, serta kecerdasan para para/politikus. Sebab itu, dikatakan pemikiran Hobbes ini telah mengawali sistem pemikiran politik secara sistematik. (Keterangan naskah: http://selak.blogspot.com/2010/02/filsafat-politik-buku-buku-besar.html)
Kupingmu merah ketika seorang politisi melontarkan kata ’Bangsat’. Dan hidungmu mengembang manakala seorang tokoh politik yang lain mengatakan ’Apa yang anda buat benar, karena sejatinya sebuah kebijakan tidak pernah salah’. Di hadapan umpatan reaksi kita tegas bersikap; pun di hadapan sanjungan kita bersikap yang sama. Harus. Seolah-olah politik itu hanya berkutat di ranah hitam putih, benar salah.
Namun, bukan pula politik itu harus berada di wilayah abu-abu. Anda dan juga aku, mungkin agak malu-malu kucing ketika seorang politisi mengajak politisi yang lain berunding ’Sekarang kita koalisi atau kolusi”. Pun bisa saja terjadi sampai kepada anda dan aku, semisal menjadi sangat bernafsu, dengan berpura-pura tidak mau ketika diajak menandatangani sepucuk surat tabu ”koorporasi korupsi”. Seolah-olah politik itu lentur tarik ulur. Selalu bermain di wilayah bimbang nan ragu.
Menjadi lebih pilu jika politik itu dikurung. Jika dikekang kurung. Sumpal mulut. Segala suara dibeku. Kau tahu apa yang bakal terjadi? Akan kumat umpat dan memaki. Kebinatangan politisi mewujut dalam kata bahasa bangsa(t). Pun akan menjadi bangsa(t) jika sumpal mulut dibuka, lantas melontar umpat tanpa ada cita rasa bahasa. Dan nan menyakitkan, jika sudah bebas isyarat kurung. Segala berita menjadi perlu. Kabar burung pun disambut. Tetapi yang terjadi adalah tetap bangsa(t) bukan kebangsawanan.
Lihatlah sekumpulan binatang yang dibawa para politisi jalanan. Ada kerbau SiBuYa, ada babi Budiono, ada Cicak KPK, ada Buaya Polisi, ada pula Gurita keluarga Cikeas. Lantaran itu, antara kebangsawanan dan kebangsa(t)an tidak ada beda. Sampai kadang aku bertanya: Politik dan politisi Indonesia. Apakah mereka bersikap kebangsawanankah ataukah kebangsa(t)an?
Karena itulah politik dan politisi lantas didefinisikan. Politik itu bobrok. Politik itu kotor. Politik itu menjijikkan. Politik itu nafsu. Politik itu penipuan. Politik itu culas. Politik itu garang. Politik itu permaian. Politik itu gombal. Politik itu seni. Politik itu cita rasa. Politik itu dedemit. Politik itu pocong. Politik itu drakula. Politik itu malaikat. Politik itu Tuhan. Politik itu penguasa. Politik itu rakyat. Politik itu pejabat. Politik itu gembel. Politik itu orang. Politik itu sekumpulan orang.
Politisi itu pelacur. Politisi itu setan. Politisi itu loba. Politisi itu santun. Politisi itu dewa penyelamat. Politisi itu dewa pencabut nyawa. Politisi itu kentut. Politisi itu omong besar. Politisi itu tepat waktu. Politisi itu tidur. Politisi itu pengemis. Politisi itu pelayan. Politisi pengabdi. Politisi itu pemberontak. Politisi pengayom. Politisi itu pembela kebenaran. Politisi itu sialan. Politisi itu amnesia.
Tentang politik dan politisi dalam seabrek definisi serupa ini sudah sedang dan masih akan terbentang dari, sudah sejak, polis di Athena sampai ke altar kota paling mutakhir. Dari Aristoles entah sampai siapa. Dalam kebingungan definisi serupa ini, politik sejatinya ditarik kembali ke posisinya yang paling arkhaik. Dan politisi seharusnya tahu menempatkan jati diri dengan perilaku politiknya. Seperti yang diakatakan Aristoteles bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Dalam definisi itu politik adalah panggung pengabdian dan politisi adalah pengabdi yang mengarahkan bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik, ukan sebaliknya membuat bangsa ini menjadi bangsa(t).
Sumber gambar: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Destruction_of_Leviathan.png









































